Selasa, 02 Januari 2024
PT Equityworld Futures Semarang – Mata Uang Asia Turun dalam Lemahnya PMI China; Dolar Stabil sebelum Rilis Data Penting
PT Equityworld Futures Semarang – Mayoritas mata uang Asia turun pada hari Selasa (02/01), menandai awal yang lemah untuk tahun ini setelah data ekonomi China yang suram terus bertambah, sementara dolar stabil untuk mengantisipasi lebih banyak data penting AS minggu ini.
Sentimen terhadap pasar Asia juga ditekan oleh gempa bumi dahsyat di Jepang tengah, yang menghancurkan sejumlah rumah dan mengganggu jalur kereta api di wilayah tersebut. Sementara pasar Jepang ditutup libur selama seminggu, yen melemah 0,5% dalam volume perdagangan yang tipis.
Yuan China turun setelah data PMI yang lemah
Yuan China termasuk di antara yang berkinerja terburuk hari ini, turun 0,4% karena data purchasing managers index resmi menunjukkan kemerosotan lebih lanjut aktivitas manufaktur.
Sementara survei swasta menampilkan beberapa kekuatan di sektor ini, pertumbuhan masih tetap moderat, sedangkan lapangan kerja dan inflasi gagal meningkat secara substansial. Angka-angka tersebut mengindikasikan sedikit tanda-tanda pemulihan dalam aktivitas ekonomi China pada akhir 2023.
PBOC menetapkan kurs harian yang sedikit lebih tinggi untuk yuan, menyusul data yang lemah. Tetapi langkah tersebut hanya sedikit membendung kerugian dalam mata uangnya.
Yuan termasuk di antara mata uang Asia dengan kinerja terburuk di tahun 2023, turun lebih dari 3% gegara pemulihan ekonomi China pasca-COVID sebagian besar gagal terwujud.
Kelemahan di China juga mengganggu sentimen terhadap pasar Asia yang lebih luas, mengingat status negara tersebut sebagai pusat perdagangan utama di kawasan ini.
Mata uang Asia yang lebih luas berada dalam range flat hingga turun, dengan sebagian besar fokus pada pemangkasan suku bunga awal oleh Federal Reserve pada tahun 2024. Meskipun spekulasi tentang skenario tersebut telah memicu beberapa peningkatan di pasar Asia hingga akhir tahun 2023, sebagian besar mata uang akhiri tahun lalu dengan tidak banyak berubah.
Dolar Australia bertambah kurang dari 0,1% pada hari Selasa, sementara won Korea Selatan turun 0,7% menyusul data PMI manufaktur dan perdagangan yang lemah.
Sentimen terhadap pasar Korea Selatan juga diguncang oleh penusukan terhadap pemimpin oposisi Partai Demokrat Lee Jae-myung selama konferensi pers. Namun laporan selanjutnya mengungkap bahwa Lee dalam kondisi stabil.
Dolar Singapura turun 0,2% bahkan ketika data menunjukkan ekonomi negara kepulauan itu tumbuh lebih baik dari yang diharapkan pada kuartal keempat 2024. Tetapi pertumbuhan secara keseluruhan masih diredam, dengan pelemahan di China kemungkinan akan memberikan hambatan yang berkelanjutan.
Dolar beranjak naik setelah turun di tahun 2023, nonfarm payrolls ditunggu
Indeks dolar dan indeks dolar berjangka masing-masing naik sekitar 0,2% di perdagangan Asia pada hari Selasa, sedikit pulih dari level terendah lima bulan setelah greenback merosot sekitar 2% pada tahun 2023.
Dolar tertekan utamanya oleh spekulasi bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga lebih awal pada tahun 2024. Fedwatch Tool dari CME mengindikasi traders memperkirakan ada lebih dari 70% peluang untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Maret 2024.
Namun hingga rapat Maret, pasar masih memiliki rentetan angka ekonomi utama yang harus dihadapi. Nonfarm payrolls untuk bulan Desember akan dirilis pada hari Jumat ini, dan secara luas diperkirakan akan mempengaruhi kebijakan moneter.
Meskipun pasar tenaga kerja tampak mendingin dalam beberapa bulan terakhir, pasar masih berjalan relatif lebih panas daripada yang diinginkan oleh Fed. Inflasi juga tetap berada di atas target tahunan bank sentral sebesar 2%, meskipun menurun tajam hingga tahun 2023.
Pejabat Fed memperingatkan pada bulan Desember bahwa bank sedang mencari lebih banyak tanda-tanda pendinginan inflasi dan ketenagakerjaan, dan ekspektasi atas penurunan suku bunga awal yang terlalu optimis.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar