Kamis, 25 Januari 2024
PT Equityworld Futures Semarang – Bursa Asia Melemah saat Rebound Saham China Terhenti, Kerugian Jepang Semakin Dalam
PT Equityworld Futures Semarang – Mayoritas bursa saham Asia turun pada hari Jumat (26/01) saat rebound yang dipicu oleh stimulus saham-saham China terhenti, sementara Nikkei 225 Jepang melemah lebih jauh dari level tertinggi 34 tahun seiring meningkatnya spekulasi terhadap pivot perubahan kebijakan Bank of Japan mendorong lebih banyak aksi profit taking.
Kewaspadaan sebelum data inflasi utama AS yang akan terbit hari ini, dan rapat Federal Reserve yang akan dirilis minggu depan juga membuat investor tetap waspada terhadap aset-aset yang didorong oleh risiko. Hal ini membuat pasar regional sebagian besar abaikan sinyal positif dari capaian rekor tertinggi semalam di Wall Street.
Rebound saham China mendingin, PMI jadi fokus
Rebound di pasar China tampaknya telah kehabisan tenaga, dengan indeks Shanghai Shenzhen CSI 300 dan Shanghai Composite turun sedikit pada hari Jumat. Kedua indeks rebound kuat dari posisi terendah lima dan empat tahun minggu ini setelah People's Bank of China secara tidak terduga memotong rasio persyaratan cadangan untuk bank-bank lokal, melepas likuiditas sekitar 2 triliun yuan ($140 milyar).
Kedua indeks acuan China tersebut masing-masing naik lebih dari 2% minggu ini - kinerja mingguan terbaik sejak Juli 2023.
Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,3%. Saham Tencent Holdings Ltd (HK:0700) berada di antara saham-saham unggulan dalam indeks tersebut setelah Citibank memangkas target harga raksasa internet tersebut, memberi warning bahwa perlambatan dalam industri video game di China kemungkinan akan mengurangi pendapatan.
Hang Seng diperkirakan akan naik lebih dari 5% minggu ini, usai indeks rebound dari level terendah dalam 15 bulan terakhir.
Namun analis mempertanyakan seberapa besar dukungan ekonomi yang akan diberikan oleh stimulus moneter terhadap perekonomian China, mengingat bahwa belanja konsumen dan bisnis di negara ini masih lemah. Aktivitas bisnis juga tidak meningkat secara substansial selama tahun lalu.
Data purchasing managers index untuk bulan Januari akan dirilis minggu depan, dan diharapkan bisa memberikan lebih banyak petunjuk mengenai aktivitas bisnis di awal tahun baru.
Saham Jepang melemah karena aksi profit taking, inflasi mendingin lebih lanjut
Indeks Nikkei 225 Jepang berkinerja terburuk untuk hari ini, melemah 0,9%, sementara indeks TOPIX yang lebih luas turun 0,8%.
Kedua indeks akan mengakhiri minggu ini dengan sedikit turun, mengalami banyaknya aksi profit taking setelah melonjak ke level tertinggi 34 tahun di awal minggu.
Pelemahan saham-saham Jepang terjadi menyusul sinyal-sinyal yang agak hawkish dari BOJ, khususnya Gubernur Kazuo Ueda. Ueda mengatakan bahwa meskipun bank akan mempertahankan kebijakan ultra-dovish dalam waktu dekat, akhir dari suku bunga ultra-rendah bank sudah terlihat, terutama karena inflasi bergerak lebih dekat ke target tahunan 2%.
Data inflasi dari Tokyo yang lebih lemah dari perkiraan memperkuat pendapat ini pada hari Jumat, dengan inflasi inti turun jauh di bawah 2% untuk pertama kalinya dalam lebih dari 20 bulan.
Kendati waktu dari potensi pivot BOJ masih belum pasti, setiap kenaikan suku bunga Jepang menandakan berakhirnya hampir satu dekade kondisi moneter yang sangat longgar yang dinikmati oleh saham-saham lokal. BOJ yang dovish adalah pendorong utama rally saham Jepang yang luar biasa hingga tahun 2023.
Pasar Asia yang lebih luas mixed. Indeks Asia Tenggara mencatat penurunan tajam, di mana IHSG memimpin kerugian sempat jatuh 1%.
Indeks KOSPI Korea Selatan merupakan yang berbeda pada hari ini, melonjak lebih dari 1% usai rebound dari level terendah dua bulan yang dicapai pada awal Januari.
Pasar India dan Australia tutup.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar