Kamis, 26 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Nikkei Menguat, Real Estat dan Perbankan Pimpin Kenaikan

 

PT Equityworld Futures Semarang – Saham-saham Jepang ditutup menguat pada Kamis(26/2), ditopang kenaikan di sektor real estat, perbankan, dan tekstil yang mendorong indeks utama bertahan di zona hijau hingga akhir sesi. Penguatan ini juga terjadi saat pasar terlihat lebih tenang, tercermin dari turunnya indeks volatilitas Nikkei yang mengindikasikan meredanya ketegangan jangka pendek.

Di level indeks, Nikkei 225 berakhir lebih tinggi, dengan penguatan dipimpin oleh beberapa saham berkapitalisasi besar. NEC mencatat lonjakan paling menonjol, disusul Recruit Holdings dan M3, yang sama-sama menguat signifikan dan membantu menopang performa indeks secara keseluruhan.

Meski begitu, pasar tidak bergerak seragam. Sejumlah saham justru melemah dan menjadi pemberat, termasuk Taiyo Yuden, Sumitomo Electric Industries, dan Takashimaya. Namun secara umum, jumlah saham yang naik masih lebih banyak daripada yang turun di Bursa Efek Tokyo, menandakan bias sentimen harian yang cenderung positif.

Dari pasar lain, pergerakan komoditas cenderung stabil dengan minyak menguat tipis, sementara emas berjangka melemah ringan. Di pasar valuta asing, USD/JPY bergerak turun, sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS berjangka yang menunjukkan greenback sedikit kehilangan tenaga pada sesi tersebut.

PT Equityworld Futures Semarang 

PT Equityworld Futures Semarang – USD Stabil, Risiko Tarif & Geneva Jadi Penentu

 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS bergerak stabil pada Kamis setelah sempat melemah, seiring sentimen risiko membaik usai laporan kinerja Nvidia yang solid. Pada 03:00 ET (08:00 GMT), Dollar Index (DXY) tercatat naik tipis ke sekitar 97,650, meski secara mingguan masih mengarah pada penurunan sekitar 0,2%.

Dorongan awal datang dari Nvidia yang melaporkan penjualan kuartal Januari melampaui ekspektasi dan memberikan proyeksi pendapatan kuartal berjalan di atas perkiraan pasar. Dampaknya, permintaan terhadap aset safe haven—termasuk dolar—sedikit mereda karena risk appetite membaik, walau respons pasar global tetap terukur.

Namun fokus utama pelaku pasar kini beralih ke arah kebijakan tarif AS pasca putusan Mahkamah Agung (20 Februari) yang menggugurkan “emergency tariffs” Trump. USTR Jamieson Greer menyebut tarif untuk sejumlah negara berpotensi naik ke 15% atau lebih dari tarif global 10% yang baru diberlakukan, meski detail negara/mitra dagang belum diungkap. Ketidakjelasan ini menjaga volatilitas USD tetap hidup.

Di sisi geopolitik, pasar juga mencermati pertemuan pejabat AS–Iran di Jenewa yang berfokus pada negosiasi nuklir. Potensi eskalasi tetap menjadi “wild card” utama: jika tensi meningkat, dolar berpeluang kembali mendapat dorongan broad-based sebagai safe haven, terutama karena kalender data AS relatif sepi.

Di Eropa, EUR/USD terkoreksi tipis ke sekitar 1,1798, sementara pasar menimbang rilis keyakinan konsumen dan inflasi—yang dinilai belum cukup untuk mengubah ekspektasi bahwa ECB cenderung bertahan dengan sikap kebijakan saat ini. Di Inggris, GBP/USD melemah ke 1,3523 meski survei CBI menunjukkan sentimen jasa membaik, mengindikasikan sterling masih sulit memimpin tanpa katalis yang lebih kuat.

Di Asia, USD/JPY turun ke sekitar 156,01 setelah Gubernur BOJ Kazuo Ueda menegaskan bank sentral akan mencermati data pada rapat Maret (18–19) dan April (27–28), membuka peluang kenaikan suku bunga bila tren inflasi dan upah tetap kuat—mendukung penguatan yen.

Sementara itu, USD/CNY melemah ke sekitar 6,8392 (mendekati level terkuat multi-bulan bagi yuan) menjelang pertemuan tahunan National People’s Congress yang memicu spekulasi dukungan kebijakan dan sinyal stimulus. Di Antipodean, AUD/USD turun tipis ke 0,7114 dan NZD/USD ke 0,5988, mengikuti nada pasar yang masih menunggu kepastian headline tarif AS.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 24 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Geopolitik Dorong Minyak Dekati Tertinggi 7 Bulan

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak menguat pada Selasa (24/2) dan mendekati level tertinggi dalam tujuh bulan, ketika pelaku pasar menilai potensi risiko pasokan akibat kemungkinan eskalasi militer menjelang putaran baru pembicaraan nuklir AS–Iran. Kenaikan didorong oleh meningkatnya premi risiko, meski belum ada gangguan pasokan yang terjadi secara nyata.

Kontrak berjangka Brent naik 48 sen (0,7%) ke US$71,97 per barel pada pukul 06.58 GMT, sementara WTI menguat 45 sen (0,7%) ke US$66,76 per barel. Brent berada di level terkuat sejak 31 Juli, sedangkan WTI mencatat posisi tertinggi sejak 1 Agustus.

Sejumlah analis menilai penggerak utama kenaikan kali ini adalah faktor geopolitik. Phillip Nova menyebut kekuatan harga minyak saat ini lebih banyak ditopang oleh antisipasi, bukan kehilangan pasokan yang sudah terjadi. Dengan kata lain, pasar sedang “memasukkan” skenario risiko terburuk ke dalam harga.

Putaran ketiga perundingan nuklir AS–Iran dijadwalkan berlangsung Kamis di Jenewa, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Oman. Pemerintah AS mendorong Iran untuk menghentikan program nuklirnya, sementara Iran menolak dan menegaskan tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir. Ketegangan ini membuat sentimen pasar sangat reaktif terhadap perkembangan diplomasi dan retorika.

Kekhawatiran eskalasi meningkat setelah Departemen Luar Negeri AS menarik personel non-esensial beserta keluarga dari Kedutaan AS di Beirut. Di saat yang sama, Presiden Donald Trump kembali memperingatkan bahwa akan menjadi “hari yang sangat buruk” bagi Iran jika kesepakatan tidak tercapai—pernyataan yang memperkuat persepsi risiko konflik.

Dari sisi teknikal, OANDA menilai faktor geopolitik kemungkinan tetap menjadi pendorong utama harga minyak dalam jangka pendek. Untuk WTI, dinamika bullish jangka pendek masih terlihat selama harga bertahan di atas rata-rata bergerak 20 hari, dengan area sekitar US$63,90 dipandang sebagai penopang penting.

Di luar geopolitik, pasar juga memantau kebijakan perdagangan AS. Trump memperingatkan negara-negara agar tidak menarik diri dari kesepakatan dagang yang sudah dinegosiasikan, dan membuka kemungkinan penerapan tarif lebih tinggi melalui dasar hukum lain.

Analis UOB menilai ketidakpastian tarif berisiko menekan prospek pertumbuhan global dan permintaan energi, sehingga membuat harga minyak sensitif terhadap perubahan sentimen—diapit antara premi geopolitik dan kekhawatiran permintaan.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 23 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Saham Eropa Dibuka Melemah, Tarif Baru Trump Tekan Sentimen

 

PT Equityworld Futures Semarang – Bursa saham Eropa memulai pekan di zona merah pada Senin (23/2) saat pasar global merespons kebijakan tarif terbaru Presiden AS Donald Trump.

Indeks pan-Eropa Stoxx 600 turun sekitar 0,3% pada awal perdagangan di London, dengan mayoritas sektor dan bursa utama ikut melemah.

Pelemahan ini terjadi setelah pasar Eropa sempat menguat pada akhir pekan lalu, dipicu putusan Mahkamah Agung AS yang menolak sebagian besar tarif “resiprokal” Trump. Namun, optimisme tersebut cepat memudar ketika Trump mengumumkan pada akhir pekan bahwa ia akan menerapkan tarif global 15% sebagai tarif “payung”, naik dari 10%.

Trump menyatakan tarif baru itu berlaku segera dan memberi sinyal masih ada kemungkinan bea tambahan berikutnya. Pernyataan ini membuat investor kembali khawatir terhadap risiko perang dagang, potensi aksi balasan dari mitra dagang, serta dampaknya terhadap rantai pasok dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan ketidakpastian yang meningkat, pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan menunggu kejelasan detail kebijakan serta respons negara-negara lain. Fokus investor kini tertuju pada arah negosiasi dagang ke depan dan apakah tarif baru ini akan memukul prospek kinerja perusahaan-perusahaan global yang sensitif terhadap perdagangan internasional.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 19 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Konsolidasi, Geopolitik Jadi Pemicu Berikutnya

Dollar advances against peers after strong U.S. economic data 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS menguat pada paruh kedua perdagangan Rabu (19/22), lalu bergerak mendatar pada Kamis pagi setelah pasar mencerna nada hawkish dari risalah rapat The Fed. Fokus berikutnya tertuju pada rilis Goods Trade Balance AS dan Initial Jobless Claims, sementara pelaku pasar tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik.

Risalah The Fed menegaskan bank sentral tidak bergerak dengan “bias satu arah”. Sejumlah pejabat disebut ingin bahasa kebijakan yang lebih dua sisi, termasuk membuka kemungkinan kenaikan suku bunga bila inflasi kembali bertahan di atas target. Dampaknya, USD Index sempat naik lebih dari 0,5% pada Rabu dan menyentuh area 97,80, sebelum stabil di sekitar 97,70.

Sorotan geopolitik ikut menguat setelah laporan media AS menyebut militer AS siap untuk kemungkinan aksi terhadap Iran secepat akhir pekan. Ketegangan ini menjadi pendorong aset safe haven: emas tetap kuat di atas $5.000, sementara pasar FX cenderung lebih berhati-hati.

Dari Australia, data tenaga kerja menunjukkan pengangguran tetap 4,1% pada Januari (lebih baik dari perkiraan 4,2%). Meski kenaikan jumlah pekerjaan +17,8K sedikit di bawah estimasi, AUD/USD tetap menguat dan bertahan di atas 0,7050 karena pasar menilai kondisi tenaga kerja masih relatif solid.

Di Selandia Baru, komentar gubernur baru RBNZ yang menegaskan kebijakan akan disesuaikan jika outlook inflasi berubah membantu NZD/USD rebound setelah jatuh lebih dari 1% sehari sebelumnya. Pair ini naik kembali ke sekitar 0,5980.

Sementara itu di mayor pairs, EUR/USD sempat tertekan akibat penguatan dolar pada Rabu, lalu mencoba pulih ke area 1,1800. GBP/USD juga sempat menyentuh level terendah empat pekan di sekitar 1,3480 sebelum kembali ke area 1,3500, sedangkan USD/JPY melanjutkan kenaikan dan bertahan di sekitar 155,00.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 18 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Perak Stabil Naik, Pasar Menunggu Sinyal Cut Rate

Harga Perak Hari Ini: Perbedaan Perak Murni dan Heritage Antam LM, Mana  yang Paling Untung untuk Investasi? - Pikiran Rakyat Bengkulu 

PT Equityworld Futures Semarang – Perak menguat ke sekitar $74 per ons pada Rabu, menghentikan pelemahan dua sesi beruntun. Kenaikan ini didorong aksi dip-buying dan penataan posisi investor menjelang rilis FOMC Meeting Minutes dari pertemuan The Fed bulan Januari.

Pasar saat ini masih memperhitungkan kemungkinan beberapa kali pemangkasan suku bunga dalam tahun ini, sebuah latar yang umumnya mendukung aset yang tidak memberi imbal hasil (non-yielding) seperti perak. Namun, ekspektasi tersebut belum sepenuhnya “lurus”, karena arah kebijakan masih sangat bergantung pada data berikutnya.

Komentar terbaru pejabat bank sentral memberi sinyal bahwa suku bunga bisa ditahan lebih lama, meski peluang pemangkasan tambahan tetap terbuka bila inflasi terus bergerak menuju target 2%. Karena itu, minutes menjadi bahan penting untuk membaca seberapa kompak The Fed: cenderung menahan, atau mulai membuka ruang pelonggaran.

Selain minutes, pelaku pasar juga memantau komentar lanjutan pejabat The Fed dan data ekonomi AS pekan ini, terutama GDP dan core PCE, untuk mengukur kekuatan ekonomi sekaligus arah inflasi. Di sisi lain, penguatan dolar sebelumnya dan meredanya ketegangan geopolitik sempat menekan permintaan safe-haven, sementara likuiditas pasar tetap tipis karena sebagian bursa Asia libur Imlek.

Dampak ke market: jika minutes bernada hawkish (tahan suku bunga lebih lama), biasanya dolar menguat, sementara emas dan perak cenderung tertekan. Jika minutes bernada dovish (lebih dekat ke cut), dolar melemah dan emas–perak berpeluang menguat. Untuk oil, responsnya lebih campuran: dolar yang lebih kuat bisa menahan harga minyak, tetapi arah akhirnya sering ditentukan kombinasi sentimen risiko dan headline geopolitik.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 11 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Emas Menguat, Pasar Menunggu Data Kunci AS

Harga Emas Turun! Kapan Waktu yang Ideal Beli Emas Berdasarkan Weton? 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga emas naik pada Rabu(11/2) karena kombinasi klasik: dolar AS melemah dan yield obligasi AS turun, bikin emas jadi lebih menarik (karena biaya peluang pegang emas mengecil). Pemicu utamanya datang dari data penjualan ritel AS (core retail sales) yang lebih lemah, yang bikin pasar makin yakin ekonomi lagi mendingin dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed di 2026 tetap hidup—ini biasanya jadi bensin buat emas.

Selain faktor suku bunga, sentimen “safe haven” juga ikut nyala karena tensi geopolitik (AS–Iran) masih bikin pasar waspada, sementara pelaku pasar sekarang fokus nunggu rilis data tenaga kerja AS (Non-Farm Payrolls) sebagai penentu arah berikutnya: kalau data kerja melemah, peluang cut rate makin kebuka dan emas cenderung lanjut kuat.

Harga emas pada saat analisis ini adalah $5.101

- Beli jika harga bergerak di bawah $5.113

- Jual jika harga bergerak di bawah $5.087

 

Resistensi 2: $5,149

Resistensi 1: $5.123

 

Dukungan 1: $5,071

Dukungan 2: $5,045

Penafian

Artikel ini bersifat analitis dan bukan merupakan referensi definitif. Harap mempengaruhi pengaruh perkembangan fundamental dan teknikal dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi apa pun.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 10 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Setelah Drop, USD/CHF Masuk Mode Konsolidasi

 

PT Equityworld Futures Semarang – USD/CHF tertahan di sesi Eropa hari Selasa (10/2), seolah masuk mode “cooldown” setelah dua hari sebelumnya jatuh tajam. Kurs terakhir bergerak di sekitar 0,7673, naik tipis sekitar +0,10% hari ini—praktis masih di area 0,7657–0,7678 buat range harian.

Pasar kelihatan lagi konsolidasi: aksi jual dolar kemarin sudah “dibayar”, sekarang trader lebih pilih nunggu amunisi data dari AS—terutama Retail Sales yang rilis di sesi Amerika nanti. Setelah sederet sinyal tenaga kerja yang mendingin belakangan ini, data belanja konsumen bakal jadi petunjuk penting: ekonomi masih tahan banting atau mulai ngedrop.

Sementara itu, kalender data AS minggu ini lagi padat karena efek shutdown: Jobs Report Januari dijadwalkan keluar Rabu, 11 Februari 2026, dan CPI Januari keluar Jumat, 13 Februari 2026. Dua data ini biasanya langsung nge-shift ekspektasi suku bunga—yang ujungnya juga ngaruh ke arah USD dan pairing safe-haven kayak CHF.

Dari sisi Swiss, sentimen konsumen masih minus (belum masuk zona optimis). Data resmi terakhir yang dipublikasikan menyebut indeks sentimen konsumen Swiss di -31 (Desember 2025), menunjukkan mood rumah tangga masih hati-hati walau ada komponen tertentu yang membaik. 

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 09 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Sinyal Tenang dari Oman, Harga Minyak Ikut Turun

Harga Minyak Masih Tersandung Perang Dagang, Brent Naik Tipis 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak melemah lagi pada Senin (9/2), karena pasar mulai “ngebuang” premi risiko Timur Tengah setelah AS dan Iran sepakat melanjutkan pembicaraan tidak langsung soal program nuklir Teheran. Di sesi Eropa, tekanan ini terlihat jelas di kedua acuan utama.

Pada 09:27 GMT, Brent turun 24 sen (-0,3%) ke $67,62 per barel, sementara WTI turun 34 sen (-0,3%) ke $63,12. Angka ini menegaskan bahwa sentimen hari ini lebih condong ke “tensi mereda” ketimbang “pasokan bakal terganggu”.

Kunci ceritanya ada di Oman: hasil pembicaraan Jumat disebut “positif” oleh kedua pihak, sehingga kekhawatiran pasar bahwa negosiasi gagal dan memicu konflik terbuka jadi sedikit menurun. Meski AS masih menambah kekuatan militer di kawasan, investor membaca jalur diplomasi masih hidup—dan itu cukup untuk menekan harga jangka pendek.

Tapi pasar tetap sadar, risikonya belum hilang. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia lewat Selat Hormuz—kalau jalur ini terganggu, dampaknya bisa langsung terasa ke harga. Apalagi Menlu Iran juga sempat memperingatkan akan menyerang pangkalan AS di Timur Tengah jika Iran diserang, jadi bara konflik masih ada walau sementara ditutup “kabar negosiasi lanjut”.

Di luar geopolitik, faktor Rusia ikut bikin trader deg-degan. Eropa sedang mendorong langkah untuk membatasi pendapatan minyak Rusia, dan ada sinyal kilang-kilang India mulai menghindari pembelian kargo Rusia untuk pengiriman April—yang kalau berlanjut bisa mengubah arah arus pasokan global. Minggu lalu, Brent dan WTI juga sudah turun lebih dari 2% (koreksi pertama dalam tujuh minggu), jadi sentimen “turun dulu” masih terasa kuat di awal pekan ini. 

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 06 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – SNB Terlihat “Mundur”, Franc Berpotensi Makin Kuat

 

PT Equityworld Futures Semarang – Franc Swiss (CHF) mulai kembali dilirik sebagai aset aman, seiring risiko geopolitik yang belum benar-benar reda dan bank sentral yang terlihat makin “jarang turun tangan” di pasar valuta. Di kondisi kayak gini, CHF biasanya diuntungkan—apalagi ketika pasar global lagi gampang panik sama headline.

Pada sesi Eropa Jumat (6/2), USD/CHF berada di kisaran 0,778 (sekitar 0,7779–0,7784). Pergerakan ini menggambarkan dolar sedikit melemah dari dorongan risk-off sebelumnya, namun secara mingguan USD/CHF masih sempat mencatat kenaikan.

Cerita utamanya datang dari Timur Tengah: AS dan Iran memulai negosiasi di Oman, tapi Iran sendiri sudah mengingatkan bahwa ini kemungkinan bukan solusi cepat. Di saat yang sama, laporan juga menyinggung adanya penumpukan kekuatan militer AS di kawasan—kombinasi yang bikin pasar susah “tenang” dan menjaga permintaan safe-haven tetap hidup.

Dari sisi Swiss, data terbaru menunjukkan cadangan devisa/foreign currency reserves Swiss turun pada Januari, yang secara umum bisa terjadi karena efek valuasi dan pergerakan pasar. Tapi yang penting buat pelaku pasar FX: ketika tanda-tanda intervensi bank sentral tidak terlihat agresif, peluang CHF menguat bisa lebih terbuka.

Di belakang layar, SNB juga baru mengumumkan penyesuaian aturan remunerasi sight deposits (mulai berlaku 1 Maret 2026). Meski ini bukan “intervensi langsung”, langkah-langkah operasional seperti ini sering dibaca pasar sebagai sinyal SNB sedang mengatur instrumen likuiditas—sementara membiarkan kurs bergerak lebih natural kecuali ada gejolak ekstrem.

Kesimpulannya: selama geopolitik tetap rawan headline dan SNB tidak terlihat aktif menahan penguatan CHF, risiko USD/CHF turun (CHF menguat) masih ada. Titik pantau dekat-dekat ini biasanya ada di area 0,776–0,775 sebagai support intraday, sementara 0,780–0,782 jadi area resistance terdekat jika dolar tiba-tiba balik kuat.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 05 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Bursa Jepang Terkoreksi Jelang Pemilu

Bursa Saham Jepang Siap Naik, Mengekor Rekor Wall Street 

PT Equityworld Futures Semarang – Saham-saham Jepang melemah menjelang pemilu majelis rendah “dadakan” akhir pekan ini, membuat pelaku pasar memilih defensif sambil menunggu arah politik dan gelombang rilis kinerja emiten. Sentimen risk-off muncul karena investor mengurangi posisi di saham-saham yang sensitif terhadap volatilitas, terutama sektor teknologi.

Pada penutupan perdagangan Kamis, Topix turun tipis sekitar 0,1% ke 3.652,41, sementara Nikkei melemah lebih dalam sekitar 0,9% ke 53.818,04. Pergerakan ini mencerminkan pasar yang cenderung “wait and see” menjelang hari pemungutan suara.

Tekanan terbesar datang dari saham-saham terkait teknologi. SoftBank Group menjadi kontributor negatif utama setelah turun sekitar 7%, terseret sentimen usai proyeksi penjualan Arm Holdings dinilai mengecewakan investor—membuat minat risiko pada tema AI/tech kembali mereda.

Di sisi domestik, faktor politik ikut menahan minat beli. Perdana Menteri Sanae Takaichi menjadwalkan pemilu pada 8 Februari sebagai langkah untuk memperkuat mandat koalisi. Namun, menjelang momen penting seperti ini, pasar biasanya mengurangi eksposur karena risiko kejutan hasil pemilu bisa memicu pergerakan cepat di yen, obligasi, dan saham.

Selain itu, laporan kinerja perusahaan juga ikut membebani indeks. Saham Rohm misalnya, anjlok sekitar 9% setelah outlook dinilai kurang meyakinkan dan laba operasional kuartal III dilaporkan di bawah ekspektasi rata-rata analis—menambah tekanan pada saham chip Jepang.

Intinya, bursa Jepang sedang berada di fase “uji ketahanan”: pemilu + earnings jadi kombinasi yang bikin investor lebih selektif. Jika hasil pemilu memberi kepastian arah kebijakan, pasar berpeluang stabil—tapi bila muncul sinyal fiskal/agresif yang memicu volatilitas yen dan yield, tekanan di saham bisa berlanjut.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 04 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Emas Makin Kuat, Tunggu ADP & ISM

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga emas melanjutkan penguatannya mendekati $5.100 pada Rabu (4/2) dan sempat mencetak level tertinggi mingguan di sesi Eropa. Emas spot terakhir berada di sekitar $5.082,94 per ons (+2,9%), menjaga momentum rebound setelah reli besar sehari sebelumnya.

Sentimen safe-haven kembali dominan setelah tensi AS–Iran memanas. Pasar bereaksi terhadap laporan bahwa AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk AS USS Abraham Lincoln di Laut Arab—kejadian yang langsung menghidupkan lagi “risk premium” geopolitik.

Dari sisi makro, emas juga terbantu karena dolar AS belum mampu pulih kuat. Ketidakpastian arah kebijakan The Fed (ditambah penundaan sebagian data ketenagakerjaan) membuat pasar lebih berhati-hati, sehingga aset tanpa imbal hasil seperti emas tetap punya ruang untuk menguat saat permintaan lindung nilai meningkat.

Kalau ditarik beberapa hari ke belakang, gerak emas ini memang ekstrem. Harga sempat “dibanting” sampai $4.403,24 pada Senin, lalu memantul agresif—sehingga kini emas sudah naik sekitar $680 dari titik rendah tersebut dan mulai mendekati lagi level psikologis $5.100.

Selanjutnya, pasar menunggu pemicu baru dari data AS malam ini: ADP Employment Change dan ISM Services PMI. Dua rilis ini bisa menggeser ekspektasi suku bunga dan mengubah arah dolar—yang pada akhirnya ikut menentukan apakah emas sanggup menembus dan bertahan di atas $5.100 atau justru kembali volatile.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 03 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Aussie Menguat Setelah RBA “Ketatkan” Kebijakan

Mau Liburan ke Australia? Yuk, Kenalan Sama Mata Uangnya, Destinasi Seru,  dan Kuliner Hits! 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Australia menguat pada hari Selasa (3/2) setelah Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga acuan (cash rate) 25 bps menjadi 3,85% pada rapat kebijakan pertama 2026. Kenaikan ini menandai perubahan arah yang cukup tegas: RBA menilai tekanan harga kembali mengeras sejak paruh kedua 2025 dan inflasi berisiko bertahan di atas target lebih lama, sehingga bank sentral perlu kembali “mengencangkan” kebijakan.

Reaksi pasar langsung terlihat di mata uang. AUD/USD saat ini berada di sekitar 0,703 (naik sekitar 1% pada hari ini), lebih tinggi dibanding level 0,7008 yang disebut di laporan sebelumnya. Penguatan AUD didorong kombinasi “rate advantage” (imbal hasil Australia naik) dan ekspektasi bahwa RBA masih membuka peluang langkah lanjutan jika data inflasi tidak cepat turun.

Namun, ruang apresiasi AUD tetap akan dipengaruhi dua faktor: (1) seberapa kuat sinyal RBA soal kenaikan berikutnya (apakah “data-dependent” atau mengarah ke jalur pengetatan), dan (2) arah dolar AS—karena bila USD kembali menguat tajam, AUD biasanya ikut tertahan meski domestiknya positif.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 02 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Awal Pekan Tegang: Dolar Stabil, Yen & Aussie Tertekan

7 Cara Menabung Dollar (USD) Agar Maksimal dan Efektif - Pintu News 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS masih bertahan kuat pada Senin (2/2), saat pelaku pasar mulai “mengukur” seperti apa arah Federal Reserve jika benar dipimpin Kevin Warsh. Di saat yang sama, koreksi tajam di logam mulia dan minyak ikut menekan mata uang-mata uang komoditas—membuat awal pekan terasa lebih tegang dan penuh agenda besar.

Tekanan dari komoditas tidak berhenti di situ. Pelemahan harga merembet ke pasar saham Asia dan Eropa, menandakan sentimen risk-off belum benar-benar hilang. Pekan ini juga padat katalis: ada rangkaian pertemuan bank sentral, rilis data ekonomi kelas berat, sampai pemilu Jepang yang mulai jadi fokus baru trader global.

Di pasar valas, yen kembali jadi sorotan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyinggung “manfaat yen lemah” dalam pidato kampanyenya pada akhir pekan, nada yang dinilai bertabrakan dengan upaya kementerian keuangan Jepang yang selama ini berusaha menahan pelemahan yen. Kombinasi komentar tersebut dan isu pemilu membuat yen kembali rentan ditekan.

Indeks dolar (DXY) terakhir berada di sekitar 97,21, relatif stabil setelah reli sekitar 1% pada Jumat yang dipicu kabar Trump memilih Warsh sebagai calon ketua The Fed berikutnya. Pasar menilai Warsh cenderung tidak akan mendorong pemangkasan suku bunga secara cepat seperti skenario yang sempat diharapkan sebagian investor—walau tetap ada perdebatan, karena ia juga dipandang lebih “lunak” dibanding ketua saat ini Jerome Powell.

Sementara itu, euro dan pound bergerak terbatas. EUR/USD tertahan di sekitar 1,1852, cukup jauh dari level 1,20 yang sempat terlihat sebelumnya. GBP/USD juga cenderung datar di sekitar 1,3690. Fokus pasar tertuju ke keputusan ECB dan Bank of England pada Kamis, yang secara umum diperkirakan masih menahan suku bunga.

Di kelompok mata uang komoditas, tekanan terlihat lebih jelas. Dolar Australia sempat turun hingga 0,7% ke 0,6908 sebelum membaik, menjelang keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia pada Selasa—meski pasar masih banyak yang memperkirakan kenaikan suku bunga. Dolar Selandia Baru sempat turun ke 0,5991, sementara dolar Kanada melemah tipis.

Untuk yen, pelemahan bertahan di sekitar 154,90 per dolar, ikut dipengaruhi ekspektasi bahwa partai Takaichi berpeluang menang besar. Survei Asahi menyebut LDP bisa melampaui mayoritas, yang memicu spekulasi kebijakan fiskal lebih ekspansif dan pemotongan pajak—dua hal yang bisa menambah kekhawatiran pasar pada kondisi fiskal Jepang. Meski begitu, yen masih punya “rem” alami: trader tetap waspada pada risiko intervensi jika pelemahan bergerak terlalu cepat, apalagi setelah wacana koordinasi AS–Jepang sempat mencuat belakangan ini.

PT Equityworld Futures Semarang