Rabu, 13 Mei 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Bertahan Dekat Puncak Sepekan, Geopolitik dan CPI Panas Dorong Yield

 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS bertahan dekat level tertinggi dalam sepekan pada Rabu (13/5), ditopang ketidakpastian baru di Timur Tengah serta respons pasar terhadap inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Indeks dolar (DXY) naik 0,2% ke 98,501, tertinggi sejak 5 Mei, sementara euro turun 0,26% ke $1,17095 dan sterling melemah 0,1% ke $1,3524.

Nada risk-off terlihat selektif: dolar Australia relatif stabil di $0,72410, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,3% ke $0,59345. Di komoditas, minyak turun sekitar 1% namun tetap kuat di atas $100/barel, dengan Brent terakhir di sekitar $106,6, menjaga sensitivitas pasar terhadap risiko pasokan dan jalur Selat Hormuz.

Faktor geopolitik kembali menjadi latar utama setelah Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran “on life support” dan Teheran menolak proposal AS untuk mengakhiri perang. Ketidakpastian ini memperkuat daya tarik dolar sebagai aset likuid, sekaligus membuat pasar menilai semakin lama gangguan berlangsung, semakin sulit posisi bank sentral dalam menyeimbangkan inflasi dan pertumbuhan.

Dari sisi makro, CPI AS April naik 3,8% yoy, tertinggi sejak Mei 2023, memperkuat repricing jalur suku bunga The Fed. Yield Treasury tenor 2 tahun dan 10 tahun bertahan dekat level tertinggi tujuh pekan di sekitar 3,9812% dan 4,461%, sementara pasar kian menyingkirkan peluang pemangkasan suku bunga tahun ini dan menilai peluang kenaikan 25 bps pada pertemuan Desember sekitar 35% (CME FedWatch).

Perhatian FX juga tertuju pada yen. USD/JPY turun tipis ke 157,77 setelah pergerakan menguat mendadak sehari sebelumnya memicu spekulasi “rate check” yang kerap dikaitkan dengan potensi intervensi. Komentar Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahwa AS-Jepang sepakat volatilitas berlebihan tidak diinginkan memberi dukungan psikologis, meski pelaku pasar menilai intervensi saja mungkin tidak cukup; BoJ juga menyatakan Bessent tidak bertemu Gubernur Kazuo Ueda saat kunjungan ke Tokyo.

Variabel yang dipantau pasar berikutnya mencakup setiap pembaruan situasi Timur Tengah dan Selat Hormuz, pergerakan yield AS pasca data inflasi, serta dinamika kebijakan Fed menjelang berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Jumat dan perkembangan pasca konfirmasi Kevin Warsh sebagai gubernur The Fed. Di Asia, yuan offshore diperdagangkan sekitar 6,79 per dolar menjelang agenda Trump ke Beijing, berpotensi menambah sensitivitas USD terhadap headline geopolitik dan diplomasi.

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 08 Mei 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Euro Menguat Dekati Level Tertinggi Selama 3 Pekan

 

PT Equityworld Futures Semarang – Euro diperdagangkan di atas US$1,17, mendekati level terkuat sejak 20 April, seiring pasar semakin hawkish terhadap prospek kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali menguat. Pergerakan ini mencerminkan penyesuaian ekspektasi suku bunga, dengan investor menilai ruang pengetatan ECB kian terbuka.

Di pasar suku bunga, money markets kini memperkirakan pengetatan ECB lebih dari 50 basis poin hingga akhir tahun, yang setara dengan setidaknya dua kali kenaikan suku bunga. Probabilitas kenaikan pertama pada Juni juga dinilai lebih dari 75%, setelah beberapa pejabat ECB belakangan memberi sinyal peluang kenaikan suku bunga meningkat akibat tekanan inflasi yang persisten.

Dorongan inflasi juga diperkuat oleh kenaikan harga energi. Brent kembali naik menembus US$100 per barel menyusul bentrokan antara AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz, memicu kekhawatiran stabilitas gencatan senjata yang rapuh di kawasan. Kenaikan minyak berpotensi menjaga tekanan biaya dan inflasi, yang pada gilirannya memperkuat narasi kebijakan ECB yang lebih ketat.

Di sisi risiko eksternal, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Uni Eropa bahwa ia akan menerapkan tarif “jauh lebih tinggi” terhadap barang-barang Uni Eropa jika blok tersebut tidak menghapus tarif atas produk AS sebelum 4 Juli. Kombinasi repricing suku bunga ECB, risiko energi, dan ketidakpastian perdagangan menjadi faktor yang akan dipantau pasar karena dapat memengaruhi arus modal, diferensial suku bunga, serta arah volatilitas EUR/USD dalam waktu dekat.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 06 Mei 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Sektor Keuangan Memimpin, Hang Seng Menguat 1,2%

 

PT Equityworld Futures Semarang – Hang Seng Index ditutup naik 1,2% ke 26.213,78 di Hong Kong pada Rabu (06/05), memulihkan pelemahan sesi sebelumnya yang turun 0,8%. Penutupan ini menjadi level tertinggi sejak 21 April, dengan kenaikan terjadi merata di seluruh sektor.

Saham keuangan menjadi motor utama penguatan, sementara breadth pasar juga solid: 67 dari 90 saham menguat dan 22 melemah. HSBC Holdings menjadi kontributor terbesar bagi kenaikan indeks setelah melonjak 3,3%, sementara Xinyi Glass mencatat kenaikan harian terbesar, naik 9,8%.

Dalam perspektif lebih panjang, Hang Seng telah naik 16% dalam 52 minggu terakhir, di bawah kinerja MSCI AC Asia Pacific Index yang menguat 40% pada periode yang sama. Indeks kini berada 6,6% di bawah puncak 52 minggunya pada 29 Januari 2026, dan 16,8% di atas titik terendah 6 Mei 2025; secara jangka pendek, Hang Seng naik 2,1% dalam 5 hari dan menguat 4,4% dalam 30 hari.

Dari sisi valuasi dan risiko, Hang Seng diperdagangkan pada P/E trailing 13,5x dan 11,6x estimasi laba 12 bulan ke depan, dengan dividend yield trailing 12 bulan 2,9%. Total kapitalisasi pasar anggota indeks tercatat sekitar HK$30,5 triliun, sementara volatilitas 30 hari naik tipis ke 23,16% dari 23,09% pada sesi sebelumnya, masih di bawah rata-rata 24,26% dalam sebulan terakhir—menjadi variabel yang perlu dipantau seiring kenaikan indeks menuju area puncak tahunannya.

PT Equityworld Futures Semarang

Selasa, 05 Mei 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS Stabil, Yen Bertahan di Tengah Ketidakpastian Perang Iran

 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS bergerak relatif stabil pada perdagangan Selasa (5/5) ketika pasar mencermati perkembangan terbaru konflik Iran, sementara yen Jepang cenderung tenang setelah dugaan intervensi otoritas Tokyo pekan lalu memicu penguatan tajam mata uang tersebut. Indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama bertahan di kisaran yang sama setelah sebelumnya menguat tipis pada awal pekan. Euro dan poundsterling juga diperdagangkan tanpa perubahan signifikan.

Gencatan senjata di Timur Tengah kembali dipertanyakan setelah AS dan Iran melancarkan serangan baru dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz. Laporan yang saling bertentangan mengenai lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut menambah ketidakpastian pasar. Pelaku pasar dinilai memilih sikap “menunggu dan melihat” karena arus berita dapat berubah cepat dan arah konflik masih belum jelas.

Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia melemah setelah bank sentral negara itu kembali menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi. Otoritas moneter juga merevisi naik proyeksi inflasi dan memangkas prospek pertumbuhan serta ketenagakerjaan akibat dampak guncangan energi global. Pasar kini menilai peluang kenaikan suku bunga lanjutan masih terbuka hingga akhir tahun.

Yen Jepang diperdagangkan stabil setelah sempat mencatat penguatan tajam dalam beberapa sesi terakhir. Data pekan lalu mengindikasikan Tokyo menggelontorkan dana besar untuk menopang mata uangnya, meski analis menilai langkah tersebut belum tentu efektif dalam jangka panjang. Selisih suku bunga yang lebar antara Jepang dan negara maju lain, ditambah tekanan fiskal dan lonjakan harga energi, masih menjadi beban bagi yen.

Analis menilai pergerakan USD/JPY dalam waktu dekat berpotensi tetap volatil dalam kisaran yang lebih lebar, dengan level psikologis tertentu dipandang sensitif secara politik. Arah yen juga sangat dipengaruhi oleh harga minyak dan perkembangan konflik Timur Tengah. Jika harga energi kembali melonjak atau bertahan tinggi, tekanan terhadap yen diperkirakan akan kembali meningkat.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 04 Mei 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Hang Seng Naik 1,2%, Alibaba dan Xiaomi Memimpin!

 

PT Equityworld Futures Semarang – Hang Seng Index menguat 1,2% ke 26.095,88 pada perdagangan Hong Kong Senin (05/04), berbalik arah setelah turun 1,3% pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini ditopang penguatan luas di hampir seluruh komponen, dengan 71 dari 90 saham berakhir di zona hijau.

Alibaba Group Holding menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan indeks setelah naik 4,5%, sementara Xiaomi mencatat kenaikan harian terbesar dengan lonjakan 6,8%. Seluruh sektor menguat, dipimpin saham commerce dan industri, menandakan risk appetite membaik di level indeks.

Secara tren, Hang Seng telah naik 0,5% dalam lima hari terakhir dan menguat 3,9% dalam 30 hari, dengan kinerja 52 minggu tercatat naik 16%. Meski demikian, posisi indeks masih sekitar 7% di bawah puncak 52 minggu yang tercapai pada 29 Januari 2026, dan 16,2% di atas level terendahnya pada 6 Mei 2025.

Dari sisi valuasi, indeks diperdagangkan pada rasio price-to-earnings 13,4 kali (trailing) dan 11,5 kali estimasi laba setahun ke depan, dengan dividend yield sekitar 3% (12 bulan berjalan). Volatilitas 30 hari naik tipis ke 23,82% dari 23,59% pada sesi sebelumnya, sementara total kapitalisasi pasar konstituen berada di sekitar HK$30,4 triliun.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 30 April 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Brent Terkoreksi, Risiko Pasokan Masih Menahan Tekanan

Apa itu Minyak Brent? Begini Sejarah dan Perbedaanya dengan WTI - Pintu News 

PT Equityworld Futures Semarang – Brent saat ini terkoreksi setelah reli tajam sebelumnya, karena pelaku pasar mulai melakukan profit taking di area harga tinggi. Meski begitu, tekanan koreksi masih terbatas karena fundamental utama tetap kuat: risiko pasokan dari Timur Tengah masih besar, terutama setelah ketegangan AS-Iran dan gangguan jalur Hormuz membuat pasar khawatir suplai global terganggu.

Brent sempat menembus area tinggi empat tahun di atas US$120 per barel.  Dari sisi fundamental, koreksi ini lebih terlihat sebagai penyesuaian teknikal jangka pendek, bukan perubahan tren besar.(gn)

Harga minyak pada saat analisis ini dirilis berada di: $110.77

- Beli jika harga bergerak di bawah $111.98

- Jual jika harga bergerak di bawah $110.03

 

 Resistensi 2: $115.14

Resistensi 1: $113.19

 

Support 1: $109.29

Support 2: $107.34

Perhatian: Artikel ini bersifat analitis dan bukan merupakan referensi pasti. Harap mempengaruhi pengaruh perkembangan fundamental dan teknis pada perdagangan sebelum mengambil keputusan investasi apa pun.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 28 April 2026

PT Equityworld Futures Semarang – AUD/USD Tertekan, Dolar AS Masih Mendominasi

 

PT Equityworld Futures Semarang – AUD/USD bergerak melemah seiring dolar AS yang masih mendapat dukungan dari sentimen safe haven. Ketidakpastian global meningkat setelah negosiasi AS-Iran kembali mandek, sementara harga minyak yang terus naik membuat investor cenderung menghindari aset berisiko.

Dolar Australia ikut tertekan karena AUD dikenal sebagai mata uang yang sensitif terhadap risk sentiment. Saat pasar masuk mode hati-hati, permintaan terhadap mata uang berisiko seperti AUD biasanya melemah, terutama jika dolar AS sedang menguat.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati prospek ekonomi China sebagai mitra dagang utama Australia. Kekhawatiran terhadap permintaan komoditas dari China dapat membatasi ruang penguatan Aussie, mengingat ekonomi Australia sangat terkait dengan ekspor komoditas.

Dari sisi teknikal, AUD/USD masih terlihat kesulitan membangun momentum rebound. Selama dolar AS bertahan kuat dan sentimen global belum membaik, pasangan ini berpotensi tetap bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 27 April 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Emas Konsolidasi: Tertekan The Fed, Ditopang Geopolitik

 

PT Equityworld Futures Semarang – Pergerakan harga emas pada hari ini, menunjukkan kondisi pasar yang masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Tekanan utama datang dari kombinasi faktor fundamental global, khususnya ekspektasi kebijakan moneter serta dinamika inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi. Di sisi lain, faktor geopolitik masih memberikan penopang terbatas terhadap harga emas, sehingga menciptakan pergerakan yang cenderung sideways.

Dari sisi fundamental, kebijakan Federal Reserve menjadi faktor paling dominan dalam menentukan arah emas saat ini. Kenaikan harga energi global, terutama minyak bumi, mendorong kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama. Kondisi ini membuat pasar memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari ekspektasi sebelumnya. Akibatnya, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai menjadi tertahan karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Selain itu, penguatan US Dollar juga menjadi tekanan tambahan bagi harga emas. Dolar yang kuat membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor di luar Amerika Serikat, sehingga menekan permintaan. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperburuk kondisi ini, karena investor cenderung beralih ke aset yang memberikan return lebih pasti dibandingkan emas.

Meski demikian, faktor geopolitik tetap memberikan dukungan terhadap harga emas. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz, meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Namun, pengaruh positif ini masih kalah kuat dibandingkan pengaruh yang diberikan hormuz terhadap harga minyak serta tekanan dari sisi kebijakan moneter, sehingga kenaikan emas menjadi terbatas.

Secara teknikal, harga emas saat ini bergerak dalam rentang konsolidasi yang relatif sempit. Level support utama berada di kisaran 4,700, yang menjadi area krusial untuk menjaga struktur harga jangka pendek. Jika level ini ditembus, potensi penurunan lanjutan menuju area 4,600 terbuka lebar. Sebaliknya, resistance berada di sekitar 4,750 hingga 4,800, yang menjadi batas atas pergerakan saat ini. Breakout di atas area tersebut dapat membuka peluang kenaikan lebih lanjut.

Indikator teknikal menunjukkan bahwa pasar berada dalam kondisi netral. Momentum belum terbentuk secara jelas, dan volatilitas cenderung menurun, mengindikasikan adanya fase penantian sebelum pergerakan besar berikutnya. Pola konsolidasi ini sering kali menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengumpulkan tenaga sebelum menentukan arah baru, baik ke atas maupun ke bawah.

Secara keseluruhan, harga emas hari ini berada dalam fase “menunggu kepastian”. Tekanan dari suku bunga tinggi dan dolar yang kuat masih menjadi hambatan utama, sementara dukungan dari geopolitik belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan signifikan. Dengan kondisi tersebut, strategi yang lebih bijak adalah menunggu konfirmasi arah yang lebih jelas, terutama dari pergerakan sesi Eropa dan Amerika Serikat yang biasanya menjadi penentu utama tren pasar global.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 22 April 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Minyak Menguat Usai Insiden Tembakan Kapal di Selat Hormuz

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak naik pada Rabu, membalikkan penurunan awal setelah muncul laporan serangan tembakan terhadap setidaknya tiga kapal kontainer di Selat Hormuz serta minimnya kemajuan dalam pembicaraan damai antara AS dan Iran.

Brent menguat 73 sen atau 0,7% ke US$99,21 per barel pada 10:49 GMT, sementara WTI naik 59 sen atau 0,7% ke US$90,26. Kedua acuan ini juga telah naik sekitar 3% pada Selasa.

Insiden di jalur pelayaran strategis itu memperkuat premi risiko geopolitik. Laporan menyebut tiga kapal kontainer terkena tembakan pada Rabu, sementara Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyita dua kapal dengan alasan pelanggaran maritim dan memindahkannya ke wilayah pesisir Iran, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim.

Pasar merespons karena Selat Hormuz merupakan titik kritis arus energi global. Hingga perang Iran dimulai pada akhir Februari, jalur ini disebut membawa sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia, sehingga gangguan keamanan atau pembatasan pelayaran berpotensi menaikkan persepsi risiko gangguan pasokan dan mendorong harga meski tidak ada perubahan pasokan fisik yang terkonfirmasi.

Dari sisi diplomasi, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, beberapa jam sebelum masa berlakunya berakhir. Namun, kedua pihak dilaporkan tidak hadir dalam pembicaraan damai di Pakistan, menambah ketidakpastian arah de-eskalasi.

Ke depan, pasar akan memantau perkembangan keamanan di Selat Hormuz, detail lanjutan terkait penyitaan kapal dan pembatasan pelayaran, serta sinyal apakah kanal diplomasi AS–Iran kembali berjalan. Perubahan intensitas insiden maritim atau kemajuan perundingan berpotensi menjadi penentu apakah reli harga bertahan atau kembali terkoreksi. 

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 21 April 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Euro Tertekan ke Dekat 1,1750 usai Sentimen Ekonomi Zona Euro Memburuk

 

PT Equityworld Futures Semarang – EUR/USD melemah pada perdagangan Selasa (21/04), turun ke level terendah sesi di kisaran 1,1750 setelah gagal melanjutkan penguatan hari sebelumnya yang sempat tertahan di sekitar 1,1790. Tekanan datang dari memburuknya data sentimen ekonomi Eropa yang memperkuat pandangan pasar bahwa prospek pertumbuhan kawasan sedang melemah.

Survei ZEW menunjukkan sentimen investor institusional terhadap ekonomi Jerman turun tajam ke -17,2 pada April, menjadi yang terlemah sejak Desember 2022. Angka ini jauh di bawah perkiraan pasar -5, dan merosot dari -0,5 pada Maret, menandakan penurunan keyakinan yang lebih dalam dari yang diperkirakan.

Komponen penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini juga memburuk. Indikator “current situation” Jerman turun ke -73,7 pada April dari -62,9 pada Maret, menggambarkan persepsi bahwa kondisi aktivitas ekonomi terkini semakin lemah.

Sentimen di tingkat kawasan ikut menekan euro. Sentimen ekonomi Zona Euro turun ke -20,4, juga terendah sejak Desember 2022, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan perbaikan moderat ke -3,6 dari -8,5 bulan sebelumnya.

Di luar faktor data, pasar juga memantau perkembangan geopolitik terkait konflik AS–Iran yang dinilai ikut membebani Eropa melalui kanal energi dan kepercayaan bisnis. The Wall Street Journal melaporkan Teheran menyampaikan kesediaan mengirim delegasi ke Pakistan melalui mediator regional, meski sebelumnya muncul ancaman Iran untuk mundur dari proses damai menyusul penyitaan kapal kargo Iran oleh militer AS; Reuters mengutip sumber AS yang mengatakan “proses bergerak maju,” yang membantu menjaga optimisme pasar tetap moderat.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 20 April 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Emas Turun di Tengah Gejolak Hormuz, Pasar Fokus Risiko Inflasi!

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga emas melemah setelah eskalasi akhir pekan di perairan Timur Tengah, memicu kembali kekhawatiran guncangan pasokan energi dan risikonya terhadap inflasi. Bullion sempat turun hingga 1,9% sebelum memangkas pelemahan dan bergerak di kisaran $4.790 per ounce.

Sentimen terseret oleh perkembangan di Selat Hormuz setelah Presiden Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran, sementara Teheran memperingatkan kapal yang mendekat akan dianggap melanggar gencatan senjata. Sejumlah kapal dilaporkan membatalkan penyeberangan meski Iran sebelumnya menyatakan jalur tersebut kembali terbuka.

Lonjakan harga minyak dan gas alam menjadi kanal transmisi utama ke pasar emas. Kenaikan energi berpotensi merembes ke ukuran inflasi inti yang dipantau Federal Reserve, menekan peluang pemangkasan suku bunga; ekspektasi biaya pinjaman yang lebih tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil bunga.

Di sisi geopolitik, insiden terbaru juga dinilai mengganggu prospek pembicaraan damai menjelang berakhirnya gencatan senjata 14 hari pada Selasa. Analis OCBC, Christopher Wong, menilai tekanan jual mencerminkan pelemahan risk sentiment, namun pasar masih melihat kedua pihak berupaya memperkuat posisi tawar menjelang pertemuan berikutnya, sehingga arah pergerakan jangka pendek tetap ditentukan oleh sentimen risiko yang lebih luas.

Pasar kini menanti hearing konfirmasi Senat AS untuk Kevin Warsh pada Selasa sebagai kandidat pilihan Trump untuk memimpin The Fed. Isyarat potensi pelonggaran kebijakan bisa menopang emas, sementara penekanan pada kehati-hatian inflasi cenderung menjadi hambatan. Pada pembaruan terakhir, spot gold turun 0,8% ke $4.792,04 (10:48 London), sementara dolar menguat tipis dan perak ikut melemah.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 14 April 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Emas Rebound, Dolar Tertekan di Tengah Sinyal Talks Iran

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga emas menguat lebih dari 1% pada Selasa (14/4), memantul dari level terendah hampir sepekan pada sesi sebelumnya, seiring melemahnya dolar dan meredanya kekhawatiran inflasi setelah harga minyak terkoreksi. Spot gold naik 1,1% ke US$4.788,76/oz pada 09:21 GMT, sementara kontrak berjangka emas AS naik 1,0% ke US$4.812,80/oz.

Pemulihan terjadi ketika pasar kembali menimbang peluang jalur diplomasi AS–Iran terbuka, setelah lima sumber menyebut tim negosiasi kedua negara berpotensi kembali ke Islamabad pekan ini. Pada sesi sebelumnya, emas sempat tertekan ketika militer AS bersiap memulai blokade pelabuhan Iran, meningkatkan risiko pada ceasefire dua pekan yang rapuh. Dolar turun ke level terendah lebih dari sebulan, membuat emas berdenominasi USD lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sementara harga minyak turun di perdagangan Asia karena kekhawatiran risiko pasokan mereda.

Meski emas dipandang sebagai lindung nilai inflasi dan geopolitik, daya tariknya bisa tertahan jika ekspektasi suku bunga tinggi bertahan. Saat ini pelaku pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga AS 25 bps tahun ini sebesar 31% (naik dari 27% sehari sebelumnya), meski masih jauh dari ekspektasi pra-perang yang sempat memproyeksikan dua kali pemangkasan. Di logam lain, perak naik 3,2% ke US$77,98/oz, platinum naik 0,7% ke US$2.084,90/oz, dan paladium naik 0,6% ke US$1.583,82/oz.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 07 April 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Deadline Hormuz Kian Dekat, Harga Minyak Tertahan

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak bertahan di sekitar US$110/barel menjelang tenggat Selasa (7/4) pukul 20.00 ET yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi ancaman penghancuran infrastruktur kunci. Brent sempat memangkas kenaikan awal dan bergerak nyaris datar dalam sesi yang volatil, sementara WTI juga mengurangi penguatannya.

Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran “berjalan baik”, tetapi sekaligus mempertegas konsekuensi jika kesepakatan tidak tercapai. Ia menyebut militer AS bisa menghancurkan “setiap jembatan” di Iran dan membuat pembangkit listrik “terbakar” serta tidak dapat digunakan lagi—langkah yang disebut sebagai pelanggaran Konvensi Jenewa. Iran memperingatkan akan membalas dengan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi di Teluk Persia, yang berpotensi memperparah kelangkaan bahan bakar global dan memperbesar dampak ke ekonomi dunia.

Kekhawatiran pasokan jangka pendek juga tercermin di pasar derivatif. Prompt spread WTI—selisih dua kontrak terdekat—sempat mendekati US$15,50/barel, mendekati premi rekor, seiring ekspektasi pasokan AS makin ketat ketika pembeli luar negeri memburu minyak mentah Amerika.

Pada 10:01 London, Brent Juni stabil di US$109,45/barel, sementara WTI Mei diperdagangkan di US$112,73/barel. 

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 02 April 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Kembali Menguat, Didorong Risk-off dan Data AS yang Solid

 

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks dolar AS (DXY) kembali menguat pada Kamis (2/4) dan naik lagi ke atas level 100, ditopang sentimen risk-off setelah pidato Presiden AS Donald Trump meredam harapan berakhirnya perang Iran dalam waktu dekat. Trump kembali mengulang retorika agresif, termasuk ancaman serangan “sangat keras” terhadap Iran serta seruan agar sekutu “berani” mengamankan Selat Hormuz, sehingga mendorong penguatan Greenback secara luas.

Dari sisi geopolitik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian merespons lewat surat terbuka kepada publik AS, mempertanyakan apakah perang ini sejalan dengan janji “America First” Trump. Di saat yang sama, Israel dan Iran dilaporkan terus saling melancarkan serangan rudal dan drone, sementara Teheran menilai tuntutan Washington untuk kesepakatan damai bersifat “maksimalis dan tidak rasional,” menjaga ketidakpastian tetap tinggi.

Penguatan dolar juga mendapat dukungan dari data AS yang lebih baik dari perkiraan. ADP Employment Change menunjukkan kenaikan 62 ribu pekerjaan pada Maret (di atas ekspektasi 40 ribu), sementara data Februari direvisi naik menjadi 66 ribu. ISM Manufacturing PMI meningkat ke 52,7, tertinggi sejak Juli 2022, meski optimisme headline dibayangi biaya yang lebih tinggi dan komponen ketenagakerjaan yang lebih lemah.

Fokus berikutnya adalah rilis Nonfarm Payrolls pada Jumat, dengan konsensus pasar memperkirakan penambahan 60 ribu pekerjaan setelah kontraksi 92 ribu pada Februari—data ini dipandang krusial untuk membentuk ekspektasi arah kebijakan The Fed dan pergerakan dolar lintas mata uang.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 30 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Minyak Naik, Brent Menuju Rekor Lonjakan Bulanan

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak menguat pada perdagangan Senin (30/3), dengan Brent bertahan jauh di atas US$100 per barel, seiring pasar kembali menilai risiko gangguan pasokan setelah konflik AS-Israel dan Iran memasuki pekan kelima. Kenaikan dipicu eskalasi keamanan regional, termasuk keterlibatan langsung Houthi yang didukung Iran dari Yaman.

Brent kontrak Mei naik sekitar 2%–3% dan sempat diperdagangkan di kisaran US$115–US$116 per barel, sementara WTI berada di atas US$100 per barel. Secara bulanan, Brent tercatat melesat sekitar 59% sepanjang Maret, menempatkannya pada jalur kenaikan bulanan terbesar dalam catatan menurut laporan Reuters.

Ketegangan bertambah setelah Trump mengatakan kepada Financial Times bahwa opsi yang ia “sukai” di Iran adalah “mengambil minyaknya,” pernyataan yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko infrastruktur dan rute energi. Reuters juga melaporkan serangan Houthi terhadap Israel memperluas medan konflik, memperkuat premi risiko di jalur Teluk dan Red Sea.

Societe Generale menilai risiko gangguan tambahan pada Bab el-Mandeb—jalur penting yang menghubungkan Teluk Aden dan Laut Merah—dapat mendorong harga lebih tinggi bila eskalasi berlanjut, karena pasar akan menambah premi risiko pada biaya pengapalan dan ketersediaan barel fisik.

Penyebab: eskalasi perang Iran dan meluasnya serangan ke rute/infrastruktur energi regional, ditambah retorika Trump soal “mengambil minyak” yang memperbesar persepsi risiko pasokan.

Dampak: premi risiko minyak bertahan tinggi, volatilitas meningkat, dan tekanan inflasi berbasis energi berpotensi menggeser ekspektasi suku bunga global ke arah lebih ketat.

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 27 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Hang Seng Naik 0,4%, Optimisme China Redam Tekanan Geopolitik

 

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Hang Seng menguat 0,4% dan ditutup di 24.952 pada Jumat (27/3), mengungguli sebagian besar bursa Asia setelah sinyal perbaikan ekonomi China membantu menopang sentimen. Kenaikan terjadi meski pasar regional masih dibayangi pelemahan Wall Street serta kekhawatiran konflik Timur Tengah yang berkepanjangan, yang mendorong harga minyak lebih tinggi dan mengangkat biaya pinjaman global.

Investor tetap berhati-hati karena ketidakpastian arah perkembangan AS–Iran, namun data pertumbuhan laba industri China yang lebih kuat memperkuat keyakinan terhadap pemulihan earnings. Ekspektasi dukungan kebijakan lanjutan—termasuk peluang pemangkasan suku bunga dan penurunan rasio cadangan wajib—ikut menambah tone positif.

Di saham, Xiaomi naik 2,0%, Kuaishou menguat 1,4%, Shenzhen Xunce Technology melonjak 24,1%, Innovent Biologics naik 7,6%, dan Akeso bertambah 1,9%.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 26 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Euro Tertahan, Pasar Waspadai Risiko Geopolitik dan Energi

 

PT Equityworld Futures Semarang – EUR/USD diperdagangkan dengan hati-hati pada sesi Eropa Kamis, bergerak di sekitar area 1,1550 setelah pelemahan pada sesi sebelumnya. Pergerakan yang cenderung terbatas ini mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah sinyal yang saling bertolak belakang terkait peluang de-eskalasi konflik Iran kembali membayangi pasar.

Dari sisi sentimen, dolar AS masih mendapat dukungan sebagai aset aman ketika pasar global bergerak defensif. Reuters melaporkan bahwa ketidakpastian soal konflik Iran, risiko di Selat Hormuz, dan lonjakan harga minyak telah menekan aset berisiko sekaligus menopang dolar, sementara harga obligasi juga tertekan karena pasar menyesuaikan ekspektasi suku bunga. Dalam kondisi seperti ini, euro menjadi sulit menguat lebih jauh karena minat terhadap aset berisiko belum benar-benar pulih.

Di sisi lain, tekanan terhadap euro juga datang dari memburuknya sentimen ekonomi kawasan euro. Konsumen di Jerman, Prancis, dan Italia dilaporkan semakin pesimistis karena perang Iran mendorong kenaikan biaya hidup dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Pada saat yang sama, ECB memperingatkan bahwa konflik ini bisa memicu stres sistemik di pasar keuangan dan menambah ketidakpastian terhadap pertumbuhan serta inflasi, sehingga prospek euro ikut tertahan.

Untuk jangka pendek, pasar akan memperhatikan apakah ketidakpastian Timur Tengah mulai mereda atau justru memburuk, karena itu akan sangat menentukan arah dolar dan euro berikutnya. Selain itu, pergerakan harga minyak, yield obligasi, dan komentar bank sentral juga akan menjadi faktor penting. Selama sentimen risk-off masih dominan dan pasar belum melihat kejelasan diplomatik, EUR/USD kemungkinan tetap bergerak terbatas dengan kecenderungan hati-hati.

Penyebab:

1. Ketidakpastian konflik Timur Tengah membuat investor menahan aksi beli di euro.

2. Dolar AS masih diburu sebagai aset aman saat pasar global cenderung defensif.

3. Kekhawatiran inflasi dan perlambatan ekonomi di kawasan euro ikut menahan ruang penguatan euro.

Hal yang harus diperhatikan:

1. Perkembangan terbaru konflik Iran dan peluang de-eskalasi.

2. Arah harga minyak dan yield obligasi, karena keduanya memengaruhi permintaan terhadap dolar.

3. Nada komentar ECB dan data ekonomi zona euro, karena itu akan menentukan daya tahan euro di tengah tekanan eksternal.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 25 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – AS Kirim “Proposal 15 Poin” ke Iran, Trump Klaim Negosiasi Berjalan

 

PT Equityworld Futures Semarang – Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa bahwa Amerika Serikat dan Iran “sedang berada dalam negosiasi” dan mengisyaratkan Teheran ingin mencapai kesepakatan damai, meski Iran tetap membantah adanya pembicaraan langsung dengan Washington. Trump menyampaikan pernyataan itu, sekaligus menjelaskan bahwa ia memutuskan mundur dari ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran “karena kami sedang bernegosiasi.”

Trump menambahkan bahwa Iran “berbicara dengan kami, dan mereka berbicara masuk akal,” saat diminta menjelaskan lebih lanjut perubahan sikapnya. Ia juga menyebut sejumlah pejabat tinggi AS terlibat dalam proses negosiasi, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menlu Marco Rubio. Sebelumnya, Trump juga menyatakan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner melakukan pembicaraan dengan pihak Iran pada Minggu malam.

Di hari yang sama, The New York Times melaporkan, mengutip dua pejabat anonim, bahwa AS telah mengirimkan rencana 15 poin untuk mengakhiri perang. Laporan tersebut menyebut rencana itu disampaikan melalui Pakistan, namun belum jelas seberapa luas dokumen itu telah beredar di kalangan pejabat Iran. Selain itu, belum ada kepastian apakah Israel—yang turut menyerang Iran bersama AS—akan mendukung rencana tersebut.

Trump sebelumnya menyatakan ada “sekitar 15 poin” kesepakatan antara AS dan Iran, dengan pencegahan Iran memiliki senjata nuklir menjadi prioritas utama. Dalam pernyataannya pada Selasa, Trump kembali menegaskan tujuan utama perang adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, bahkan mengklaim Iran telah sepakat “tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.”

Di tengah perbedaan pesan antara AS dan Iran, berbagai laporan menyebut para pemimpin regional juga bergerak dalam diplomasi jalur belakang untuk mendorong akhir perang. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan negaranya bersedia memfasilitasi pembicaraan, dan Trump membagikan tangkapan layar pernyataan tersebut di Truth Social. Namun Gedung Putih menegaskan pembahasan diplomatik bersifat sensitif dan tidak akan dinegosiasikan melalui media.

Meski narasi diplomasi menguat, operasi militer AS disebut tetap berjalan. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan Operasi “Epic Fury” terus berlangsung guna mencapai tujuan militer yang ditetapkan presiden dan Pentagon. Pemerintahan Trump juga dilaporkan belum mundur dari rencana mengajukan paket pendanaan tambahan terkait perang ke Kongres yang nilainya bisa mencapai $200 miliar.

Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan Pentagon menyiapkan rencana pengerahan sekitar 3.000 personel dari Divisi Lintas Udara 82nd Airborne ke Timur Tengah. Gedung Putih menegaskan semua pengumuman terkait pengerahan pasukan akan disampaikan oleh Departemen Perang, serta menekankan bahwa Trump “selalu memiliki seluruh opsi militer.”

Inti Newsmaker: Washington mengirim sinyal kuat bahwa jalur diplomasi sedang didorong melalui proposal 15 poin, namun di saat yang sama tetap menjaga tekanan militer dan kesiapan eskalasi. Pasar dan kawasan kini menunggu dua hal: apakah Iran merespons rencana itu secara nyata, dan apakah langkah diplomatik dapat berjalan paralel dengan operasi militer tanpa memicu eskalasi baru.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 16 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Harga Minyak Melonjak Lagi, Serangan ke Fasilitas Perbesar Risiko

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak naik pada Senin (16/3) ketika perhatian pasar kembali tertuju pada ancaman terhadap fasilitas energi di Timur Tengah, meski Presiden AS Donald Trump menyerukan negara-negara lain untuk ikut membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi global.

Kontrak Brent naik US$2,73 atau 2,7% ke US$105,87 per barel pada 07:30 GMT, setelah ditutup menguat US$2,68 pada Jumat. Sementara itu, WTI bertambah US$1,65 atau 1,7% ke US$100,36 per barel, setelah sebelumnya juga ditutup naik hampir US$3. Kedua kontrak kini telah melonjak lebih dari 40% sepanjang bulan ini ke level tertinggi sejak 2022.

Reli masih ditopang gangguan pasokan besar setelah serangan AS-Israel terhadap Iran mendorong Teheran menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang biasanya menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak global. Dalam pandangan pasar, penutupan jalur itu tetap menjadi sumber utama premi risiko karena dampaknya langsung ke arus pasokan fisik.

ING menilai serangan AS pada akhir pekan terhadap Kharg Island menambah kekhawatiran suplai, mengingat sekitar 90% ekspor minyak Iran melewati fasilitas tersebut. Meski serangan disebut menyasar infrastruktur militer, bukan energi, pasar tetap melihat risikonya tinggi karena minyak Iran saat ini praktis menjadi satu-satunya minyak yang masih bergerak melalui Hormuz.

Risiko regional juga meningkat setelah drone Iran menghantam terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab, tak lama setelah serangan ke Kharg. Operasi pemuatan di Fujairah dilaporkan telah kembali berjalan, tetapi belum jelas apakah sudah sepenuhnya normal. Fujairah sendiri menjadi jalur ekspor sekitar 1 juta barel per hari minyak Murban UEA, setara kira-kira 1% permintaan dunia.

Di sisi kebijakan, Trump mengatakan AS menuntut negara-negara lain ikut melindungi Selat Hormuz dan menyebut Washington sedang berdiskusi dengan beberapa pihak untuk menjaga jalur itu. Ia juga menyatakan AS masih berhubungan dengan Iran, tetapi meragukan Teheran siap untuk pembicaraan serius. Sementara itu, International Energy Agency menyatakan lebih dari 400 juta barel cadangan minyak akan segera mulai dialirkan ke pasar, sebuah pelepasan stok rekor yang ditujukan untuk menahan lonjakan harga akibat perang Timur Tengah.

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 13 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Menguat terhadap Yen dan Euro di Tengah Dampak Konflik Iran

 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS menguat seiring arus investor menuju aset yang dinilai lebih aman, sementara euro dan yen melemah ketika konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi. Sejumlah pergerakan mata uang terbaru menunjukkan dampak risk-off yang kembali mendominasi.

Terhadap yen, dolar bergerak relatif stabil setelah menguat dalam enam dari tujuh sesi terakhir. Di sekitar 159,4 per dolar, yen berada di jalur penutupan terlemahnya sejak Juli 2024, periode ketika pemerintah Jepang melakukan intervensi valas dalam skala besar.

Terhadap euro, dolar naik 0,5% dan mengarah mencatat hari penguatan keempat berturut-turut, sekaligus berpotensi ditutup pada level yang belum terlihat sejak musim panas tahun lalu. Pergerakan ini mencerminkan kombinasi penguatan dolar sebagai safe haven dan sensitivitas euro terhadap risiko energi.

Dolar juga menguat 0,6% terhadap poundsterling, yang tertekan setelah data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi Inggris stagnan pada Januari. Data tersebut memperlemah sentimen terhadap pound di tengah kondisi global yang rapuh.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 12 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Brent Sempat Tembus $100 saat Dampak Konflik Iran Kian Dalam

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak Brent sempat kembali menembus US$100 per barel setelah perang Iran memicu kekacauan baru pada jalur pengiriman di Timur Tengah, sementara China memperketat pembatasan ekspor bahan bakar untuk menghadapi dampak konflik. Lonjakan ini menegaskan bahwa pasar kini lebih fokus pada risiko pasokan fisik dan keselamatan pelayaran dibanding “rem” sementara dari rilis cadangan darurat.

Minyak acuan global Brent sempat melonjak hingga sekitar 10% ke US$101,59 per barel, sedangkan WTI naik mendekati US$96, sebelum memangkas sebagian kenaikan. Ketegangan meningkat setelah dua tanker diserang di perairan Irak dan Oman sempat mengosongkan kapal-kapal dari terminal ekspor utamanya di luar Selat Hormuz. Serangkaian insiden ini menyoroti ancaman pasokan yang melebar, sekaligus menutupi efek rilis cadangan rekor yang ditujukan untuk menahan harga.

International Energy Agency (IEA) pada Kamis memperingatkan bahwa gangguan pasokan saat ini adalah yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global, selaras dengan beberapa hari pergerakan harga yang sangat liar. Ayunan harga juga diperparah oleh arus transaksi finansial—mulai dari opsi hingga ETF—yang ikut memperbesar volatilitas ketika headline berubah cepat.

Tanda-tanda pengetatan juga muncul dari China. Sejumlah kilang dilaporkan mulai membatalkan pengiriman ekspor produk olahan yang sudah disepakati, termasuk bensin dan diesel. Pengolah terbesar China disebut sudah diminta pekan lalu untuk menghentikan penandatanganan kontrak baru, dan arahan terbaru ini dinilai lebih ketat dibanding pedoman sebelumnya.

Di tengah itu semua, Selat Hormuz—jalur yang biasanya membawa sekitar seperlima aliran minyak dunia—masih efektif tertutup. Kondisi ini memaksa produsen utama Teluk memangkas output, sementara harga gas alam dan produk seperti diesel ikut melonjak. Setelah Brent dan WTI sempat mendekati US$120 pada Senin lalu sebelum terkoreksi, pasar kembali mengalami “whiplash” atau ayunan tajam sepanjang pekan ini.

Goldman Sachs memperingatkan harga minyak bisa melampaui puncak 2008 jika arus melalui Hormuz tetap tertekan hingga Maret. Brent pernah mencapai sekitar US$147,50 pada 2008, didorong permintaan tinggi dan pasokan yang stagnan. Intinya, jika jalur pengiriman tak pulih, tekanan pasokan bisa memaksa harga bergerak ke rezim yang lebih tinggi.

Sejumlah analis menilai kunci penurunan harga minyak tetap ada pada normalisasi Hormuz. Neil Beveridge dari Sanford C. Bernstein menegaskan satu-satunya faktor yang benar-benar bisa menurunkan harga adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Menurutnya, laju aliran dari cadangan strategis “tidak sebanding” dengan gangguan sekitar 20 juta barel per hari akibat penutupan selat—sehingga rilis cadangan hanya menjadi penahan sementara, bukan solusi struktural.

Dari sisi operasional, Irak sempat menghentikan aktivitas terminal minyaknya setelah tanker diserang, sementara Oman mengevakuasi kapal-kapal dari Mina Al Fahal sebagai langkah pencegahan—terminal yang disebut menjadi salah satu dari sedikit pelabuhan tersisa untuk menyalurkan crude Timur Tengah ke pasar global. Operasi kemudian dilaporkan kembali normal, tetapi insiden ini menambah premi risiko pelayaran.

Pemangkasan output sudah terjadi bertahap sejak Hormuz nyaris tertutup, dimulai dari Irak dan kemudian diikuti Kuwait serta Arab Saudi. Tekanan inilah yang memaksa IEA mengumumkan rilis terkoordinasi 400 juta barel, dan AS juga menyatakan rencana melepas 172 juta barel. Namun pasar menilai dampaknya masih kalah oleh realitas perang: konsumsi crude global sedikit di atas 100 juta barel per hari, sementara produsen Teluk sejauh ini sudah memangkas sekitar 6% dari total itu—dan potensi pemangkasan lanjutan masih terbuka.

Sebagian pelaku pasar bahkan menilai rilis IEA berisiko mengirim sinyal yang keliru. Ada kekhawatiran pasar “membaca” bahwa otoritas tahu sesuatu yang lebih buruk, karena setelah pengumuman rilis, harga justru kembali naik. Sentimen ini memperkuat tema utama minggu ini: pasar tak hanya menilai pasokan, tapi juga keamanan pelayaran dan ketidakpastian durasi perang.

Di sisi diplomasi, Iran disebut menyampaikan kepada perantara regional bahwa gencatan senjata mensyaratkan AS menjamin bahwa Washington maupun Israel tidak akan menyerang Iran di masa depan—syarat yang dinilai kecil kemungkinan diterima. Presiden Donald Trump kembali mengatakan perang akan segera berakhir, namun juga mengisyaratkan AS akan bertahan selama diperlukan untuk menyelesaikan tujuannya.

Pada perdagangan terbaru di London, Brent untuk pengiriman Mei naik sekitar 6,4% ke US$97,90 per barel, sementara WTI untuk April menguat sekitar 6,1% ke US$92,60 per barel—menggambarkan bahwa pasar masih menempel ketat pada headline Hormuz dan risiko pasokan, meski rilis cadangan darurat sudah digelontorkan.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 11 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Data Inflasi Inti AS Stabil, Pasar Tunggu Arah Kebijakan Fed

 

PT Equityworld Futures Semarang – Inflasi inti Amerika Serikat menunjukkan tanda stabil pada Februari 2026. Core CPI tahunan tercatat 2,5%, tidak berubah dari bulan sebelumnya dan tetap berada di dekat level terendah sejak 2021. Sementara itu, secara bulanan core CPI naik 0,2%, lebih rendah dibandingkan kenaikan 0,3% pada Januari, menandakan tekanan harga inti masih terkendali.

Di sisi lain, inflasi utama atau headline CPI tercatat 2,4% secara tahunan, sama seperti Januari, sedangkan secara bulanan naik 0,3%. Data ini memberi sinyal bahwa inflasi AS belum kembali memanas, tetapi juga belum cukup lemah untuk mendorong perubahan besar pada ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Bagi pasar, angka ini cenderung dibaca netral: dolar AS berpotensi bergerak terbatas, sementara emas bisa mendapat sedikit ruang apabila pelaku pasar melihat tekanan inflasi inti mulai mereda.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 10 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Nikkei Melonjak 3% Dipimpin Real Estat dan Perbankan

 

PT Equityworld Futures Semarang – Saham Jepang menguat pada penutupan perdagangan Selasa(10/3), dengan Indeks Nikkei 225 naik 3,00% seiring reli dipimpin sektor real estat, perbankan, dan tekstil. Kenaikan yang luas tercermin dari dominasi saham yang menguat di Bursa Efek Tokyo, dengan 3.318 saham naik berbanding 400 turun, sementara 99 stagnan.

Penguatan paling menonjol datang dari saham teknologi dan industri tertentu. Lasertec melesat 14,53% ke 34.770, disusul Sumitomo Electric yang naik 8,83% ke 9.931 dan Furukawa Electric yang naik 8,52% ke 27.455, menandai minat beli kuat pada saham-saham berkapitalisasi besar dan sensitif siklus.

Di sisi lain, beberapa emiten melemah meski indeks menguat. Rohm turun 5,15% ke 3.295, Shift melemah 4,13% ke 715,50, dan Nitori turun 2,96% ke 2.803, menunjukkan rotasi sektor masih terjadi di tengah reli yang tidak sepenuhnya merata.

Di balik penguatan ekuitas, ukuran risiko pasar juga meningkat. Indeks Volatilitas Nikkei naik 38,86% ke 57,00, mencetak level tertinggi baru dalam enam bulan. Kenaikan volatilitas ini mengindikasikan pelaku pasar tetap memasang premi perlindungan (hedging) meski harga saham naik, sejalan dengan kondisi global yang masih bergerak cepat.

Pasar komoditas turut menjadi latar penting sesi ini. Minyak WTI turun 6,12% ke US$88,97 per barel dan Brent turun 6,01% ke US$93,01, sementara emas naik 1,63% ke US$5.186,76 per troy ounce. Di pasar valuta, USD/JPY turun 0,13% ke 157,56 dan EUR/JPY turun 0,09% ke 183,31, dengan Indeks Dolar AS berjangka melemah 0,48% ke 98,69.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 09 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Safe Haven vs Inflasi Energi, Siapa Menang?

 

PT Equityworld Futures Semarang – Pergerakan emas cenderung “ditarik” oleh dua kekuatan yang saling bertabrakan: di satu sisi, eskalasi perang di Timur Tengah bikin permintaan safe haven tetap ada; tapi di sisi lain, lonjakan minyak yang ekstrem justru memicu kekhawatiran inflasi kembali naik, sehingga pasar menilai The Fed bisa menahan suku bunga tinggi lebih lama. Kombinasi “oil shock → fear inflasi → suku bunga lebih tinggi lebih lama” ini biasanya jadi angin lawan untuk emas, karena emas adalah aset non-yielding yang kurang menarik ketika yield naik.

Tekanan makin terasa ketika dolar AS ikut menguat. Dalam kondisi gejolak global, dolar sering jadi safe haven “saingan” emas karena sangat likuid dan jadi tempat parkir dana cepat. Jadi meskipun headline perang biasanya mendukung emas, efek turunan perang yang mengangkat dolar dan yield bisa membuat emas sulit reli. Ditambah lagi, ketika pasar saham dan aset berisiko bergejolak, emas kadang ikut dijual sebagai sumber likuiditas—bukan karena narasi safe haven hilang, tapi karena sebagian pelaku pasar butuh cash untuk menutup margin/kerugian di instrumen lain.

Secara teknikal, bias intraday emas masih rapuh selama harga tertahan di bawah area psikologis sekitar 5.100-an dan dolar/yield belum mendingin. Zona support dekat yang paling banyak dipantau berada di kisaran 5.100–5.070; kalau area ini jebol dan tekanan minyak-yield tetap kuat, emas berisiko memperpanjang koreksi ke support berikutnya yang lebih bawah. Sebaliknya, jika area tersebut bertahan, biasanya pasar akan melihatnya sebagai “lantai” untuk rebound jangka pendek, apalagi kalau muncul arus buy-on-dip.

Dari sisi resistance, pantulan pertama yang wajar biasanya mengarah ke area 5.200-an. Namun untuk menembus lebih tinggi dan mempertahankan reli, emas umumnya butuh katalis yang menurunkan tekanan makro—misalnya dolar melemah atau yield turun—bukan cuma berita perang. Setelah itu, resistance lanjutan berada di area yang lebih tinggi (sekitar 5.240–5.310), yang biasanya baru teruji kalau market masuk fase “relief” dan risk premium perang mulai stabil.

Kesimpulannya, emas hari ini sangat “headline-driven”: eskalasi perang tetap jadi penopang bawah, tetapi selama lonjakan minyak memicu ketakutan inflasi dan membuat dolar/yield menguat, ruang naik emas cenderung terbatas dan volatilitas tetap tinggi. Cara bacanya simpel: selama pasar masih menganggap konflik ini lebih “inflationary” daripada sekadar “risk-off”, emas akan bergerak rumit—bisa memantul sebagai safe haven, tapi sering tertahan oleh dolar dan yield yang lebih dominan.

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 06 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Terkoreksi Tipis Jelang NFP

 

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks dolar (DXY) turun sekitar 0,3% ke 99,02 pada Jumat (6/3) ketika harga minyak melemah dan pasar menunggu rilis nonfarm payrolls (NFP) AS. Koreksi minyak terjadi setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan langkah “stop-gap” untuk meredakan tekanan pasokan energi terkait konflik Timur Tengah, mengurangi dorongan safe-haven dolar di awal sesi.

EUR/USD bergerak sedikit menguat. Euro berada di sekitar 1,1607–1,1619 (sekitar +0,1%), meski masih berada dalam tekanan mingguan karena pasar menilai lonjakan biaya energi dapat membebani prospek Eropa, sementara data AS membuat ekspektasi penurunan suku bunga Fed lebih hati-hati.

GBP/USD menguat tipis ke sekitar 1,3364–1,3369 (sekitar +0,1%). Sterling tetap sensitif terhadap risiko inflasi energi, tetapi rebound kecil mencerminkan pelemahan dolar jelang NFP dan pemulihan risk appetite yang terbatas saat minyak koreksi.

AUD/USD ikut menguat di area 0,7038 (sekitar +0,43% dari penutupan sebelumnya 0,7008), sejalan dengan pelemahan dolar dan meredanya tekanan minyak. Namun, Aussie tetap rentan bila NFP memperkuat narasi “Fed lebih ketat lebih lama”.

USD/JPY relatif datar di sekitar 157,60 (sekitar +0,04%), menandakan yen belum mendapat dorongan kuat meski DXY melemah, karena pasar masih menimbang kombinasi yield AS, volatilitas geopolitik, dan risiko intervensi Jepang.

USD/CHF melemah tipis ke sekitar 0,7803 (sekitar -0,12%), menunjukkan franc sedikit menguat terhadap dolar saat tekanan safe-haven mereda bersama koreksi minyak. Meski begitu, dolar tetap mencatat kinerja mingguan kuat karena konflik Iran dan repricing suku bunga.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 05 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Bursa Eropa Melemah, Geopolitik Iran dan Spanyol Tekan Sentimen

 

PT Equityworld Futures Semarang – Saham-saham Eropa kembali dibuka di zona merah pada Kamis (5/3) ketika pelaku pasar terus memantau eskalasi perang AS–Israel melawan Iran. Indeks Stoxx 600 turun 0,4% tak lama setelah pembukaan, dengan FTSE 100 melemah 0,3%, DAX turun sekitar 0,6%, dan CAC 40 terkoreksi 0,5%.

Spanyol ikut tertekan, dengan IBEX turun 0,4% di awal perdagangan. Pasar memberi perhatian khusus pada Madrid setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memutus seluruh perdagangan dengan Spanyol karena menolak mengizinkan pangkalan militernya dipakai untuk serangan terhadap Iran.

Secara sektoral, pelemahan menyebar luas. Hampir seluruh sektor utama bergerak negatif, kecuali Oil & Gas, Utilities, serta Food & Beverages yang relatif bertahan, mencerminkan preferensi defensif di tengah ketidakpastian geopolitik.

Konflik Timur Tengah tetap menjadi jangkar risiko. Israel meluncurkan serangan baru ke Teheran pada Rabu, sementara menteri pertahanannya menyatakan akan “menghancurkan” kapabilitas rezim Iran. Di saat yang sama, AS menyebut telah menghancurkan 17 kapal Iran dan hampir 2.000 target.

Di luar geopolitik, agenda pasar juga diwarnai laporan keuangan dari Merck, DHL Group, Reckitt Benckiser, Galderma Group, dan Universal Music Group, serta rilis data penjualan ritel terbaru Uni Eropa yang berpotensi memengaruhi sentimen domestik kawasan.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 04 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Bitcoin Menguat, Trump Dorong “Crypto Agenda”

 

PT Equityworld Futures Semarang – Bitcoin kembali menguat pada Rabu (4/3), mendapat dukungan terbatas dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mendorong dukungan regulasi lebih baik bagi industri aset kripto. Meski demikian, kekhawatiran terkait konflik AS–Iran dan potensi dampaknya terhadap inflasi membuat reli kripto dinilai masih rapuh.

Pada 04:04 ET, Bitcoin naik sekitar 4% ke US$71.224. Penguatan ini datang setelah pasar sempat bergerak hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pada aset berisiko.

Trump, melalui unggahan media sosial pada Selasa malam, mengkritik bank-bank besar AS yang dinilainya berupaya melemahkan GENIUS Act—regulasi stablecoin—dengan menahan laju pengesahan CLARITY Act di Senat. Trump menilai dukungan regulasi diperlukan agar agenda kripto AS tidak “berpindah” ke negara lain jika proses legislasi tersendat, serta mendorong bank untuk membuat kesepakatan dengan industri kripto.

Dari sisi makro, pasar tetap dibayangi risiko inflasi jika konflik berujung pada gangguan pasokan minyak global. Inflasi yang lebih “lengket” berpotensi menjaga ekspektasi kebijakan moneter tetap ketat, yang biasanya menekan aset berisiko melalui kanal suku bunga riil dan kondisi likuiditas.

Koin utama lain ikut menguat namun pergerakannya tidak seragam. Ether naik 4% ke US$2.062,77 sementara XRP naik tipis ke US$1,3594. Solana dan BNB terangkat lebih dari 2%, sedangkan Cardano naik sekitar 3,4%. Di segmen meme token, Dogecoin melemah 2,6% dan $TRUMP turun 3,4%.

Pelaku pasar akan memantau perkembangan konflik AS–Israel–Iran, dinamika harga minyak yang memengaruhi ekspektasi inflasi, serta arah pembahasan regulasi kripto di AS—khususnya kelanjutan GENIUS Act dan CLARITY Act—sebagai penentu sentimen berikutnya. 

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 03 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Menguat, Pasar Valas Masuk Mode “Risk-Off”

Will Bitcoin Strengthen or Weaken US Dollar Dominance? | The Daily Economy 

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks dolar AS (DXY) menguat di sesi Eropa hari Selasa (3/3) seiring meningkatnya permintaan safe-haven di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. DXY tercatat di sekitar 98,97, naik sekitar +0,59% pada hari ini, mempertegas dominasi dolar saat pelaku pasar mengurangi eksposur risiko.

Tekanan paling jelas terlihat pada GBP/USD, yang melemah ke kisaran 1,3336, turun sekitar -0,54%. Pelemahan pound mencerminkan kombinasi penguatan dolar dan perubahan preferensi investor ke aset defensif, di tengah kekhawatiran energi dan inflasi global yang kembali meningkat.

Sementara itu, EUR/USD merosot menuju level terendah sejak pertengahan Januari. Di sesi Eropa, euro diperdagangkan sekitar 1,1622–1,1662, dengan penurunan harian sekitar -0,21% hingga -0,56%, seiring pasar menilai risiko guncangan energi yang dapat menekan pemulihan ekonomi kawasan dan mempersulit jalur inflasi.

Di Asia hingga berlanjut ke Eropa, USD/JPY bertahan tinggi di sekitar 157,53, menguat tipis sekitar +0,08%. Yen kembali sensitif terhadap lonjakan biaya energi (Jepang sebagai importir), sementara penguatan dolar tetap mendapat dukungan dari repricing ekspektasi suku bunga AS dan arus safe-haven.

Untuk mata uang defensif lainnya, USD/CHF menguat ke sekitar 0,7843, naik sekitar +0,64%, menandakan dolar saat ini lebih “dipilih” pasar dibanding haven tradisional. Di saat yang sama, AUD/USD bergerak relatif stabil di 0,7091, turun tipis sekitar -0,04%, karena dolar Australia tertahan oleh sentimen risk-off meski Australia diuntungkan sebagai eksportir energi. 

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 26 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Nikkei Menguat, Real Estat dan Perbankan Pimpin Kenaikan

 

PT Equityworld Futures Semarang – Saham-saham Jepang ditutup menguat pada Kamis(26/2), ditopang kenaikan di sektor real estat, perbankan, dan tekstil yang mendorong indeks utama bertahan di zona hijau hingga akhir sesi. Penguatan ini juga terjadi saat pasar terlihat lebih tenang, tercermin dari turunnya indeks volatilitas Nikkei yang mengindikasikan meredanya ketegangan jangka pendek.

Di level indeks, Nikkei 225 berakhir lebih tinggi, dengan penguatan dipimpin oleh beberapa saham berkapitalisasi besar. NEC mencatat lonjakan paling menonjol, disusul Recruit Holdings dan M3, yang sama-sama menguat signifikan dan membantu menopang performa indeks secara keseluruhan.

Meski begitu, pasar tidak bergerak seragam. Sejumlah saham justru melemah dan menjadi pemberat, termasuk Taiyo Yuden, Sumitomo Electric Industries, dan Takashimaya. Namun secara umum, jumlah saham yang naik masih lebih banyak daripada yang turun di Bursa Efek Tokyo, menandakan bias sentimen harian yang cenderung positif.

Dari pasar lain, pergerakan komoditas cenderung stabil dengan minyak menguat tipis, sementara emas berjangka melemah ringan. Di pasar valuta asing, USD/JPY bergerak turun, sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS berjangka yang menunjukkan greenback sedikit kehilangan tenaga pada sesi tersebut.

PT Equityworld Futures Semarang 

PT Equityworld Futures Semarang – USD Stabil, Risiko Tarif & Geneva Jadi Penentu

 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS bergerak stabil pada Kamis setelah sempat melemah, seiring sentimen risiko membaik usai laporan kinerja Nvidia yang solid. Pada 03:00 ET (08:00 GMT), Dollar Index (DXY) tercatat naik tipis ke sekitar 97,650, meski secara mingguan masih mengarah pada penurunan sekitar 0,2%.

Dorongan awal datang dari Nvidia yang melaporkan penjualan kuartal Januari melampaui ekspektasi dan memberikan proyeksi pendapatan kuartal berjalan di atas perkiraan pasar. Dampaknya, permintaan terhadap aset safe haven—termasuk dolar—sedikit mereda karena risk appetite membaik, walau respons pasar global tetap terukur.

Namun fokus utama pelaku pasar kini beralih ke arah kebijakan tarif AS pasca putusan Mahkamah Agung (20 Februari) yang menggugurkan “emergency tariffs” Trump. USTR Jamieson Greer menyebut tarif untuk sejumlah negara berpotensi naik ke 15% atau lebih dari tarif global 10% yang baru diberlakukan, meski detail negara/mitra dagang belum diungkap. Ketidakjelasan ini menjaga volatilitas USD tetap hidup.

Di sisi geopolitik, pasar juga mencermati pertemuan pejabat AS–Iran di Jenewa yang berfokus pada negosiasi nuklir. Potensi eskalasi tetap menjadi “wild card” utama: jika tensi meningkat, dolar berpeluang kembali mendapat dorongan broad-based sebagai safe haven, terutama karena kalender data AS relatif sepi.

Di Eropa, EUR/USD terkoreksi tipis ke sekitar 1,1798, sementara pasar menimbang rilis keyakinan konsumen dan inflasi—yang dinilai belum cukup untuk mengubah ekspektasi bahwa ECB cenderung bertahan dengan sikap kebijakan saat ini. Di Inggris, GBP/USD melemah ke 1,3523 meski survei CBI menunjukkan sentimen jasa membaik, mengindikasikan sterling masih sulit memimpin tanpa katalis yang lebih kuat.

Di Asia, USD/JPY turun ke sekitar 156,01 setelah Gubernur BOJ Kazuo Ueda menegaskan bank sentral akan mencermati data pada rapat Maret (18–19) dan April (27–28), membuka peluang kenaikan suku bunga bila tren inflasi dan upah tetap kuat—mendukung penguatan yen.

Sementara itu, USD/CNY melemah ke sekitar 6,8392 (mendekati level terkuat multi-bulan bagi yuan) menjelang pertemuan tahunan National People’s Congress yang memicu spekulasi dukungan kebijakan dan sinyal stimulus. Di Antipodean, AUD/USD turun tipis ke 0,7114 dan NZD/USD ke 0,5988, mengikuti nada pasar yang masih menunggu kepastian headline tarif AS.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 24 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Geopolitik Dorong Minyak Dekati Tertinggi 7 Bulan

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak menguat pada Selasa (24/2) dan mendekati level tertinggi dalam tujuh bulan, ketika pelaku pasar menilai potensi risiko pasokan akibat kemungkinan eskalasi militer menjelang putaran baru pembicaraan nuklir AS–Iran. Kenaikan didorong oleh meningkatnya premi risiko, meski belum ada gangguan pasokan yang terjadi secara nyata.

Kontrak berjangka Brent naik 48 sen (0,7%) ke US$71,97 per barel pada pukul 06.58 GMT, sementara WTI menguat 45 sen (0,7%) ke US$66,76 per barel. Brent berada di level terkuat sejak 31 Juli, sedangkan WTI mencatat posisi tertinggi sejak 1 Agustus.

Sejumlah analis menilai penggerak utama kenaikan kali ini adalah faktor geopolitik. Phillip Nova menyebut kekuatan harga minyak saat ini lebih banyak ditopang oleh antisipasi, bukan kehilangan pasokan yang sudah terjadi. Dengan kata lain, pasar sedang “memasukkan” skenario risiko terburuk ke dalam harga.

Putaran ketiga perundingan nuklir AS–Iran dijadwalkan berlangsung Kamis di Jenewa, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Oman. Pemerintah AS mendorong Iran untuk menghentikan program nuklirnya, sementara Iran menolak dan menegaskan tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir. Ketegangan ini membuat sentimen pasar sangat reaktif terhadap perkembangan diplomasi dan retorika.

Kekhawatiran eskalasi meningkat setelah Departemen Luar Negeri AS menarik personel non-esensial beserta keluarga dari Kedutaan AS di Beirut. Di saat yang sama, Presiden Donald Trump kembali memperingatkan bahwa akan menjadi “hari yang sangat buruk” bagi Iran jika kesepakatan tidak tercapai—pernyataan yang memperkuat persepsi risiko konflik.

Dari sisi teknikal, OANDA menilai faktor geopolitik kemungkinan tetap menjadi pendorong utama harga minyak dalam jangka pendek. Untuk WTI, dinamika bullish jangka pendek masih terlihat selama harga bertahan di atas rata-rata bergerak 20 hari, dengan area sekitar US$63,90 dipandang sebagai penopang penting.

Di luar geopolitik, pasar juga memantau kebijakan perdagangan AS. Trump memperingatkan negara-negara agar tidak menarik diri dari kesepakatan dagang yang sudah dinegosiasikan, dan membuka kemungkinan penerapan tarif lebih tinggi melalui dasar hukum lain.

Analis UOB menilai ketidakpastian tarif berisiko menekan prospek pertumbuhan global dan permintaan energi, sehingga membuat harga minyak sensitif terhadap perubahan sentimen—diapit antara premi geopolitik dan kekhawatiran permintaan.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 23 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Saham Eropa Dibuka Melemah, Tarif Baru Trump Tekan Sentimen

 

PT Equityworld Futures Semarang – Bursa saham Eropa memulai pekan di zona merah pada Senin (23/2) saat pasar global merespons kebijakan tarif terbaru Presiden AS Donald Trump.

Indeks pan-Eropa Stoxx 600 turun sekitar 0,3% pada awal perdagangan di London, dengan mayoritas sektor dan bursa utama ikut melemah.

Pelemahan ini terjadi setelah pasar Eropa sempat menguat pada akhir pekan lalu, dipicu putusan Mahkamah Agung AS yang menolak sebagian besar tarif “resiprokal” Trump. Namun, optimisme tersebut cepat memudar ketika Trump mengumumkan pada akhir pekan bahwa ia akan menerapkan tarif global 15% sebagai tarif “payung”, naik dari 10%.

Trump menyatakan tarif baru itu berlaku segera dan memberi sinyal masih ada kemungkinan bea tambahan berikutnya. Pernyataan ini membuat investor kembali khawatir terhadap risiko perang dagang, potensi aksi balasan dari mitra dagang, serta dampaknya terhadap rantai pasok dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan ketidakpastian yang meningkat, pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan menunggu kejelasan detail kebijakan serta respons negara-negara lain. Fokus investor kini tertuju pada arah negosiasi dagang ke depan dan apakah tarif baru ini akan memukul prospek kinerja perusahaan-perusahaan global yang sensitif terhadap perdagangan internasional.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 19 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Konsolidasi, Geopolitik Jadi Pemicu Berikutnya

Dollar advances against peers after strong U.S. economic data 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS menguat pada paruh kedua perdagangan Rabu (19/22), lalu bergerak mendatar pada Kamis pagi setelah pasar mencerna nada hawkish dari risalah rapat The Fed. Fokus berikutnya tertuju pada rilis Goods Trade Balance AS dan Initial Jobless Claims, sementara pelaku pasar tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik.

Risalah The Fed menegaskan bank sentral tidak bergerak dengan “bias satu arah”. Sejumlah pejabat disebut ingin bahasa kebijakan yang lebih dua sisi, termasuk membuka kemungkinan kenaikan suku bunga bila inflasi kembali bertahan di atas target. Dampaknya, USD Index sempat naik lebih dari 0,5% pada Rabu dan menyentuh area 97,80, sebelum stabil di sekitar 97,70.

Sorotan geopolitik ikut menguat setelah laporan media AS menyebut militer AS siap untuk kemungkinan aksi terhadap Iran secepat akhir pekan. Ketegangan ini menjadi pendorong aset safe haven: emas tetap kuat di atas $5.000, sementara pasar FX cenderung lebih berhati-hati.

Dari Australia, data tenaga kerja menunjukkan pengangguran tetap 4,1% pada Januari (lebih baik dari perkiraan 4,2%). Meski kenaikan jumlah pekerjaan +17,8K sedikit di bawah estimasi, AUD/USD tetap menguat dan bertahan di atas 0,7050 karena pasar menilai kondisi tenaga kerja masih relatif solid.

Di Selandia Baru, komentar gubernur baru RBNZ yang menegaskan kebijakan akan disesuaikan jika outlook inflasi berubah membantu NZD/USD rebound setelah jatuh lebih dari 1% sehari sebelumnya. Pair ini naik kembali ke sekitar 0,5980.

Sementara itu di mayor pairs, EUR/USD sempat tertekan akibat penguatan dolar pada Rabu, lalu mencoba pulih ke area 1,1800. GBP/USD juga sempat menyentuh level terendah empat pekan di sekitar 1,3480 sebelum kembali ke area 1,3500, sedangkan USD/JPY melanjutkan kenaikan dan bertahan di sekitar 155,00.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 18 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Perak Stabil Naik, Pasar Menunggu Sinyal Cut Rate

Harga Perak Hari Ini: Perbedaan Perak Murni dan Heritage Antam LM, Mana  yang Paling Untung untuk Investasi? - Pikiran Rakyat Bengkulu 

PT Equityworld Futures Semarang – Perak menguat ke sekitar $74 per ons pada Rabu, menghentikan pelemahan dua sesi beruntun. Kenaikan ini didorong aksi dip-buying dan penataan posisi investor menjelang rilis FOMC Meeting Minutes dari pertemuan The Fed bulan Januari.

Pasar saat ini masih memperhitungkan kemungkinan beberapa kali pemangkasan suku bunga dalam tahun ini, sebuah latar yang umumnya mendukung aset yang tidak memberi imbal hasil (non-yielding) seperti perak. Namun, ekspektasi tersebut belum sepenuhnya “lurus”, karena arah kebijakan masih sangat bergantung pada data berikutnya.

Komentar terbaru pejabat bank sentral memberi sinyal bahwa suku bunga bisa ditahan lebih lama, meski peluang pemangkasan tambahan tetap terbuka bila inflasi terus bergerak menuju target 2%. Karena itu, minutes menjadi bahan penting untuk membaca seberapa kompak The Fed: cenderung menahan, atau mulai membuka ruang pelonggaran.

Selain minutes, pelaku pasar juga memantau komentar lanjutan pejabat The Fed dan data ekonomi AS pekan ini, terutama GDP dan core PCE, untuk mengukur kekuatan ekonomi sekaligus arah inflasi. Di sisi lain, penguatan dolar sebelumnya dan meredanya ketegangan geopolitik sempat menekan permintaan safe-haven, sementara likuiditas pasar tetap tipis karena sebagian bursa Asia libur Imlek.

Dampak ke market: jika minutes bernada hawkish (tahan suku bunga lebih lama), biasanya dolar menguat, sementara emas dan perak cenderung tertekan. Jika minutes bernada dovish (lebih dekat ke cut), dolar melemah dan emas–perak berpeluang menguat. Untuk oil, responsnya lebih campuran: dolar yang lebih kuat bisa menahan harga minyak, tetapi arah akhirnya sering ditentukan kombinasi sentimen risiko dan headline geopolitik.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 11 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Emas Menguat, Pasar Menunggu Data Kunci AS

Harga Emas Turun! Kapan Waktu yang Ideal Beli Emas Berdasarkan Weton? 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga emas naik pada Rabu(11/2) karena kombinasi klasik: dolar AS melemah dan yield obligasi AS turun, bikin emas jadi lebih menarik (karena biaya peluang pegang emas mengecil). Pemicu utamanya datang dari data penjualan ritel AS (core retail sales) yang lebih lemah, yang bikin pasar makin yakin ekonomi lagi mendingin dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed di 2026 tetap hidup—ini biasanya jadi bensin buat emas.

Selain faktor suku bunga, sentimen “safe haven” juga ikut nyala karena tensi geopolitik (AS–Iran) masih bikin pasar waspada, sementara pelaku pasar sekarang fokus nunggu rilis data tenaga kerja AS (Non-Farm Payrolls) sebagai penentu arah berikutnya: kalau data kerja melemah, peluang cut rate makin kebuka dan emas cenderung lanjut kuat.

Harga emas pada saat analisis ini adalah $5.101

- Beli jika harga bergerak di bawah $5.113

- Jual jika harga bergerak di bawah $5.087

 

Resistensi 2: $5,149

Resistensi 1: $5.123

 

Dukungan 1: $5,071

Dukungan 2: $5,045

Penafian

Artikel ini bersifat analitis dan bukan merupakan referensi definitif. Harap mempengaruhi pengaruh perkembangan fundamental dan teknikal dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi apa pun.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 10 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Setelah Drop, USD/CHF Masuk Mode Konsolidasi

 

PT Equityworld Futures Semarang – USD/CHF tertahan di sesi Eropa hari Selasa (10/2), seolah masuk mode “cooldown” setelah dua hari sebelumnya jatuh tajam. Kurs terakhir bergerak di sekitar 0,7673, naik tipis sekitar +0,10% hari ini—praktis masih di area 0,7657–0,7678 buat range harian.

Pasar kelihatan lagi konsolidasi: aksi jual dolar kemarin sudah “dibayar”, sekarang trader lebih pilih nunggu amunisi data dari AS—terutama Retail Sales yang rilis di sesi Amerika nanti. Setelah sederet sinyal tenaga kerja yang mendingin belakangan ini, data belanja konsumen bakal jadi petunjuk penting: ekonomi masih tahan banting atau mulai ngedrop.

Sementara itu, kalender data AS minggu ini lagi padat karena efek shutdown: Jobs Report Januari dijadwalkan keluar Rabu, 11 Februari 2026, dan CPI Januari keluar Jumat, 13 Februari 2026. Dua data ini biasanya langsung nge-shift ekspektasi suku bunga—yang ujungnya juga ngaruh ke arah USD dan pairing safe-haven kayak CHF.

Dari sisi Swiss, sentimen konsumen masih minus (belum masuk zona optimis). Data resmi terakhir yang dipublikasikan menyebut indeks sentimen konsumen Swiss di -31 (Desember 2025), menunjukkan mood rumah tangga masih hati-hati walau ada komponen tertentu yang membaik. 

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 09 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Sinyal Tenang dari Oman, Harga Minyak Ikut Turun

Harga Minyak Masih Tersandung Perang Dagang, Brent Naik Tipis 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak melemah lagi pada Senin (9/2), karena pasar mulai “ngebuang” premi risiko Timur Tengah setelah AS dan Iran sepakat melanjutkan pembicaraan tidak langsung soal program nuklir Teheran. Di sesi Eropa, tekanan ini terlihat jelas di kedua acuan utama.

Pada 09:27 GMT, Brent turun 24 sen (-0,3%) ke $67,62 per barel, sementara WTI turun 34 sen (-0,3%) ke $63,12. Angka ini menegaskan bahwa sentimen hari ini lebih condong ke “tensi mereda” ketimbang “pasokan bakal terganggu”.

Kunci ceritanya ada di Oman: hasil pembicaraan Jumat disebut “positif” oleh kedua pihak, sehingga kekhawatiran pasar bahwa negosiasi gagal dan memicu konflik terbuka jadi sedikit menurun. Meski AS masih menambah kekuatan militer di kawasan, investor membaca jalur diplomasi masih hidup—dan itu cukup untuk menekan harga jangka pendek.

Tapi pasar tetap sadar, risikonya belum hilang. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia lewat Selat Hormuz—kalau jalur ini terganggu, dampaknya bisa langsung terasa ke harga. Apalagi Menlu Iran juga sempat memperingatkan akan menyerang pangkalan AS di Timur Tengah jika Iran diserang, jadi bara konflik masih ada walau sementara ditutup “kabar negosiasi lanjut”.

Di luar geopolitik, faktor Rusia ikut bikin trader deg-degan. Eropa sedang mendorong langkah untuk membatasi pendapatan minyak Rusia, dan ada sinyal kilang-kilang India mulai menghindari pembelian kargo Rusia untuk pengiriman April—yang kalau berlanjut bisa mengubah arah arus pasokan global. Minggu lalu, Brent dan WTI juga sudah turun lebih dari 2% (koreksi pertama dalam tujuh minggu), jadi sentimen “turun dulu” masih terasa kuat di awal pekan ini. 

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 06 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – SNB Terlihat “Mundur”, Franc Berpotensi Makin Kuat

 

PT Equityworld Futures Semarang – Franc Swiss (CHF) mulai kembali dilirik sebagai aset aman, seiring risiko geopolitik yang belum benar-benar reda dan bank sentral yang terlihat makin “jarang turun tangan” di pasar valuta. Di kondisi kayak gini, CHF biasanya diuntungkan—apalagi ketika pasar global lagi gampang panik sama headline.

Pada sesi Eropa Jumat (6/2), USD/CHF berada di kisaran 0,778 (sekitar 0,7779–0,7784). Pergerakan ini menggambarkan dolar sedikit melemah dari dorongan risk-off sebelumnya, namun secara mingguan USD/CHF masih sempat mencatat kenaikan.

Cerita utamanya datang dari Timur Tengah: AS dan Iran memulai negosiasi di Oman, tapi Iran sendiri sudah mengingatkan bahwa ini kemungkinan bukan solusi cepat. Di saat yang sama, laporan juga menyinggung adanya penumpukan kekuatan militer AS di kawasan—kombinasi yang bikin pasar susah “tenang” dan menjaga permintaan safe-haven tetap hidup.

Dari sisi Swiss, data terbaru menunjukkan cadangan devisa/foreign currency reserves Swiss turun pada Januari, yang secara umum bisa terjadi karena efek valuasi dan pergerakan pasar. Tapi yang penting buat pelaku pasar FX: ketika tanda-tanda intervensi bank sentral tidak terlihat agresif, peluang CHF menguat bisa lebih terbuka.

Di belakang layar, SNB juga baru mengumumkan penyesuaian aturan remunerasi sight deposits (mulai berlaku 1 Maret 2026). Meski ini bukan “intervensi langsung”, langkah-langkah operasional seperti ini sering dibaca pasar sebagai sinyal SNB sedang mengatur instrumen likuiditas—sementara membiarkan kurs bergerak lebih natural kecuali ada gejolak ekstrem.

Kesimpulannya: selama geopolitik tetap rawan headline dan SNB tidak terlihat aktif menahan penguatan CHF, risiko USD/CHF turun (CHF menguat) masih ada. Titik pantau dekat-dekat ini biasanya ada di area 0,776–0,775 sebagai support intraday, sementara 0,780–0,782 jadi area resistance terdekat jika dolar tiba-tiba balik kuat.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 05 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Bursa Jepang Terkoreksi Jelang Pemilu

Bursa Saham Jepang Siap Naik, Mengekor Rekor Wall Street 

PT Equityworld Futures Semarang – Saham-saham Jepang melemah menjelang pemilu majelis rendah “dadakan” akhir pekan ini, membuat pelaku pasar memilih defensif sambil menunggu arah politik dan gelombang rilis kinerja emiten. Sentimen risk-off muncul karena investor mengurangi posisi di saham-saham yang sensitif terhadap volatilitas, terutama sektor teknologi.

Pada penutupan perdagangan Kamis, Topix turun tipis sekitar 0,1% ke 3.652,41, sementara Nikkei melemah lebih dalam sekitar 0,9% ke 53.818,04. Pergerakan ini mencerminkan pasar yang cenderung “wait and see” menjelang hari pemungutan suara.

Tekanan terbesar datang dari saham-saham terkait teknologi. SoftBank Group menjadi kontributor negatif utama setelah turun sekitar 7%, terseret sentimen usai proyeksi penjualan Arm Holdings dinilai mengecewakan investor—membuat minat risiko pada tema AI/tech kembali mereda.

Di sisi domestik, faktor politik ikut menahan minat beli. Perdana Menteri Sanae Takaichi menjadwalkan pemilu pada 8 Februari sebagai langkah untuk memperkuat mandat koalisi. Namun, menjelang momen penting seperti ini, pasar biasanya mengurangi eksposur karena risiko kejutan hasil pemilu bisa memicu pergerakan cepat di yen, obligasi, dan saham.

Selain itu, laporan kinerja perusahaan juga ikut membebani indeks. Saham Rohm misalnya, anjlok sekitar 9% setelah outlook dinilai kurang meyakinkan dan laba operasional kuartal III dilaporkan di bawah ekspektasi rata-rata analis—menambah tekanan pada saham chip Jepang.

Intinya, bursa Jepang sedang berada di fase “uji ketahanan”: pemilu + earnings jadi kombinasi yang bikin investor lebih selektif. Jika hasil pemilu memberi kepastian arah kebijakan, pasar berpeluang stabil—tapi bila muncul sinyal fiskal/agresif yang memicu volatilitas yen dan yield, tekanan di saham bisa berlanjut.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 04 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Emas Makin Kuat, Tunggu ADP & ISM

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga emas melanjutkan penguatannya mendekati $5.100 pada Rabu (4/2) dan sempat mencetak level tertinggi mingguan di sesi Eropa. Emas spot terakhir berada di sekitar $5.082,94 per ons (+2,9%), menjaga momentum rebound setelah reli besar sehari sebelumnya.

Sentimen safe-haven kembali dominan setelah tensi AS–Iran memanas. Pasar bereaksi terhadap laporan bahwa AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk AS USS Abraham Lincoln di Laut Arab—kejadian yang langsung menghidupkan lagi “risk premium” geopolitik.

Dari sisi makro, emas juga terbantu karena dolar AS belum mampu pulih kuat. Ketidakpastian arah kebijakan The Fed (ditambah penundaan sebagian data ketenagakerjaan) membuat pasar lebih berhati-hati, sehingga aset tanpa imbal hasil seperti emas tetap punya ruang untuk menguat saat permintaan lindung nilai meningkat.

Kalau ditarik beberapa hari ke belakang, gerak emas ini memang ekstrem. Harga sempat “dibanting” sampai $4.403,24 pada Senin, lalu memantul agresif—sehingga kini emas sudah naik sekitar $680 dari titik rendah tersebut dan mulai mendekati lagi level psikologis $5.100.

Selanjutnya, pasar menunggu pemicu baru dari data AS malam ini: ADP Employment Change dan ISM Services PMI. Dua rilis ini bisa menggeser ekspektasi suku bunga dan mengubah arah dolar—yang pada akhirnya ikut menentukan apakah emas sanggup menembus dan bertahan di atas $5.100 atau justru kembali volatile.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 03 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Aussie Menguat Setelah RBA “Ketatkan” Kebijakan

Mau Liburan ke Australia? Yuk, Kenalan Sama Mata Uangnya, Destinasi Seru,  dan Kuliner Hits! 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Australia menguat pada hari Selasa (3/2) setelah Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga acuan (cash rate) 25 bps menjadi 3,85% pada rapat kebijakan pertama 2026. Kenaikan ini menandai perubahan arah yang cukup tegas: RBA menilai tekanan harga kembali mengeras sejak paruh kedua 2025 dan inflasi berisiko bertahan di atas target lebih lama, sehingga bank sentral perlu kembali “mengencangkan” kebijakan.

Reaksi pasar langsung terlihat di mata uang. AUD/USD saat ini berada di sekitar 0,703 (naik sekitar 1% pada hari ini), lebih tinggi dibanding level 0,7008 yang disebut di laporan sebelumnya. Penguatan AUD didorong kombinasi “rate advantage” (imbal hasil Australia naik) dan ekspektasi bahwa RBA masih membuka peluang langkah lanjutan jika data inflasi tidak cepat turun.

Namun, ruang apresiasi AUD tetap akan dipengaruhi dua faktor: (1) seberapa kuat sinyal RBA soal kenaikan berikutnya (apakah “data-dependent” atau mengarah ke jalur pengetatan), dan (2) arah dolar AS—karena bila USD kembali menguat tajam, AUD biasanya ikut tertahan meski domestiknya positif.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 02 Februari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Awal Pekan Tegang: Dolar Stabil, Yen & Aussie Tertekan

7 Cara Menabung Dollar (USD) Agar Maksimal dan Efektif - Pintu News 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS masih bertahan kuat pada Senin (2/2), saat pelaku pasar mulai “mengukur” seperti apa arah Federal Reserve jika benar dipimpin Kevin Warsh. Di saat yang sama, koreksi tajam di logam mulia dan minyak ikut menekan mata uang-mata uang komoditas—membuat awal pekan terasa lebih tegang dan penuh agenda besar.

Tekanan dari komoditas tidak berhenti di situ. Pelemahan harga merembet ke pasar saham Asia dan Eropa, menandakan sentimen risk-off belum benar-benar hilang. Pekan ini juga padat katalis: ada rangkaian pertemuan bank sentral, rilis data ekonomi kelas berat, sampai pemilu Jepang yang mulai jadi fokus baru trader global.

Di pasar valas, yen kembali jadi sorotan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyinggung “manfaat yen lemah” dalam pidato kampanyenya pada akhir pekan, nada yang dinilai bertabrakan dengan upaya kementerian keuangan Jepang yang selama ini berusaha menahan pelemahan yen. Kombinasi komentar tersebut dan isu pemilu membuat yen kembali rentan ditekan.

Indeks dolar (DXY) terakhir berada di sekitar 97,21, relatif stabil setelah reli sekitar 1% pada Jumat yang dipicu kabar Trump memilih Warsh sebagai calon ketua The Fed berikutnya. Pasar menilai Warsh cenderung tidak akan mendorong pemangkasan suku bunga secara cepat seperti skenario yang sempat diharapkan sebagian investor—walau tetap ada perdebatan, karena ia juga dipandang lebih “lunak” dibanding ketua saat ini Jerome Powell.

Sementara itu, euro dan pound bergerak terbatas. EUR/USD tertahan di sekitar 1,1852, cukup jauh dari level 1,20 yang sempat terlihat sebelumnya. GBP/USD juga cenderung datar di sekitar 1,3690. Fokus pasar tertuju ke keputusan ECB dan Bank of England pada Kamis, yang secara umum diperkirakan masih menahan suku bunga.

Di kelompok mata uang komoditas, tekanan terlihat lebih jelas. Dolar Australia sempat turun hingga 0,7% ke 0,6908 sebelum membaik, menjelang keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia pada Selasa—meski pasar masih banyak yang memperkirakan kenaikan suku bunga. Dolar Selandia Baru sempat turun ke 0,5991, sementara dolar Kanada melemah tipis.

Untuk yen, pelemahan bertahan di sekitar 154,90 per dolar, ikut dipengaruhi ekspektasi bahwa partai Takaichi berpeluang menang besar. Survei Asahi menyebut LDP bisa melampaui mayoritas, yang memicu spekulasi kebijakan fiskal lebih ekspansif dan pemotongan pajak—dua hal yang bisa menambah kekhawatiran pasar pada kondisi fiskal Jepang. Meski begitu, yen masih punya “rem” alami: trader tetap waspada pada risiko intervensi jika pelemahan bergerak terlalu cepat, apalagi setelah wacana koordinasi AS–Jepang sempat mencuat belakangan ini.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 29 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Goyah Dekat Terendah, Pasar Waspada “Risiko Besar”

Will Bitcoin Strengthen or Weaken US Dollar Dominance? | The Daily Economy 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS masih goyah pada Kamis (29/1) dan bertahan dekat level terendah beberapa tahun, karena pasar menilai risiko dari kebijakan ekonomi dan manuver geopolitik AS makin menumpuk. Komentar penenang dari Gedung Putih dan sebagian pejabat Eropa memang sempat meredam kepanikan, tapi belum cukup untuk mengubah sentimen besar: investor masih waspada, terutama setelah aksi jual dolar yang tajam di awal pekan.

Dari sisi moneter, Federal Reserve memberi nada yang lebih “tenang” soal pasar tenaga kerja dan risiko inflasi. Pesan yang ditangkap pasar: suku bunga bisa ditahan lebih lama. Jerome Powell juga memberi sinyal tidak terburu-buru memangkas bunga lagi, bahkan ada ekonom yang menilai siklus penurunan suku bunga bisa saja sudah selesai. Sejumlah proyeksi ekstrem muncul—ada yang melihat langkah berikutnya justru kenaikan suku bunga, bukan pemangkasan.

Di Eropa, euro yang sempat menembus $1,20 ikut “ngebut” karena dolar melemah, namun kemudian sedikit turun ke sekitar $1,1980 setelah pejabat ECB mengingatkan penguatan euro yang terlalu cepat bisa menekan inflasi (efek deflasi). Meski begitu, ECB menilai kebijakan saat ini sudah “di posisi yang baik” dan suku bunga kemungkinan bertahan cukup lama. Pasar bahkan masih mem-price suku bunga stabil hingga awal 2027.

Walau tekanan jual dolar tidak sebrutal awal pekan, greenback tetap tertinggal terhadap mata uang utama. Dolar melemah terhadap franc Swiss mendekati level terendah 11 tahun, sementara pound bertahan dekat puncak 4,5 tahun. Dolar Australia ikut menguat ke puncak 3 tahun, ditopang spekulasi kenaikan suku bunga di dalam negeri.

Di Asia, yen mendapat napas karena dolar melemah, sementara isu terbesar yang terus menghantui adalah independensi The Fed—pasar menilai ini bisa jadi faktor penentu apakah dolar masih mampu mempertahankan “status dominannya” ke depan.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 28 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang –Dolar Mulai “Napas”, Tapi Pasar Masih Tegang Jelang Fed

Hari Ini, Nilai Tukar Dollar AS Tembus Rp16 Ribu 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS mulai menemukan pijakan pada Rabu sore (28/1) pasca mengalami aksi jual tajam, dengan Presiden AS Donald Trump terlihat santai menanggapi pelemahan terbaru mata uang tersebut. Di saat yang sama, laporan kinerja perusahaan yang cukup solid membuat saham global bertahan dekat rekor tertinggi, sementara perhatian pasar mengunci ke keputusan suku bunga Federal Reserve.

Meski dolar bergerak menjauh dari level terendah empat tahun, sentimen pasar masih rapuh. Ini menyusul aksi jual paling tajam sejak gejolak tarif Trump mengguncang pasar pada April lalu. Bursa saham Eropa melemah, tetapi kontrak berjangka saham AS mengarah ke pembukaan yang positif di Wall Street. Di Asia, Nikkei Jepang naik tipis, sementara indeks saham dunia (MSCI World) masih bertahan di sekitar rekor.

Analis Nordea, Jan von Gerich, menilai situasi sekarang lebih spesifik menjadi “cerita dolar”, bukan lagi pelarian besar-besaran dari aset AS seperti pekan lalu. Ia menyoroti satu hal penting: pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell malam ini bisa saja menyinggung tekanan politik—sesuatu yang selama ini dihindari Powell.

The Fed sendiri diperkirakan menahan suku bunga. Namun rapat kali ini dibayangi isu politik yang sensitif: adanya investigasi kriminal terhadap Powell, upaya yang berkembang untuk memecat Gubernur Fed Lisa Cook, serta rencana penunjukan pengganti Powell yang masa jabatannya disebut berakhir pada Mei.

Di pasar valas, Dollar Index (mengukur dolar terhadap enam mata uang utama) naik 0,25% ke 96,16 setelah sehari sebelumnya anjlok lebih dari 1% hingga menyentuh level terendah empat tahun. Trump menyebut nilai dolar “great” saat ditanya apakah dolar sudah turun terlalu jauh. Meski komentar itu bukan hal baru, pasar menangkapnya sebagai sinyal bahwa pemerintah tidak keberatan dolar melemah—membuat para pelaku pasar makin berani menekan dolar, apalagi di tengah spekulasi potensi intervensi terkoordinasi AS–Jepang untuk menstabilkan yen.

Pelemahan dolar sebelumnya sempat mengangkat euro menembus $1,20 untuk pertama kalinya sejak 2021, mendorong dolar Australia ke atas 70 sen (level tertinggi tiga tahun), mengerek emas ke puncak baru, dan ikut mengangkat harga komoditas yang dihitung dalam dolar.

Menurut Steve Englander dari Standard Chartered, biasanya pejabat akan menahan pergerakan mata uang yang terlalu mendadak—tapi ketika presiden terlihat “tidak peduli” atau bahkan seolah mendukung, penjual dolar jadi makin agresif.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 26 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Ambruk, Yen Ngegas, Sinyal Intervensi Diam-Diam?

 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS jatuh tajam pada Senin (26/1), sementara yen Jepang melonjak karena pasar mencium aroma intervensi terkoordinasi AS–Jepang. Di 04:10 ET (09:10 GMT), Dollar Index turun 0,4% ke 96,975, level terendah sejak pertengahan September.

Tekanan terbesar ke dolar datang dari pasangan USD/JPY. Pada Jumat, pasangan ini sudah anjlok 1,7% dan lanjut melemah di awal pekan. Pasar menduga otoritas Jepang (dan mungkin AS) sedang “turun tangan” untuk mendukung yen yang sebelumnya tertekan.

Spekulasi makin kencang setelah muncul kabar New York Fed melakukan “rate checks” pada USD/JPY sekitar tengah hari Jumat—langkah yang sering dibaca pelaku pasar sebagai sinyal awal sebelum intervensi. Analis ING menyebut dugaan aksi jual USD/JPY terjadi di momen yang kurang bagus buat dolar, karena sentimen terhadap aset AS juga sedang rapuh.

Meski begitu, ING menilai gerakan ini bukan murni fundamental, dan pertemuan FOMC pekan ini malah bisa jadi sedikit mendukung dolar. The Fed akan menutup rapat kebijakan dua hari pada Rabu, dan pasar luas memperkirakan suku bunga ditahan. Fokus utama justru ke nada Jerome Powell soal kapan pemangkasan suku bunga dimulai; ING bahkan memperkirakan potensi cut di Maret dan Juni, meski ada risiko mundur sekitar tiga bulan.

Di Eropa, arus keluar dari dolar ikut mengangkat mata uang lain. EUR/USD naik 0,2% ke 1,1853, menembus area resistensi besar 1,1800/1810. Namun data Jerman agak nge-rem: indeks iklim bisnis Ifo bertahan di 87,6 pada Januari (ekspektasi 88,3). GBP/USD naik tipis 0,1% ke 1,3663, sementara USD/CHF turun 0,4% ke 0,7773—menunjukkan franc Swiss juga lagi dicari sebagai aset aman.

Di Asia, pasnagan USD/JPY turun lagi 1,1% ke 154,02, level terkuat yen sejak akhir November, memicu short covering setelah sebelumnya banyak posisi yang “ngincer yen melemah”. Pasar makin sensitif karena pejabat AS–Jepang dikabarkan intens berkomunikasi soal FX.

Sementara itu, USD/CNY turun 0,1% ke 6,9571, AUD/USD naik 0,2% ke 0,6911, dan NZD/USD naik 0,2% ke 0,5960.

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 23 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Emas Ngegas Dekat $5.000—Dunia Mulai Cari “Pelindung” Baru

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga emas makin dekat ke level psikologis $5.000 per ons, didorong kombinasi risiko geopolitik dan kekhawatiran baru soal independensi Federal Reserve. Reli kali ini terasa berbeda karena pasar melihat banyak perubahan besar yang sulit diukur, tapi dampaknya nyata ke arah aliran dana.

Pada Jumat, emas sempat mencetak rekor di atas $4.967 dan berpeluang menutup pekan dengan kenaikan hampir 8%. Dolar yang melemah ikut jadi bensin tambahan karena membuat logam mulia lebih “murah” bagi pembeli di luar AS.

Sejumlah pelaku pasar menyebut emas sedang mengalami “penilaian ulang” yang lebih permanen, seiring munculnya retakan pada tatanan global lama. Ketika aturan main dan hubungan antarnegara makin sulit ditebak, emas kembali diposisikan sebagai perlindungan terhadap risiko “perubahan rezim” yang tidak mudah dihitung.

Kenaikan ini datang setelah emas membukukan performa tahunan terbaik sejak 1979, lalu masih lanjut naik sekitar 15% di awal tahun ini. Serangan Trump terhadap The Fed, ditambah eskalasi seperti intervensi militer di Venezuela dan ancaman menganeksasi Greenland, memperkuat narasi “debasement trade”: investor mengurangi ketergantungan pada mata uang dan obligasi negara, lalu mencari aset alternatif seperti emas.

Di sisi lain, ada pandangan bahwa sisi pasokan emas tidak cukup elastis untuk menahan lonjakan permintaan diversifikasi saat ketegangan politik dan pasar AS meningkat. Karena suplai tak bisa cepat bertambah, batas “plafon” harga dinilai jadi lebih rapuh ketika arus pembelian menguat.

Proyeksi bank besar ikut mempertegas tren. Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi $5.400 per ons dari sebelumnya $4.900, dengan alasan permintaan dari investor privat dan bank sentral yang terus menguat di tengah ketidakpastian kebijakan global.

Contohnya, bank sentral Polandia—yang dikenal agresif membeli emas—disebut menyetujui rencana membeli tambahan 150 ton untuk berjaga-jaga terhadap instabilitas geopolitik. Di saat yang sama, kepemilikan India atas US Treasuries turun ke level terendah lima tahun, mencerminkan pergeseran sebagian cadangan ke alternatif seperti emas.

Reli juga merembet ke logam mulia lain. Perak ikut mendekati $100 per ons dan sudah lebih dari tiga kali lipat dalam setahun terakhir, dibantu short squeeze historis dan gelombang pembelian ritel yang membuat rantai pasok keteteran. Kebingungan soal kebijakan lisensi ekspor China menambah kesan “langka”, sementara volatilitas tinggi membuat bank cenderung mengurangi posisi, yang ironisnya bisa memicu pergerakan makin liar.

5 poin penting:

- Emas sempat rekor > $4.967 dan mengincar hampir $5.000/oz, ditopang dolar melemah.

- Kenaikan mingguan hampir 8%, dan emas sudah naik sekitar 15% di awal tahun ini setelah performa tahunan terbaik sejak 1979.

- Narasi pasar: ketidakpastian geopolitik + isu independensi The Fed mendorong “debasement trade” (kabur dari obligasi/mata uang ke emas).

- Goldman naikkan proyeksi akhir tahun ke $5.400/oz; pembelian bank sentral (contoh Polandia) ikut memperkuat demand.

- Perak dan platinum ikut pecah rekor; volatilitas meningkat karena persepsi kelangkaan, short squeeze, dan bank mengurangi posisi.

PT Equityworld Futures Semarang