Rabu, 28 Mei 2025

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Galau, Tiba-tiba Terkoreksi Tipis Meski Dibuka Menguat

Turunnya-Indeks-Harga-Saham-Gabungan-(IHSG)

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tipis pada penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, Rabu (28/5/2025). Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan hari ini IHSG sempat dibuka menguat, namun berbalik arah sepanjang perdagangan intraday.

Indeks melemah 6 poin atau turun tipis 0,08% dan ke level 7.193,02. Sebanyak 263 saham naik, 288 turun, dan 248 tidak bergerak.

Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 8,44 triliun yang melibatkan 14,84 miliar saham dalam 678.934 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkerek naik menjadi Rp 12.521 triliun.

Mengutip data Refinitiv, mayoritas sektor usaha diperdagangkan di zona merah dengan pelemahan terbesar terjadi di sektor kesehatan. Sektor teknologi tercatat mengalami penguatan terbesar.

Saham BBRI dan BMRI tercatat menjadi pemberat utama kinerja IHSG dengan pelemahan masing-masing 4,6 dan 4,4 indeks poin.

Secara teknikal, IHSG mendekati level resistance 7.300, namun potensi koreksi membayangi karena pekan ini hanya ada tiga hari perdagangan menjelang libur Kenaikan Isa Almasih. Di tengah kehati-hatian pelaku pasar, sentimen global justru membaik setelah JP Morgan menaikkan rating pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi overweight.

Adapun pasar modal di Indonesia akan mengakhiri perdagangan pekan ini pada hari ini, Rabu (28/5/2025). Pasar keuangan akan ditutup pada Kamis dan Jumat untuk libur Kenaikan Yesus Kristus. Mengingat terbatasnya hari perdagangan maka investor mesti berhitung cermat dalam mengambil keputusan.

Melonjaknya pasar keuangan AS, Eropa, dan Asia menjadi kabar baik bagi Indonesia. Dow Jones Industrial Average melonjak 740,58 poin atau 1,78% ke 42.343,65 dan S&P 500 naik 2,05% ke 5.921,54, sekaligus menghentikan tren penurunan selama empat hari.

Nasdaq Composite mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,47% ke level 19.199,16. Saham-saham teknologi seperti Tesla menjadi pendorong utama penguatan indeks, mencerminkan kembalinya minat beli investor terhadap sektor tersebut.

Lalu di Jepang, indeks acuan Nikkei 225 naik 1,06% sedangkan Topix menguat 0,88%. Kenaikan ini mencerminkan respons positif investor terhadap peredaan ketegangan dagang dan prospek ekonomi global.

Begitu pula indeks Kospi Korea Selatan tercatat naik 0,65% dan indeks Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil juga naik 0,53% dan indeks acuan S&P/ASX 200 turut mencatat kenaikan sebesar 0,21%.

Sementara itu, The Fed akan mengumumkan risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Kamis pagi pekan ini. Pasar keuangan Indonesia memang tutup pada Kamis tetapi investor juga mesti mempertimbangkan dampak dari risalah tersebut.

RisalahFOMC yang keluar pekan ini adalah hasil rapat untuk kebijakan suku bunga pada 8 Mei lalu. The Fed kembali menahan suku bunganya di level 4,25-4,50% pada 8 Mei 2025i. Keputusan ini mencerminkan sikap The Fed yang hati-hati dalam mengantisipasi dampak kebijakan tarif impor Presiden AS Donald Trump.

PT Equityworld Futures Semarang

Selasa, 27 Mei 2025

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Menguat Dalam Perdagangan Volatil, Digendong Saham BRPT-BBRI

IHSG Kembali Dibuka di Zona Hijau

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat dalam perdagangan yang cukup volatil hari ini, Selasa (27/5/2025). IHSG yang sempat dibuka di zona hijau pada pembukaan perdagangan berakhir merah di akhir sesi pertama hingga akhirnya balik menguat di akhir perdagangan sesi kedua.

IHSG yang dibuka naik 0,21% ke level 7.203,77 tercatat sempat turun ke level 7.162,96 pada perdagangan intraday sesi kedua sebelum akhirnya ditutup menguat 0,15% atau naik 10,61 poin ke 7.198,97.

Sebanyak 310 saham naik, 311 turun, dan 185 tidak bergerak. Nilai transaksi tengah hari ini mencapai Rp 13,33 triliun yang melibatkan 27,21 miliar saham dalam 1,28 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar bursa tercatat Rp 12.516 triliun.

Mayoritas sektor perdagangan berada di zona hijau, dengan finansial dan konsumer primer tercatat tertekan.

Bank Central Asia (BBCA) tercatat menjadi beban utama pelemahan IHSG dengan koreksi 11,92 indeks poin. Saham BBCA turun 1,82% ke Rp 9.450 per saham.

Sementara itu, BRPT dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi penggerak utama IHSG dengan kontribusi masing-masing 8,10 dan 7,64 indeks poin.

Meski secara teknikal IHSG mendekati resistance 7.300, risiko koreksi tetap membayangi terutama karena pekan ini hanya akan ada 3 hari perdagangan menjelang libur Kenaikan Isa Almasih. Di tengah periode pendek ini, investor cenderung berhati-hati.

Namun di tengah tekanan tersebut, sentimen global cenderung membaik. Seiring dengan hal tersebut JP Morgan kembali menaikkan rating pasar emerging market termasuk Indonesia menjadi overweight.

Ada lima alasan utama JP Morgan, yaitu mulai redanya tensi perang dagang, pemulihan ekonomi China, pelemahan dolar AS, valuasi yang atraktif, serta peluang pemangkasan suku bunga The Fed.

Di dalam negeri Bank Indonesia (BI) kembali menambah pasokan likuiditas ke sektor perbankan lewat Kebijakan LikuiditasMakroprudensial (KLM). Tambahan likuiditas ini mencapai sekitar Rp80 triliun dan efektif berlaku mulai 1 April 2025.

Dana tersebut diberikan sebagai insentif berupa pengurangan giro wajib minimum, dan diarahkan untuk mendukung penyaluran kredit yang produktif serta menjaga stabilitas likuiditas sistem keuangan.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Minggu mengatakan bahwa ia telah menyetujui perpanjangan batas waktu penerapan tarif 50% terhadap Uni Eropa hingga 9 Juli.

"Saya menyetujui perpanjangan tersebut - hingga 9 Juli 2025 - Merupakan kehormatan bagi saya untuk melakukannya," tambahnya.

PT Equityworld Futures Semarang

Kamis, 22 Mei 2025

PT Equityworld Futures Semarang – Tinggalkan Emas, Warga Amerika Lebih Jor-joran Beli Bitcoin

Bitcoin Dinilai Bisa Menjadi Aset Safe Haven Seperti Emas, Ini Alasannya -  TribunNews.com

PT Equityworld Futures Semarang – Warga Amerika Serikat (AS) lebih memilih Bitcoin sebagai instrumen investasi dibandingkan emas.

Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh The Nakamoto Project dan didukung oleh platform keuangan River mengungkapkan bahwa sekitar 50 juta warga Amerika kini memiliki Bitcoin.

Jumlah ini melampaui jumlah pemilik emas yang diperkirakan sebanyak 36,7 juta orang. Temuan ini menandai perubahan signifikan dalam preferensi investasi masyarakat AS, yang sebelumnya dikenal lebih konservatif dengan memilih aset tradisional seperti emas.

Data tersebut menunjukkan bahwa sekitar 15% populasi Amerika Serikat (AS) kini memiliki Bitcoin, sementara kepemilikan emas hanya sekitar 11%.

Pergeseran ini mencerminkan peningkatan kepercayaan terhadap mata uang digital seiring dengan semakin meluasnya pemahaman publik terhadap manfaat teknologi blockchain dan adopsi institusional terhadap aset kripto.

Tak hanya individu, sejumlah perusahaan besar dan lembaga pemerintah mulai menunjukkan ketertarikan terhadap Bitcoin. Bahkan, dalam salah satu surveinya, The Nakamoto Project mencatat bahwa 80% responden mendukung diversifikasi cadangan emas negara dengan memasukkan Bitcoin, dengan alokasi rata-rata sebesar 10%. Ini menunjukkan bahwa Bitcoin bukan lagi dipandang sebagai instrumen spekulatif semata, melainkan bagian dari strategi keuangan jangka panjang.

 

Adopsi Bitcoin di Amerika Serikat semakin meluas, didorong oleh berbagai faktor seperti kemudahan akses melalui aplikasi investasi ritel, tekanan inflasi, serta ketidakstabilan makroekonomi yang mendorong pencarian aset lindung nilai baru. Di sisi lain, generasi muda yang tumbuh dengan teknologi digital mendorong narasi "digital native", sementara dukungan institusional dari perusahaan besar seperti Tesla dan MicroStrategy turut memperkuat legitimasi Bitcoin sebagai aset investasi yang layak.

Perkembangan ini mulai memberikan dampak nyata terhadap industri keuangan tradisional. Minat terhadap emas sebagai satu-satunya safe haven mulai berkurang, dan portofolio investasi kini banyak yang mulai melibatkan aset kripto.

Lembaga keuangan konvensional pun dipaksa mengevaluasi ulang strategi mereka dalam menghadapi perubahan preferensi investor, serta mempertimbangkan integrasi aset digital dalam sistem keuangan mereka.

Secara politik, tren ini juga mengundang perhatian pemerintah. Pemerintah AS mulai mempertimbangkan Bitcoin sebagai bagian dari kebijakan moneter, bahkan mantan Presiden Trump dikabarkan mendukung eksplorasi cadangan Bitcoin nasional. Para analis seperti dari JPMorgan memperkirakan bahwa dalam dekade mendatang, Bitcoin dapat melampaui emas sebagai aset pilihan utama, mencerminkan perubahan mendasar dalam arsitektur keuangan global.

PT Equityworld Futures Semarang

Rabu, 21 Mei 2025

PT Equityworld Futures Semarang – BI Rate 5,50% Bikin Rupiah Perkasa, Dolar AS Kini Rp16.395!

Makin Tangguh, Rupiah Sukses Bekuk Dolar AS Hari Ini

PT Equityworld Futures Semarang – Rupiah masih bertahan di zona positif usai Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan pada Rabu hari ini (21/5/2025).

Merujuk data Refinitinv, rupiah berada di posisi Rp16.395/US$, sejak dibuka pada perdagangan hari ini sampai pukul 14.45 WIB telah menguat 0,09%.

Penguatan ini bisa dibilang menyusut, karena pada siang tadi sempat menguat nyaris 0,50% ke posisi Rp16.315/US$.

 

Penguatan rupiah yang menyusut seiring dengan keputusan Bank Indonesia (BI) yang akhirnya memangkas suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%. Suku bunga Deposit Facility juga turun menjadi sebesar 4,75% dan suku bunga Lending Facility turun menjadi 6,25%.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (21/5/2025) menjelaskan, keputusan tersebut konsisten dengan perkiraan inflasi 2025 dan 2026 yang rendah dan terkendali pada 2,5% plus minus 1%, mempertahankan niali tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"BI akan menjaga inflasi dalam sasaran dan nilai tukar rupiah sesuai fundamental mencermati kondisi terkini serta mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dinamika yang terjadi," kata Perry.

Perbankan, kata Perry akan didorong untuk menyalurkan kredit lebih tinggi agar ekonomi mampu tumbuh ke depannya.

Sebelumnya, BI rate ditahan pada April 2025 di level 5,75%.

Konsensus CNBC Indonesia yang dihimpun dari 20 lembaga/institusi secara labil memberikan proyeksi bahwa 50% BI akan menahan suku bunganya di level 5,75%.

Sedangkan sisanya atau sebanyak 10 institusi memperkirakan bahwa BI akan menurunkan suku bunganya ke 5,50%.

PT Equityworld Futures Semarang