Selasa, 31 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – Futures emas lebih rendah pada masa dagang Asia

Prediksi Harga Emas Hari Ini: Peluang Penurunan Masih Terbuka Lebar -  Bisnis Liputan6.com

PT Equityworld Futures Semarang – Futures emas lebih rendah pada masa dagang Asia pada Selasa.

Pada Divisi Comex New York Mercantile Exchange, Futures emas untuk penyerahan Februari diperdagangkan pada USD2.619,30 per troy ons pada waktu penulisan, menurun 0,05%.

Instrumen ini sebelumnya diperdagangkan sesi rendah USD per troy ons. Emas kemungkinan akan mendapat support pada USD2.608,40 dan resistance pada USD2.655,70.

Indeks Dolar AS Berjangka yang memantau kinerja greenback versus keranjang enam mata uang utama lainnya, jatuh 0,16% dan diperdagangkan pada USD107,75.

Sementara itu di Comex, Perak untuk penyerahan Maret jatuh 0,31% dan diperdagangkan pada USD29,32 per troy ons sedangkan Tembaga untuk penyerahan Maret naik 0,02% dan diperdagangkan pada USD4,09 per pon.

PT Equityworld Futures Semarang

Senin, 30 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – Proyeksikan Tumbuh 5,1% di 2025, IMF Ungkap Kinerja Luar Biasa Ekonomi RI dalam Dua Dekade

Dirut BRI Puji Kinerja BI di Tengah Pandemi Covid-19

PT Equityworld Futures Semarang – International Monetary Fund (IMF) menyebut Indonesia berhasil melakukan transformasi ekonomi dengan luar biasa di dua dekade terakhir, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan akan berada pada level 5,1% pada tahun 2025.

IMF melalui unggahan resmi akun Instagram @the_imf pada Minggu (29/12/2024), juga mengatakan Indonesia telah berhasil meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) empat kali lipat dan menurunkan tingkat kemiskinan sepuluh kali lipat selama dua dekade terakhir.

“Hal ini mengafirmasi keberhasilan Indonesia dalam mempertahankan fundamental ekonomi untuk tetap kokoh dan sekaligus memberikan sinyal bagi dunia untuk tetap menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan yang baik bagi investasi,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi unggahan IMF tersebut, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Senin (30/12).

Dibentuk pada bulan Juli tahun 1944 pada Konferensi Bretton Woods, IMF berupaya untuk mencapai pertumbuhan dan kemakmuran berkelanjutan bagi seluruh 191 negara anggotanya.

Organisasi ini mendukung kebijakan ekonomi yang mendorong stabilitas keuangan dan kerja sama moneter, yang penting untuk meningkatkan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan ekonomi.

Dalam akun Instagram tersebut, IMF menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas di Asia Tenggara dengan 270 juta orang penduduk, membentang 3.300 mil dari barat ke timur yang memiliki jarak sama dari London ke Kabul, telah meningkatkan GDP-nya empat kali lipat menjadi US$1,4 triliun.

Selanjutnya IMF juga menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang hidup dengan pendapatan kurang dari US$2,15 per hari telah menurun sepuluh kali lipat menjadi kurang dari 2%. Disampaikan juga bahwa kota DKI Jakarta mencatat pendapatan yang nyaris setara dengan beberapa negara Eropa seperti Polandia dan Portugal.

Informasi tambahan, dilansir dari dari website resmi IMF per Oktober 2024, outlook perekonomian global untuk tahun 2024 diproyeksikan akan tumbuh pada level 3,2% dan diproyeksikan tumbuh stagnan pada level 3,2% pada tahun 2025.

Bagi negara-negara maju, pertumbuhan ekonomi tahun 2025 diproyeksikan berada pada level 1,8% serta bagi negara-negara emerging market dan developing economies diproyeksikan pada tahun 2025 berada pada level 4,2%. 

PT Equityworld Futures Semarang

Jumat, 27 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – Rupiah Terus Tertekan, Investor Was-was dan Ragu Tanamkan Modal

Viral Video Redenominasi Rupiah, Begini Penjelasan BI Solo - Espos.id |  Espos Indonesia dari Solo untuk Indonesia

PT Equityworld Futures Semarang – Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa saat ini rupiah terus berada dalam kondisi yang tertekan secara signifikan jelang tahun baru 2025. Dia menegaskan bahwa depresiasi rupiah tersebut membuat mata uang Indonesia itu gagal memenuhi ekspektasi pasar yang digadang-gadang bakal menguat dalam periode ini.

"Semua orang memprediksi bahwa di akhir tahun rupiah kemungkinan besar akan mengalami penguatan, tetapi rupanya sampai saat ini rupiah terus mengalami pelemahan," ucap Ibrahim dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (27/12/2024).

Selain itu, dia menilai jika di tingkat domestik, para investor masih terus was-was terhadap kebijakan pemerintah perihal kenaikan PPN 12% yang penerapannya dilakukan per 1 Januari 2025 nanti.

Kepastian PPN 12% ini, jelas Ibrahim, disinyalir menjadi blunder pemerintah lantaran penerapannya tidak tepat di tengah kondisi ekonomi global yang sedang berkecamuk masalah sehingga nantinya berdampak terhadap perekonomian nasional.

Tak hanya itu, kebijakan naiknya PPN tersebut juga menjadi perhatian yang sangat serius bagi masyarakat menengah ke bawah yang sedang terseok-seok menghadapi pelemahan ekonomi dan kebijakan pemerintah dalam bidang keuangan yang tidak jelas serta memberatkan.

"Sehingga perlu ada satu penundaan, bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ya memberikan saran terhadap pemerintah agar PPN 12% itu ditunda," tegasnya.

Di sisi lain, dinamika konstelasi perpolitikan Indonesia berupa Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto yang ditersangkakan oleh KPK membuat kegaduhan tersendiri bagi pasar. Sehingga, para investor asing pun merasa enggan untuk kembali masuk (inflow) dan ragu menanamkan modalnya di negara ini.

"Bahkan banyak dana-dana asing yang keluar (outflow), yang seharusnya di akhir-akhir tahun ini adalah tidak terlalu signifikan dana arus modal yang keluar, tetapi rupanya ini cukup mengagetkan," ucapnya.

Kondisi politik Indonesia saat ini, secara umum, terbilang kurang stabil. Hal ini diakibatkan banyaknya partai oposisi yang vocal terhadap pemerintah. Hal tersebut membuat para investor asing enggan untuk kembali masuk ke pasar finansial dalam negeri.

Oleh sebab itu, Ibrahim menegaskan stabilitas politik dalam negeri harus dijaga agar para investor asing tertarik kembali masuk ke pasar dalam negeri.

"Nah kita harus ingat, pemerintahan Prabowo ini baru seumur jagung, artinya stabilitas politik di dalam negeri ini sangat dibutuhkan agar investor-investor asing kembali masuk ke pasar dalam negeri. Kita juga harus tahu, sampai saat ini investor-investor asing belum berani untuk masuk apa yang dijanjikan oleh presiden sendiri karena kondisi perpolitikan pasca Sekjen PDIP Hasto," tutur Ibrahim.

Kendati demikian, dirinya masih mengapresiasi kinerja Bank Indonesia (BI) yang siap siaga standby di pasar untuk melakukan intervensi agar mata uang rupiah kembali stabil. Hanya saja, imbuhnya, upaya-upaya yang dilakukan oleh BI dinilai masih belum bisa membuat rupiah kembali menguat ke level di bawah Rp16 ribu per dolar AS.

Pemerintah, di sisi lain, juga turut mengintervensi domestik melalui berbagai kucuran stimulus seperti BLT hingga Bantuan Sosial (Bansos) yang masih dalam tahap penyaluran. Sementara itu, untuk memantau pergerakan pasar, pemerintah juga sudah menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

PT Equityworld Futures Semarang

Kamis, 26 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – TOBA Raih Laba US$34 Juta di Kuartal III 2024, Tumbuh Hampir Lima Kali Lipat

PT. Toba Pulp Lestari Melakukan Kemitraan Dengan Masyarakat Adat Di Wilayah  Operasional Perusahaan

PT Equityworld Futures Semarang – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan laba periode berjalan sebesar US$34,8 juta pada Kuartal III tahun 2024. Jumlah tersebut melesat hampir 5 kali lipat dibanding periode yang sama di tahun lalu sebesar US$ 7,4 juta.

"Hingga Kuartal III 2024, TBS berhasil mencatatkan kinerja yang baik di tengah masa transisi perusahaan," ujar Direktur TBS, Juli Oktarina, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, yang dikutip pada Selasa (24/12/2024).

Juli menjelaskan bahwa pencapaian gemilang ini didorong oleh kinerja positif sektor pertambangan batu bara dan aset PLTU yang berlokasi di Gorontalo dan Sulawesi Utara, yang beroperasi dengan baik.

TOBA mencatatkan pendapatan sebesar US$336,6 juta atau setara dengan Rp5,09 triliun pada kuartal III 2024. Meskipun demikian, pendapatan ini mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar US$370,3 juta.

 "TBS berhasil membukukan pendapatan sebesar US$337 juta, dengan EBITDA naik menjadi US$119 juta. Peningkatan EBITDA ini disebabkan oleh efisiensi operasional dan penyelesaian kontrak-kontrak yang masih berlaku dengan harga yang cukup menguntungkan," tambahnya.

Selain itu, pada November 2024, TBS melakukan divestasi dua aset PLTU dengan nilai mencapai US$144,8 juta. Langkah strategis ini memberikan TBS dana segar dan turut mengurangi nilai utang bersih perusahaan sebesar 23%, dari US$32 juta pada 2023 menjadi hanya US$19 juta pada Kuartal III 2024.

"Langkah ini mencerminkan kemampuan kami untuk terus tumbuh dan dengan lancar mendanai pengembangan proyek-proyek yang diperlukan," kata Juli.

Juli menambahkan bahwa dua bisnis pengelolaan limbah dalam portofolio TBS memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan perusahaan, dengan kontribusi sebesar US$3,7 juta pada EBITDA yang telah disesuaikan (Adjusted EBITDA) perusahaan.

”Dua bisnis pengelolaan limbah dalam portfolio bisnis TBS juga telah memberikan dampak positif ke kinerja keuangan persewang dengan berkontribusi sebesar US$ 3,7 juta pada EBITDA Rejusted Perseroan,” tutup Juli. 

PT Equityworld Futures Semarang

Selasa, 24 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Sesi Siang Masih Nestapa, AMRT, GOTO, hingga SMGR Paling Tertekan

Apa Itu IHSG? Ini Pengertian, Manfaat, dan Cara Hitungnya Halaman all -  Kompas.com

PT Equityworld Futures Semarang – Pada sesi siang perdagangan Selasa (24/12/2024), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampak masih lesu. IHSG turun tipis 3,61 poin atau -0,05% sehingga posisinya saat ini berada di level 7.092,82.

Pergerakan saham pada jeda sesi pertama ini juga terpantau diambil alih oleh tren negatif. Sebanyak 272 saham terkoreksi, 268 saham terapresiasi, dan 231 saham stagnan.

Perlu diketahui bahwa pada perdagangan pagi tadi, IHSG sempat mencetak rapor hijau dan menempati titik tertingginya pada level 7.120,57. Sementara titik terendahnya berada di level 7.071,74.

Sampai jeda makan siang ini, IHSG tercatat telah membukukan nilai transaksi mencapai Rp4,71 triliun. Hal itu diperoleh dari adanya penjualan 11,32 miliar lembar saham sebanyak 599.804 kali.

Sejumlah saham LQ45 yang menempati posisi top losers di antaranya PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang melemah -4,08%. Kemudian, GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang ambruk -2,82% dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) yang menyusut -2,09%.

Sementara saham top gainers LQ45 diduduki oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang menguat 4,60%. Disusul PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang menanjak 2,68% dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (JK:TLKM) yang naik 2,26%. 

PT Equityworld Futures Semarang

Senin, 23 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – Nilai Rupiah pada Awal Pekan Ini Menguat 66 Poin ke Rp16.124 per Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Turun Menjadi Rp16.028 –  Harianbatakpos.com

PT Equityworld Futures Semarang – Nilai tukar rupiah tampak sukses menunjukkan kinerja terbaiknya pada perdagangan Senin (23/12/2024). Merujuk dari data RTI Business pada pukul 09.33 WIB, mata uang Indonesia menguat 66 poin atau setara dengan 0,41% sehingga kursnya berada di angka Rp16.124 per dolar AS.

Selain itu, rupiah turut menampilkan keperkasaannya saat dihadapkan dengan mata uang dunia. Dilansir dari sumber yang sama, nilai mata uang Garuda kompak menanjak atas dolar Australia (0,30%), euro (0,27%), dan poundsterling (0,28%).

Sementara jika disandingkan dengan mata uang Asia, rupiah juga memperlihatkan performa positifnya. Sebab, mata uang Indonesia itu menghijau atas delapan mata uang Asia dan tak satu pun yang berada di zona merah.

Secara rinci, rupiah hari ini unjuk gigi atas yuan China (0,45%), dolar Hong Kong (0,34%), yen Jepang (0,39%), won Korea (0,54%), ringgit Malaysia (0,08%), dolar Singapura (0,45%), baht Thailand (0,34%), dan dolar Taiwan (0,72%).

Sejalan dengan menguatnya rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut tangguh pada pembukaan perdagangan hari ini. Per pukul 09.38 WIB, IHSG melesat 103,30 poin atau 1,48% ke level 7.087,16. 

PT Equityworld Futures Semarang

Jumat, 20 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – Defisit Fiskal AS Diperkirakan Tak Banyak Berubah pada Periode Kedua Trump

Siaga 'Malapetaka' Asia karena Trump Presiden AS Lagi, RI Disebut

PT Equityworld Futures Semarang – Pemerintahan Trump yang kedua kemungkinan hanya akan memberi sedikit perubahan pada defisit fiskal AS, meskipun ada janji-janji kampanye mengenai pemotongan pajak dan program-program pengeluaran, menurut para ahli strategi UBS.

"Defisit yang sudah tinggi akan memaksa kompromi pada pemotongan pajak dan janji pengeluaran, dan kami pikir pemotongan pajak perusahaan tidak mungkin terjadi tanpa adanya pendapatan tarif yang jauh lebih tinggi," kata tim yang dipimpin oleh Jason Draho dalam sebuah catatan.

Defisit pemerintah AS saat ini melebihi 7,5% dari PDB, sementara rasio utang terhadap PDB telah naik melewati 120%.

UBS mencatat bahwa meskipun krisis utang tidak akan segera terjadi karena status mata uang cadangan dolar AS dan pasar modal yang dalam, namun tetap saja "pemerintah AS tidak memiliki kapasitas pinjaman yang tidak terbatas."

Untuk menstabilkan rasio utang terhadap PDB, para ahli strategi percaya bahwa langkah-langkah seperti represi keuangan, atau pajak yang lebih tinggi kemungkinan akan diperlukan.

Kongres yang dikuasai Partai Republik, meskipun menguasai Senat, DPR, dan Kepresidenan, diperkirakan akan menghadapi rintangan. Mayoritas kongres yang tipis dan elang fiskal di dalam partai dapat menantang kebijakan fiskal yang ekspansif.

UBS menyoroti bahwa "defisit yang tinggi" saat ini menjadi kendala yang signifikan. Sebagai contoh, biaya tambahan dari kebijakan pajak dan pengeluaran yang diusulkan Trump diperkirakan mencapai $7 triliun selama 10 tahun, yang berpotensi meningkat menjadi $15 triliun dalam skenario yang lebih agresif.

"Dengan defisit anggaran yang jauh lebih tinggi saat ini dan mayoritas yang sempit, kami pikir Kongres kemungkinan besar akan enggan untuk menyetujui langkah-langkah yang akan memperlebar defisit lebih lanjut," catat para ahli strategi. "Faktanya, beberapa anggota pemerintahan telah berbicara mengenai penurunan rasio defisit terhadap PDB menjadi 3%."

Suku bunga adalah tantangan lain, karena suku bunga yang lebih tinggi telah mendorong biaya pembayaran utang pemerintah melampaui tingkat pengeluaran pertahanan. UBS memperkirakan penurunan moderat dalam biaya pinjaman tetapi mencatat risiko dari tekanan inflasi, kebijakan tarif, dan perubahan dalam kepemilikan Treasury Federal Reserve.

Bank ini melihat bahwa Partai Republik kemungkinan akan mengejar kebijakan fiskal melalui rekonsiliasi, sebuah proses yang memungkinkan perubahan anggaran dengan mayoritas Senat yang sederhana. Hal ini dapat mencakup inisiatif keamanan perbatasan dan upaya untuk memperpanjang ketentuan dari paket pajak 2017.

Namun, memperpanjang pemotongan pajak penghasilan pribadi selama satu dekade penuh akan menelan biaya $4 triliun, sebuah beban yang menurut UBS dapat dikurangi dengan membatasi perpanjangan untuk jangka waktu yang lebih pendek. Seperti yang dijelaskan oleh UBS, membatasi jangka waktu dapat mengurangi biaya menjadi $1,3 triliun untuk perpanjangan lima tahun.

"Memperpendek jangka waktu pemotongan pajak pribadi juga dapat membantu para pemimpin Partai Republik untuk tetap berada di bawah target defisit kumulatif yang telah disepakati dan membantu mendanai janji kebijakan lainnya, seperti pemotongan pajak perusahaan, pencabutan pemotongan Pajak Negara Bagian dan Pajak Daerah (SALT), dan mempertahankan pengecualian pajak properti yang lebih tinggi," para ahli strategi menjelaskan.

Upaya untuk mengimbangi langkah-langkah fiskal juga terkendala. Pendapatan dari tarif, meskipun secara politis menarik, tidak mungkin untuk mengisi kesenjangan. UBS mencatat bahwa bahkan dengan memberlakukan tarif universal 10% hanya akan menghasilkan $2 triliun selama 10 tahun, dan langkah seperti itu kemungkinan besar akan meredam aktivitas ekonomi domestik dan global.

Demikian pula, pemotongan pengeluaran atau peningkatan efisiensi akan memberikan bantuan yang terbatas, dengan UBS menggambarkan langkah-langkah tersebut seperti "mencari koin di bantal sofa."

Ketika Presiden terpilih Trump memulai masa jabatan keduanya, UBS menyoroti kekhawatiran yang meningkat atas kesehatan fiskal Amerika. Dengan utang pemerintah yang melebihi 120% dari PDB dan biaya bunga yang menghabiskan 13% dari pendapatan - tertinggi di antara negara-negara maju - kelanjutan peningkatan defisit dianggap tidak berkelanjutan.

UBS percaya bahwa meskipun risiko langsung dari krisis utang rendah, ketidakseimbangan fiskal yang tidak terkendali akan membatasi kemampuan pemerintah untuk merespons guncangan ekonomi di masa depan. Untuk mencapai keberlanjutan utang jangka panjang kemungkinan akan membutuhkan kombinasi antara pertumbuhan yang lebih tinggi, suku bunga yang lebih rendah, dan reformasi struktural, termasuk pengetatan keuangan, perubahan hak, dan kenaikan pajak.

PT Equityworld Futures Semarang

Kamis, 19 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Kamis Nestapa Sepanjang Hari, Saham BMRI Jadi Buruan Investor

IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas, Cek Saham Cuan Hari Ini

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampak mencetak rapor merah hingga akhir perdagangan Kamis, 19 Desember 2024. IHSG menukik tajam -1,84% dan kehilangan 130,63 sehingga posisinya berakhir di level 6.977,23.

Pergerakan saham pada penutupan perdagangan hari ini juga terus didominasi oleh tren positif. Total ada 521 saham terkoreksi, 170 saham stagnan, dan 97 saham terapresiasi.

Perlu diketahui bahwa IHSG sudah pernah menempati posisi tertinggi dan terendahnya. Posisi tertinggi berada di level 7.110,31 sementara posisi terendahnya pada level 6.951,05.

Baca Juga: IHSG Tersungkur ke Level 6.000-an, Kebijakan The Fed Jadi Biang Keroknya

Sampai akhir perdagangan, IHSG tercatat telah memperjualbelikan 21,71 miliar lembar saham sebanyak 1.288.088 kali. Adapun nilai transaksi yang berhasil dibukukan mencapai Rp14,13 triliun.

Pada perdagangan hari ini, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (JK:BMRI) berada di posisi puncak sebagai saham terlaris dengan nilai transaksi sebesar Rp1,57 triliun. Diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (JK:BBRI) dengan total transaksi Rp1,55 triliun dan PT Bank Central Asia Tbk (JK:BBCA) yang membukukan transaksi Rp1 triliun.

Adapun saham yang paling aktif diperdagangkan, yaitu PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) dengan frekuensi transaksi mencapai 106.340 kali. Disusul PT Era Digital Media Tbk (AWAN) dengan frekuensi 82.890 kali dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebanyak 81.080 kali.

PT Equityworld Futures Semarang

Rabu, 18 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – Turun Tipis, Harga Emas Kian Bergejolak Jelang Rapat The Fed

Harga Emas 24 Karat Naik, Sentuh Level Dekat Rekor Tertinggi

PT Equityworld Futures Semarang – Harga logam mulia global termasuk harga emas mencatat penurunan signifikan pada perdagangan di Selasa (17/12). Hal in, dipicu oleh ekspektasi terkait suku bunga serta penguatan dari Dolar Amerika Serikat (AS).

Dilansir Rabu (18/12), berikut adalah catatan pergerakan sejumlah harga logam mulia termasuk emas. Semua logam mulia kompak mengalami koreksi:

  • Emas Spot: Melemah 0,3% ke level US$2.644,84 per ons.
  • Emas Berjangka AS: Turun 0,3% menjadi US$2.661,00 per ons.
  • Perak spot: Turun 0,4% menjadi US$30,39 per ons.
  • Platinum: Melemah 0,5% ke US$931,17 per ons.
  • Paladium: Anjlok 1,2% ke US$935,19 per ons.

Analis Pasar Forex.com, Fawad Razaqzada mengatakan pasar tengah waspada terhadap keputusan yang akan diambil oleh Federal Reserve (The Fed). Meski awalnya ekspektasi pemangkasan suku bunga akan diambil oleh bank setral, hal tersebut mulai tergucang menyusul data terbaru penjualan ritel untuk November.

Data penjualan ritel pada bulan tersebut naik lebih dari perkiraan bahkan menyentuh 0,7%. Hal ini menjadi tanda masih kuatnya perekonomian domestik dan bisa menjadi alasan bank sentral menunda pemangkasan suku bunga.

“Pertanyaannya, The Fed akan lebih hawkish atau dovish daripada yang diperkirakan pasar? Dengan kondisi politik saat ini, bank sentral mungkin akan lebih berhati-hati dalam langkah-langkah berikutnya," ungkapnya.

Adapun indeks dolar tercatat naik 0,1%, hal ini membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Imbal hasil obligasi juga mencapai level tertinggi dalam empat minggu terakhir, hal tersebut semakin mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.

Dengan fokus pasar pada keputusan bank sentral, volatilitas harga emas dan logam mulia lainnya kemungkinan akan berlanjut hingga akhir minggu.

PT Equityworld Futures Semarang

Selasa, 17 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Ambruk Nyaris 1,4%, Melorot ke Level 7.100-an

IHSG Diprediksi Loyo Hari Ini

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk pada akhir perdagangan Selasa (17/12/2024). Hal ini seiring dengan rencana pemerintah tetap menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12%.
IHSG ditutup ambruk 1,39% ke posisi 7.157,73 dan merosot ke level psikologis 7.100. Nilai transaksi indeks pada hari ini mencapai sekitar Rp11 triliun dengan melibatkan 18 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,1 juta kali. Sebanyak 157 saham naik, 441 saham turun, dan 188 saham stagnan.

Tercatat seluruh sektor berada di zona merah, dengan industri menjadi yang paling parah dan turut menjadi penekan IHSG terbesar yakni mencapai 2,32%. Sementara dari sisi saham, emiten perbankan raksasa kembali menjadi penekan utama IHSG pada sesi I hari ini.

Sementara itu, IHSG kembali merana di tengah sikap investor yang masih mencerna pengumuman terkait kenaikan PPN menjadi 12% dan rencana pemberian insentif oleh pemerintah kepada masyarakat yang lebih membutuhkan.

Sebelumnya, Pemerintah akan menaikkan tarif PPN menjadi 12% per 1 Januari 2025. Namun, tidak semua barang akan terkena kenaikan tarif. Pemerintah juga memberikan sejumlah insentif paket kebijakan ekonomi untuk mendorong daya beli.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan barang kebutuhan pokok tetap dibebaskan PPN atau tarif 0%, termasuk beras. Begitu pula jasa pendidikan dan kesehatan.

Rincian mengenai jenis barang kebutuhan pokok dan barang penting (Bapokting) diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2020 (Perubahan Perpres 71 Taun 2015) tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting.

Sebagian besar jenis barang Bapokting telah diberikan fasilitas PPN, perlu perluasan fasilitas untuk yang masih terutang PPN.

Pemerintah RI juga telah resmi mengumumkan insentif pajak penghasilan (PPh) pasal 21 ditanggung pemerintah atau DTP untuk para pekerja di sektor padat karya bergaji Rp 4,8 juta sampai dengan Rp 10 juta per bulan mulai 1 Januari 2025.

PPh Pasal 21 DTP 100% itu namun hanya berlaku untuk tiga sektor padat karya saja, yaitu sektor tekstil, sepatu, dan furnitur. Artinya, para pekerja di tiga sektor padat karya itu PPh pasal 21 nya ditanggung langsung oleh pemerintah 100%.

Namun yang utama, pasar menanti "ketok palu" kebijakan suku bunga The Fed pada Kamis dini hari waktu Indonesia.

The Fed diperkirakan akan menurunkan suku bunga seperempat poin lagi, tepatnya pada 18 Desember 2024. Keputusan ini akan menandai pemotongan suku bunga tiga kali berturut-turut.

Adapun, semua kebijakan tersebut memangkas satu poin persentase penuh dari suku bunga dana federal sejak September lalu.

Sejauh ini, bank sentral Negeri Paman Sam tersebut tampaknya telah bergerak perlahan karena mereka mengkalibrasi ulang kebijakan setelah dengan cepat menaikkan suku bunga ketika inflasi mencapai titik tertinggi dalam 40 tahun.

Berdasarkan perangkat FedWatch, peluang penurunan suku bunga The Fed pada pertemuan bulan ini adalah 95,4% untuk turun 25 basis poin menjadi 4,25%-4,5%. 

PT Equityworld Futures Semarang

Senin, 16 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – Fed akan Beri Sinyal Perlambatan Siklus Pemangkasan, kata Goldman Sachs

The Fed Naikan Suku Bunga 25 Bps, Tertinggi dalam 22 Tahun!

PT Equityworld Futures Semarang – Federal Reserve kemungkinan akan memberi sinyal akan adanya siklus penurunan suku bunga yang lebih lambat pada tahun 2025 pada FOMC minggu ini, kata Goldman Sachs, dan kemungkinan tidak akan memangkas suku bunga pada bulan Januari di tengah kekhawatiran atas inflasi yang tinggi dan pasar tenaga kerja yang kuat.

Bank sentral AS ini kemungkinan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin minggu ini, sehingga total penurunan suku bunga untuk tahun ini menjadi 100 bps.

Namun Goldman Sachs mengatakan bahwa the Fed mungkin terburu-buru untuk memberi sinyal penurunan suku bunga yang lebih lambat, dan bahwa suku bunga acuan bank sentral mungkin juga lebih tinggi dari perkiraan semula.

Bank investasi ini mengatakan bahwa mereka sekarang memperkirakan the Fed akan bertahan pada bulan Januari terhadap ekspektasi sebelumnya untuk pemangkasan suku bunga.

"Salah satu alasannya adalah bahwa pengangguran telah di bawah perkiraan dan inflasi telah melampaui proyeksi FOMC, meskipun tidak ada kejutan yang cukup signifikan seperti yang terlihat," tulis analis Goldman Sachs dalam sebuah catatan.

Mereka mengatakan bahwa bank sentral mungkin juga berhati-hati dengan kebijakan-kebijakan baru di bawah pemerintahan Donald Trump, terutama dalam menghadapi kenaikan tarif perdagangan.

"Kami melihat risiko-risiko terhadap suku bunga dari potensi perubahan kebijakan di bawah pemerintahan Trump yang kedua lebih bersifat dua sisi daripada yang sering diasumsikan."

Analis Goldman Sachs juga mencatat bahwa para pejabat the Fed telah mengisyaratkan pemikiran yang lebih terbuka mengenai suku bunga acuan, dan kemungkinan akan berhati-hati dalam menentukan kapan akan menghentikan pemangkasan suku bunga.

Fokus selama pertemuan minggu ini akan tertuju pada penekanan the Fed untuk memperlambat laju pemangkasan atau menyerahkan keputusan pada proses yang bergantung pada data.

Goldman Sachs mengatakan bahwa mereka berharap untuk mendengar pesan-pesan dari kedua belah pihak dari The Fed.

Fed masih akan memangkas suku bunga pada tahun 2025, tetapi suku bunga acuan lebih tinggi
Goldman Sachs mengatakan bahwa bank sentral masih diperkirakan akan memangkas suku bunga pada bulan Maret, Juni, dan September 2025, masing-masing sebesar 25 bps.

Namun, suku bunga acuan bank sentral dalam siklus pelonggaran saat ini diperkirakan sedikit lebih tinggi pada 3,5% hingga 3,75%.

Pergeseran ekspektasi untuk suku bunga The Fed terjadi setelah pembacaan inflasi untuk bulan November, sementara data lain juga menunjukkan ketahanan di pasar tenaga kerja.

Para trader terlihat memperkirakan bahwa hampir 80% kemungkinan The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah di bulan Januari, menurut CME Fedwatch.

PT Equityworld Futures Semarang

Jumat, 13 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Loyo Lagi, Sektor & Saham Ini Biang Keladinya

Awal Pekan di Akhir November, IHSG Dibuka Merah ke Level 6.552

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau kembali melemah pada akhir perdagangan sesi I Jumat (13/12/2024), mengekor bursa saham global yang juga merana karena data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) justru lebih panas dari ekspektasi pasar.
Hingga pukul 11:30 WIB, IHSG melemah 0,37% ke posisi 7.367,15. IHSG masih berada di level psikologis 7.300.

Nilai transaksi indeks pada sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 6,3 triliun dengan melibatkan 10,1 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 575.322 kali. Sebanyak 176 saham naik, 362 saham turun, dan 235 saham cenderung stagnan.

Secara sektoral, sektor kesehatan menjadi penekan terbesar IHSG di sesi I hari ini yakni mencapai 1,49%

Sementara dari sisi saham, emiten perbankan raksasa kembali mendominasi penekan IHSG, yakni saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencapai 11,2 indeks poin, kemudian PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 8,2 indeks poin, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 7,2 indeks poin.

Selain emiten perbankan raksasa, adapula emiten telekomunikasi BUMN yakni PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar 4,6 indeks poin.

Berikut saham-saham yang menjadi penekan IHSG di sesi I hari ini.

 

IHSG kembali merana di tengah panasnya inflasi produsen AS pada November lalu. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Produsen (IHP) pada bulan lalu tumbuh mencapai 3% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dari Oktober lalu yang tumbuh 2,6%. Angka ini juga lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,6%.

Sedangkan secara bulanan (month-to-month/mtm), IHP Negeri Paman Sam bulan lalu tumbuh mencapai 0,4%, lebih tinggi dari Oktober lalu sebesar 0,3% dan juga lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,2%.

Pertumbuhan IHP AS sangat kontras dengan IHK AS yang dirilis Rabu lalu, di mana data IHK terbaru sudah sesuai dengan pasar.

Sebelumnya pada Rabu lalu, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan lalu tumbuh 2,7% (yoy), dari sebelumnya pada Oktober lalu yang tumbuh 2,6%.

Sedangkan secara bulanan, IHK AS pada November lalu tumbuh 0,3%, dari sebelumnya pada Oktober lalu yang tumbuh 0,2%.

Data IHK AS pada bulan lalu, baik secara tahunan dan bulanan sudah sesuai dengan ekspektasi pasar sebelumnya. Konsensus pasar Trading Economics sebelumnya memperkirakan IHK AS pada November tumbuh 2,7% (yoy) dan 0,3% (mtm).

Dengan beragamnya data inflasi AS, maka saat ini pasar cenderung bimbang dengan prediksi sikap bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dan sedikit khawatir jika pemangkasan suku bunga tidak terjadi pada pekan depan.

Namun, prediksi pasar akan pemangkasan suku bunga The Fed memang masih tinggi. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas pasar yang memperkirakan pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed pada pertemuan pekan depan nyaris mencapai 94,7%, turun dari perdagangan Rabu kemarin yang mencapai 98,6%.

Meski begitu, mereka mengindikasikan ekspektasi adanya jeda atau potensi ditahannya suku bunga pada Januari 2025, setelah beberapa pejabat The Fed minggu lalu mendesak kehati-hatian atas laju pelonggaran kebijakan moneter karena ekonomi tetap tangguh.

PT Equityworld Futures Semarang

 

Rabu, 11 Desember 2024

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Merana, Perbankan Jadi Biang Kerok

Tak Lagi Cetak Rekor Baru, IHSG Justru Anjlok 1,01%! - Ikutin

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah pada akhir perdagangan sesi I Kamis (12/12/2024), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) terbaru dirilis dan sudah sesuai dengan prediksi pasar sebelumnya.
Hingga pukul 12:00 WIB, IHSG merosot 0,82% ke posisi 7.403,56. Koreksi IHSG pada sesi I hari ini membuatnya makin dekati level psikologis 7.300.

Nilai transaksi indeks pada sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 6,7 triliun dengan melibatkan 13,7 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 754.078 kali. Sebanyak 201 saham menguat, 339 saham melemah, dan 242 saham cenderung stagnan.

Secara sektoral, sektor teknologi dan keuangan menjadi penekan terbesar IHSG di sesi I hari ini yakni masing-masing mencapai 1,04% dan 0,97%.

Sejalan dengan sektor keuangan yang membebani IHSG paling besar, tiga saham bank raksasa pun menjadi penekan terbesar IHSG yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang mencapai 13,4 indeks poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 11,6 indeks poin, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 11,5 indeks poin.

Berikut saham-saham yang menjadi penekan IHSG di sesi I hari ini.

 

IHSG berbalik merana karena investor cenderung mulai merealisasikan keuntungannya pasca IHSG yang sudah menguat selama empat hari beruntun.

Di lain sisi, IHSG melemah di tengah inflasi AS terbaru yang tumbuh sesuai dengan ekspektasi pasar. Semalam waktu Indonesia, Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan lalu tumbuh 2,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari sebelumnya pada Oktober lalu yang tumbuh 2,6%.

Sedangkan secara bulanan (month-to-month/mtm), IHK AS pada November lalu tumbuh 0,3%, dari sebelumnya pada Oktober lalu yang tumbuh 0,2%.

Data IHK AS pada bulan lalu, baik secara tahunan dan bulanan sudah sesuai dengan ekspektasi pasar sebelumnya. Konsensus pasar Trading Economics sebelumnya memperkirakan IHK AS pada November tumbuh 2,7% (yoy) dan 0,3% (mtm).

Adapun inflasi inti, tidak termasuk biaya pangan dan energi tumbuh 3,3% (yoy) pada November lalu, masih sama dengan periode Oktober lalu yang juga tumbuh 3,3% dan juga sudah sesuai dengan prediksi pasar sebelumnya.

Sedangkan IHK inti bulanan tumbuh 0,3% (mtm) pada November 2024, sama seperti pada Oktober 2024 yang juga tumbuh 0,3% dan angka IHK inti bulanan juga sudah sesuai dengan ekspektasi pasar.

Dengan tumbuhnya inflasi sesuai prediksi, maka pasar berharap bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menurunkan suku bunga acuan pinjaman jangka pendeknya sebesar seperempat poin persentase saat pertemuan terakhirnya di tahun ini yakni pada 18 Desember.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas pasar yang memperkirakan pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed pada pertemuan pekan depan nyaris mencapai 100%, yakni naik menjadi 98,6%, dari sebelumnya sekitar 86% pada Selasa kemarin.

PT Equityworld Futures Semarang