PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS bertahan dekat level tertinggi dalam sepekan pada Rabu (13/5), ditopang ketidakpastian baru di Timur Tengah serta respons pasar terhadap inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Indeks dolar (DXY) naik 0,2% ke 98,501, tertinggi sejak 5 Mei, sementara euro turun 0,26% ke $1,17095 dan sterling melemah 0,1% ke $1,3524.
Nada risk-off terlihat selektif: dolar Australia relatif stabil di $0,72410, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,3% ke $0,59345. Di komoditas, minyak turun sekitar 1% namun tetap kuat di atas $100/barel, dengan Brent terakhir di sekitar $106,6, menjaga sensitivitas pasar terhadap risiko pasokan dan jalur Selat Hormuz.
Faktor geopolitik kembali menjadi latar utama setelah Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran “on life support” dan Teheran menolak proposal AS untuk mengakhiri perang. Ketidakpastian ini memperkuat daya tarik dolar sebagai aset likuid, sekaligus membuat pasar menilai semakin lama gangguan berlangsung, semakin sulit posisi bank sentral dalam menyeimbangkan inflasi dan pertumbuhan.
Dari sisi makro, CPI AS April naik 3,8% yoy, tertinggi sejak Mei 2023, memperkuat repricing jalur suku bunga The Fed. Yield Treasury tenor 2 tahun dan 10 tahun bertahan dekat level tertinggi tujuh pekan di sekitar 3,9812% dan 4,461%, sementara pasar kian menyingkirkan peluang pemangkasan suku bunga tahun ini dan menilai peluang kenaikan 25 bps pada pertemuan Desember sekitar 35% (CME FedWatch).
Perhatian FX juga tertuju pada yen. USD/JPY turun tipis ke 157,77 setelah pergerakan menguat mendadak sehari sebelumnya memicu spekulasi “rate check” yang kerap dikaitkan dengan potensi intervensi. Komentar Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahwa AS-Jepang sepakat volatilitas berlebihan tidak diinginkan memberi dukungan psikologis, meski pelaku pasar menilai intervensi saja mungkin tidak cukup; BoJ juga menyatakan Bessent tidak bertemu Gubernur Kazuo Ueda saat kunjungan ke Tokyo.
Variabel yang dipantau pasar berikutnya mencakup setiap pembaruan situasi Timur Tengah dan Selat Hormuz, pergerakan yield AS pasca data inflasi, serta dinamika kebijakan Fed menjelang berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Jumat dan perkembangan pasca konfirmasi Kevin Warsh sebagai gubernur The Fed. Di Asia, yuan offshore diperdagangkan sekitar 6,79 per dolar menjelang agenda Trump ke Beijing, berpotensi menambah sensitivitas USD terhadap headline geopolitik dan diplomasi.