Kamis, 29 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Goyah Dekat Terendah, Pasar Waspada “Risiko Besar”

Will Bitcoin Strengthen or Weaken US Dollar Dominance? | The Daily Economy 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS masih goyah pada Kamis (29/1) dan bertahan dekat level terendah beberapa tahun, karena pasar menilai risiko dari kebijakan ekonomi dan manuver geopolitik AS makin menumpuk. Komentar penenang dari Gedung Putih dan sebagian pejabat Eropa memang sempat meredam kepanikan, tapi belum cukup untuk mengubah sentimen besar: investor masih waspada, terutama setelah aksi jual dolar yang tajam di awal pekan.

Dari sisi moneter, Federal Reserve memberi nada yang lebih “tenang” soal pasar tenaga kerja dan risiko inflasi. Pesan yang ditangkap pasar: suku bunga bisa ditahan lebih lama. Jerome Powell juga memberi sinyal tidak terburu-buru memangkas bunga lagi, bahkan ada ekonom yang menilai siklus penurunan suku bunga bisa saja sudah selesai. Sejumlah proyeksi ekstrem muncul—ada yang melihat langkah berikutnya justru kenaikan suku bunga, bukan pemangkasan.

Di Eropa, euro yang sempat menembus $1,20 ikut “ngebut” karena dolar melemah, namun kemudian sedikit turun ke sekitar $1,1980 setelah pejabat ECB mengingatkan penguatan euro yang terlalu cepat bisa menekan inflasi (efek deflasi). Meski begitu, ECB menilai kebijakan saat ini sudah “di posisi yang baik” dan suku bunga kemungkinan bertahan cukup lama. Pasar bahkan masih mem-price suku bunga stabil hingga awal 2027.

Walau tekanan jual dolar tidak sebrutal awal pekan, greenback tetap tertinggal terhadap mata uang utama. Dolar melemah terhadap franc Swiss mendekati level terendah 11 tahun, sementara pound bertahan dekat puncak 4,5 tahun. Dolar Australia ikut menguat ke puncak 3 tahun, ditopang spekulasi kenaikan suku bunga di dalam negeri.

Di Asia, yen mendapat napas karena dolar melemah, sementara isu terbesar yang terus menghantui adalah independensi The Fed—pasar menilai ini bisa jadi faktor penentu apakah dolar masih mampu mempertahankan “status dominannya” ke depan.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 28 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang –Dolar Mulai “Napas”, Tapi Pasar Masih Tegang Jelang Fed

Hari Ini, Nilai Tukar Dollar AS Tembus Rp16 Ribu 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS mulai menemukan pijakan pada Rabu sore (28/1) pasca mengalami aksi jual tajam, dengan Presiden AS Donald Trump terlihat santai menanggapi pelemahan terbaru mata uang tersebut. Di saat yang sama, laporan kinerja perusahaan yang cukup solid membuat saham global bertahan dekat rekor tertinggi, sementara perhatian pasar mengunci ke keputusan suku bunga Federal Reserve.

Meski dolar bergerak menjauh dari level terendah empat tahun, sentimen pasar masih rapuh. Ini menyusul aksi jual paling tajam sejak gejolak tarif Trump mengguncang pasar pada April lalu. Bursa saham Eropa melemah, tetapi kontrak berjangka saham AS mengarah ke pembukaan yang positif di Wall Street. Di Asia, Nikkei Jepang naik tipis, sementara indeks saham dunia (MSCI World) masih bertahan di sekitar rekor.

Analis Nordea, Jan von Gerich, menilai situasi sekarang lebih spesifik menjadi “cerita dolar”, bukan lagi pelarian besar-besaran dari aset AS seperti pekan lalu. Ia menyoroti satu hal penting: pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell malam ini bisa saja menyinggung tekanan politik—sesuatu yang selama ini dihindari Powell.

The Fed sendiri diperkirakan menahan suku bunga. Namun rapat kali ini dibayangi isu politik yang sensitif: adanya investigasi kriminal terhadap Powell, upaya yang berkembang untuk memecat Gubernur Fed Lisa Cook, serta rencana penunjukan pengganti Powell yang masa jabatannya disebut berakhir pada Mei.

Di pasar valas, Dollar Index (mengukur dolar terhadap enam mata uang utama) naik 0,25% ke 96,16 setelah sehari sebelumnya anjlok lebih dari 1% hingga menyentuh level terendah empat tahun. Trump menyebut nilai dolar “great” saat ditanya apakah dolar sudah turun terlalu jauh. Meski komentar itu bukan hal baru, pasar menangkapnya sebagai sinyal bahwa pemerintah tidak keberatan dolar melemah—membuat para pelaku pasar makin berani menekan dolar, apalagi di tengah spekulasi potensi intervensi terkoordinasi AS–Jepang untuk menstabilkan yen.

Pelemahan dolar sebelumnya sempat mengangkat euro menembus $1,20 untuk pertama kalinya sejak 2021, mendorong dolar Australia ke atas 70 sen (level tertinggi tiga tahun), mengerek emas ke puncak baru, dan ikut mengangkat harga komoditas yang dihitung dalam dolar.

Menurut Steve Englander dari Standard Chartered, biasanya pejabat akan menahan pergerakan mata uang yang terlalu mendadak—tapi ketika presiden terlihat “tidak peduli” atau bahkan seolah mendukung, penjual dolar jadi makin agresif.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 26 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Ambruk, Yen Ngegas, Sinyal Intervensi Diam-Diam?

 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS jatuh tajam pada Senin (26/1), sementara yen Jepang melonjak karena pasar mencium aroma intervensi terkoordinasi AS–Jepang. Di 04:10 ET (09:10 GMT), Dollar Index turun 0,4% ke 96,975, level terendah sejak pertengahan September.

Tekanan terbesar ke dolar datang dari pasangan USD/JPY. Pada Jumat, pasangan ini sudah anjlok 1,7% dan lanjut melemah di awal pekan. Pasar menduga otoritas Jepang (dan mungkin AS) sedang “turun tangan” untuk mendukung yen yang sebelumnya tertekan.

Spekulasi makin kencang setelah muncul kabar New York Fed melakukan “rate checks” pada USD/JPY sekitar tengah hari Jumat—langkah yang sering dibaca pelaku pasar sebagai sinyal awal sebelum intervensi. Analis ING menyebut dugaan aksi jual USD/JPY terjadi di momen yang kurang bagus buat dolar, karena sentimen terhadap aset AS juga sedang rapuh.

Meski begitu, ING menilai gerakan ini bukan murni fundamental, dan pertemuan FOMC pekan ini malah bisa jadi sedikit mendukung dolar. The Fed akan menutup rapat kebijakan dua hari pada Rabu, dan pasar luas memperkirakan suku bunga ditahan. Fokus utama justru ke nada Jerome Powell soal kapan pemangkasan suku bunga dimulai; ING bahkan memperkirakan potensi cut di Maret dan Juni, meski ada risiko mundur sekitar tiga bulan.

Di Eropa, arus keluar dari dolar ikut mengangkat mata uang lain. EUR/USD naik 0,2% ke 1,1853, menembus area resistensi besar 1,1800/1810. Namun data Jerman agak nge-rem: indeks iklim bisnis Ifo bertahan di 87,6 pada Januari (ekspektasi 88,3). GBP/USD naik tipis 0,1% ke 1,3663, sementara USD/CHF turun 0,4% ke 0,7773—menunjukkan franc Swiss juga lagi dicari sebagai aset aman.

Di Asia, pasnagan USD/JPY turun lagi 1,1% ke 154,02, level terkuat yen sejak akhir November, memicu short covering setelah sebelumnya banyak posisi yang “ngincer yen melemah”. Pasar makin sensitif karena pejabat AS–Jepang dikabarkan intens berkomunikasi soal FX.

Sementara itu, USD/CNY turun 0,1% ke 6,9571, AUD/USD naik 0,2% ke 0,6911, dan NZD/USD naik 0,2% ke 0,5960.

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 23 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Emas Ngegas Dekat $5.000—Dunia Mulai Cari “Pelindung” Baru

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga emas makin dekat ke level psikologis $5.000 per ons, didorong kombinasi risiko geopolitik dan kekhawatiran baru soal independensi Federal Reserve. Reli kali ini terasa berbeda karena pasar melihat banyak perubahan besar yang sulit diukur, tapi dampaknya nyata ke arah aliran dana.

Pada Jumat, emas sempat mencetak rekor di atas $4.967 dan berpeluang menutup pekan dengan kenaikan hampir 8%. Dolar yang melemah ikut jadi bensin tambahan karena membuat logam mulia lebih “murah” bagi pembeli di luar AS.

Sejumlah pelaku pasar menyebut emas sedang mengalami “penilaian ulang” yang lebih permanen, seiring munculnya retakan pada tatanan global lama. Ketika aturan main dan hubungan antarnegara makin sulit ditebak, emas kembali diposisikan sebagai perlindungan terhadap risiko “perubahan rezim” yang tidak mudah dihitung.

Kenaikan ini datang setelah emas membukukan performa tahunan terbaik sejak 1979, lalu masih lanjut naik sekitar 15% di awal tahun ini. Serangan Trump terhadap The Fed, ditambah eskalasi seperti intervensi militer di Venezuela dan ancaman menganeksasi Greenland, memperkuat narasi “debasement trade”: investor mengurangi ketergantungan pada mata uang dan obligasi negara, lalu mencari aset alternatif seperti emas.

Di sisi lain, ada pandangan bahwa sisi pasokan emas tidak cukup elastis untuk menahan lonjakan permintaan diversifikasi saat ketegangan politik dan pasar AS meningkat. Karena suplai tak bisa cepat bertambah, batas “plafon” harga dinilai jadi lebih rapuh ketika arus pembelian menguat.

Proyeksi bank besar ikut mempertegas tren. Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi $5.400 per ons dari sebelumnya $4.900, dengan alasan permintaan dari investor privat dan bank sentral yang terus menguat di tengah ketidakpastian kebijakan global.

Contohnya, bank sentral Polandia—yang dikenal agresif membeli emas—disebut menyetujui rencana membeli tambahan 150 ton untuk berjaga-jaga terhadap instabilitas geopolitik. Di saat yang sama, kepemilikan India atas US Treasuries turun ke level terendah lima tahun, mencerminkan pergeseran sebagian cadangan ke alternatif seperti emas.

Reli juga merembet ke logam mulia lain. Perak ikut mendekati $100 per ons dan sudah lebih dari tiga kali lipat dalam setahun terakhir, dibantu short squeeze historis dan gelombang pembelian ritel yang membuat rantai pasok keteteran. Kebingungan soal kebijakan lisensi ekspor China menambah kesan “langka”, sementara volatilitas tinggi membuat bank cenderung mengurangi posisi, yang ironisnya bisa memicu pergerakan makin liar.

5 poin penting:

- Emas sempat rekor > $4.967 dan mengincar hampir $5.000/oz, ditopang dolar melemah.

- Kenaikan mingguan hampir 8%, dan emas sudah naik sekitar 15% di awal tahun ini setelah performa tahunan terbaik sejak 1979.

- Narasi pasar: ketidakpastian geopolitik + isu independensi The Fed mendorong “debasement trade” (kabur dari obligasi/mata uang ke emas).

- Goldman naikkan proyeksi akhir tahun ke $5.400/oz; pembelian bank sentral (contoh Polandia) ikut memperkuat demand.

- Perak dan platinum ikut pecah rekor; volatilitas meningkat karena persepsi kelangkaan, short squeeze, dan bank mengurangi posisi.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 22 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Hang Seng Balik Ngegas di Akhir Sesi

 

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Hang Seng ditutup naik tipis pada Kamis (22/1) setelah sempat melemah di pagi hari. Indeks menguat 45 poin (+0,2%) ke 26.630, menandai dua hari berturut-turut berada di zona hijau.

Penguatan terjadi karena sebagian besar sektor ikut naik sejalan dengan pasar China daratan. Sentimen membaik menjelang rilis data penting Hong Kong, sementara investor mulai berani ambil posisi setelah tekanan pasar mereda dibanding awal sesi.

Sektor properti jadi sorotan. Saham properti melonjak sekitar 1,6% setelah pengembang bermasalah China Vanke mendapat persetujuan pemegang obligasi untuk menunda pembayaran obligasi domestik besar—langkah yang dinilai membantu meredakan tekanan likuiditas dan mengurangi risiko gagal bayar.

Dari sisi global, bursa Asia juga terbantu oleh arah pasar AS. Kontrak berjangka saham AS bergerak naik tipis setelah Wall Street reli pada Rabu, menyusul Trump yang mundur dari ancaman tarif terkait ambisinya atas Greenland, sehingga kekhawatiran perang dagang dengan sebagian negara Eropa ikut mereda.

Untuk saham-saham yang mencolok di Hong Kong, Pop Mart melonjak 6,1%, Li Auto naik 3,6%, Laopu Gold menguat 3,0%, dan Chow Tai Fook bertambah 2,6%. Selanjutnya, pasar menunggu data inflasi Hong Kong Desember hari ini dan rilis sentimen bisnis kuartal I pada Jumat, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tinggi dalam beberapa kuartal.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 21 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Menjelang Pidato Trump, Dolar Tekan Euro & Franc

Pidato Donald Trump Mengisyaratkan Pencalonan Presiden 2024. Inilah Hal  Lain yang Ia Sampaikan - ABC News 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS menguat pada perdagangan Rabu(21/1) setelah sempat menyentuh level terendah tiga minggu terhadap euro dan franc Swiss. Penguatan ini terjadi karena investor menunggu pidato Presiden AS Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia di Davos. Sebelumnya, ancaman tarif terbaru dari Trump memicu aksi jual besar-besaran terhadap aset AS dan mengguncang pasar global.

Tekanan pada pasar muncul sejak awal pekan, ketika isu Greenland kembali memicu sentimen “Jual Amerika”. Euro sempat naik lebih dari 1% dalam dua hari terakhir sebelum akhirnya melemah tipis ke level $1,1710. Sementara itu, franc Swiss sebagai aset aman juga turun terhadap dolar setelah mencatat penguatan tajam pada awal pekan.

Ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian utama investor. Sejumlah analis menilai masa depan hubungan AS dan Eropa sangat bergantung pada hasil pembicaraan di Davos. Uni Eropa bahkan disebut sedang mempertimbangkan langkah perdagangan balasan jika tekanan dari AS terus berlanjut, termasuk pembatasan terhadap perusahaan dan layanan asal Amerika.

Di Asia, yen Jepang juga berada di bawah tekanan akibat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ke level tertinggi sepanjang sejarah. Kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal yang lebih longgar menjelang pemilu sela membuat investor menjual yen. Mata uang Jepang tercatat mendekati level terlemahnya terhadap euro dan franc Swiss.

Sementara itu, yuan Tiongkok melemah tipis terhadap dolar setelah bank sentral Tiongkok menetapkan nilai tengah yang sedikit lebih lemah. Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa otoritas ingin menjaga pergerakan yuan tetap stabil di sekitar level psikologis 7 per dolar. Secara keseluruhan, pasar mata uang global masih bergerak hati-hati menunggu arah kebijakan dan pernyataan penting dari Davos.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 20 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Brent Melemah, Tekanan Datang dari Global

Manfaat Minyak Bumi, Dari Energi Transportasi hingga Industri Rumah Tangga  - UNESCO 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak Brent sedang bergerak turun pada Selasa(20/1) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar global. Tekanan utama datang dari isu geopolitik dan perdagangan, terutama ancaman tarif baru dari Amerika Serikat terhadap negara-negara Eropa. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar menahan posisi dan cenderung mengurangi risiko.

Selain itu, kekhawatiran surplus pasokan juga membebani Brent. Produksi dari negara-negara OPEC+ masih tinggi, sementara permintaan global belum menunjukkan peningkatan kuat. Meski data ekonomi China cukup positif, sentimen pasar tetap rapuh, membuat harga Brent berada dalam tekanan turun untuk sementara waktu.

Harga minyak pada saat analisis ini adalah $62.95

- Beli jika harga bergerak dalam kisaran $63.52

- Jual jika harga bergerak dalam kisaran $62.86

 

Resistensi 2: $64.59

Resistensi 1: $63.92

 

Dukungan 1: $62.61

Dukungan 2: $61.92

Penafian :

Artikel ini bersifat analitis dan bukan merupakan referensi definitif. Harap memperhitungkan perkembangan fundamental dan teknikal dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi apa pun.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 19 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Minyak turun 1% karena risiko Iran mereda dan premi geopolitik memudar

Harga Minyak Mentah Indonesia Turun Imbas Kelebihan Pasokan Dunia 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak terkoreksi sekitar 1% pada Senin (19/1), membalikkan kenaikan sesi sebelumnya. Tekanan datang setelah ketegangan sipil di Iran mereda, sehingga pasar menilai peluang serangan AS—yang berpotensi mengganggu pasokan dari salah satu produsen utama Timur Tengah—ikut menurun. Namun, sentimen belum benar-benar tenang karena pasar masih memantau risiko perang dagang AS–Eropa serta potensi gangguan pasokan dari Rusia hingga Kazakhstan.

Pada pukul 09:12 GMT:

Brent turun 65 sen (1%) ke US$63,48/barel

WTI Februari turun 65 sen (~1%) ke US$58,84/barel

Kontrak Februari akan berakhir Selasa, sementara kontrak WTI Maret (lebih aktif) berada di US$58,77, turun 57 sen (1%)

Iran reda, peluang intervensi dinilai mengecil

Menurut laporan, aksi protes yang dipicu tekanan ekonomi di Iran mulai mereda setelah penindakan keras oleh otoritas. Pejabat Iran disebut mengklaim korban jiwa mencapai 5.000 orang. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump terlihat meredakan nada ancaman intervensi, dengan menyebut di media sosial bahwa Iran telah membatalkan rencana “hukuman gantung massal”—meski Iran tidak mengumumkan rencana tersebut secara resmi.

Dinamika ini dinilai menurunkan peluang intervensi AS yang bisa mengganggu arus ekspor Iran, yang merupakan produsen terbesar ke-4 di OPEC.

Fokus pasar bergeser: perang dagang & permintaan minyak

Analis John Evans dari PVM Oil Associates menilai sentimen hati-hati saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh kekhawatiran dampak melebar-nya perang dagang terhadap ekonomi global—yang pada akhirnya menekan permintaan minyak.

“Sentimen kehati-hatian didorong dampak perluasan perang dagang… terhadap perdagangan global dan pada akhirnya permintaan minyak,” kata Evans.

Pasar juga mencermati ketegangan AS–Eropa terkait isu Greenland, yang dinilai berpotensi meningkatkan ketidakpastian dagang dan memperbesar volatilitas.

Risiko pasokan belum hilang: Rusia, cuaca dingin, hingga Kazakhstan

Meski premium geopolitik Iran melemah, pasar belum sepenuhnya nyaman. Evans menambahkan bahwa risiko kerusakan infrastruktur Rusia dan gangguan pasokan distillate tetap jadi perhatian, terutama menjelang proyeksi cuaca lebih dingin di Amerika Utara dan Eropa.

Sementara itu, dari sisi pasokan, perusahaan Kazakhstan Tengizchevroil (dipimpin Chevron) menyatakan telah menghentikan sementara produksi sebagai langkah pencegahan di ladang Tengiz dan Korolev, setelah ada masalah pada sistem distribusi listrik.

Catatan perdagangan

Pasar AS tutup pada Senin karena libur Martin Luther King Jr. Day, yang juga bisa membuat likuiditas lebih tipis dan pergerakan lebih “cepat” saat berita masuk.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 15 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – AS Yakin “Deal Greenland” Masih Mungkin

Daftar Negara Bagian Amerika Sertikat dan Ibu Kotanya 

PT Equityworld Futures Semarang – AS dan Greenland dinilai masih berpeluang menemukan format kerja sama yang sama-sama menguntungkan, meski negosiasi awal belum menghasilkan terobosan. Penilaian ini disampaikan Duta Besar AS untuk Belgia, Bill White, yang juga menekankan bahwa Presiden Donald Trump tetap melihat NATO sebagai pilar penting keamanan kawasan.

Dalam wawancara radio, White mengatakan ia optimistis akan terbentuk kerangka kerja yang “produktif” antara Trump dan Perdana Menteri Denmark yang pada akhirnya mengarah pada Greenland yang lebih aman—bukan hanya bagi Denmark dan pulau Arktik itu sendiri, tetapi juga untuk kepentingan NATO, Eropa, dan AS.

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah pertemuan antara pejabat Denmark dan Greenland dengan jajaran petinggi AS, termasuk Menlu Marco Rubio dan Wapres JD Vance, berakhir tanpa kemajuan signifikan. Denmark menyebut masih ada “perbedaan mendasar” yang belum terselesaikan, menandakan jalur negosiasi masih panjang.

Di saat yang sama, tensi AS–Uni Eropa ikut meningkat. Selain faktor perdagangan yang sudah memanaskan hubungan, isu Greenland kini menjadi titik gesekan baru setelah Trump semakin terang-terangan menyatakan minat untuk memperluas kendali AS atas wilayah tersebut. Uni Eropa mencoba menahan eskalasi, sambil menegaskan dukungan penuh kepada Denmark dan status Greenland sebagai wilayah semi-otonomnya.

White menekankan bahwa nilai Greenland dari sisi strategi militer tidak bisa dipandang remeh. Namun ia juga menyiratkan bahwa sebagian kekhawatiran keamanan AS terlalu sensitif untuk dipaparkan ke publik.

Dalam wawancara terpisah, White bahkan menyebut friksi dengan Trump bisa memberi “nilai tambah” secara politik bagi Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menjelang pemilu tahun ini. Ia mengisyaratkan bahwa dinamika tersebut bisa memperkuat posisi Frederiksen di dalam negeri—dan AS, menurutnya, lebih memilih kepemimpinan yang tetap berada di jalur moderat dibanding opsi yang lebih kiri.

Terakhir, White menegaskan Trump sebagai figur yang menurutnya sangat pro-NATO, dengan argumen bahwa tekanan Washington telah mendorong negara-negara anggota aliansi untuk menaikkan belanja pertahanan.

White sendiri merupakan penunjukan Trump dan resmi menjabat sebagai duta besar AS untuk Belgia sejak tahun lalu. 

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 14 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Kekhawatiran atas Iran dan Independensi The Fed Membebani Pasar

 

PT Equityworld Futures Semarang – Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah unggahan Truth Social pada hari Selasa bahwa ia telah "membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran," dan menegaskan kembali dukungannya untuk para demonstran yang memicu salah satu demonstrasi anti-pemerintah terbesar di negara Timur Tengah tersebut.

Langkah Trump menunjukkan bahwa metode diplomatik yang bertujuan untuk memaksa Teheran menghentikan tindakan kerasnya terhadap para demonstran mungkin tidak akan digunakan untuk saat ini.

Minyak mentah WTI dan patokan global Brent mengalami kenaikan harga lebih dari 2,5% selama jam perdagangan AS karena keterlibatan Washington di Iran — produsen minyak utama yang memiliki pengaruh atas Selat Hormuz — dapat meng destabilisasi pasar minyak.

Di sektor energi lainnya, raksasa minyak Inggris BP memperingatkan pada hari Rabu bahwa mereka memperkirakan akan mencatat biaya penurunan nilai sebesar $4 miliar hingga $5 miliar pada kuartal keempat terkait dengan unit gas dan energi rendah karbonnya.

Di pasar AS, saham turun pada hari Selasa meskipun indeks harga konsumen inti untuk bulan Desember lebih rendah dari yang diperkirakan.

“Kita sudah pernah melihat film ini sebelumnya — inflasi tidak memanas kembali, tetapi tetap di atas target,” tulis Ellen Zentner, kepala strategi ekonomi di Morgan Stanley Wealth Management.

Serangan Trump yang terus berlanjut terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang mencakup "bajingan" dan "orang Fed yang buruk," di antara julukan lainnya, kemungkinan juga telah memicu kekhawatiran investor.

“Apa pun yang mengikis [independensi bank sentral] mungkin bukan ide yang bagus, dan menurut saya, itu akan memiliki konsekuensi sebaliknya,” kata CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon dalam panggilan telepon dengan media pada hari Selasa. “Ini akan meningkatkan ekspektasi inflasi dan mungkin menaikkan suku bunga dari waktu ke waktu.”

— Michael Considine dari CNBC turut berkontribusi dalam laporan ini.

Yang perlu Anda ketahui hari ini

Surplus perdagangan China mencapai rekor tertinggi baru. Ekspor China untuk tahun 2025 tumbuh 5,5% sementara impor tetap stagnan, membawa surplus perdagangan Beijing ke rekor $1,19 triliun, naik 20% dari tahun 2024. Ekspor ke AS merosot 20%, mencerminkan ketegangan perdagangan yang berkelanjutan.

Trump kembali menyerang Powell. Pada hari Selasa, presiden AS melontarkan serangkaian penghinaan kepada Powell, mengatakan dalam acara terpisah bahwa dia "curang" dan "bajingan" dan "akan segera pergi." Sementara itu, bank sentral global mengeluarkan pernyataan bersama untuk membela Powell.

Hukuman mati diminta untuk mantan Presiden Korea Selatan Yoon. Jaksa khusus Korea Selatan telah meminta hukuman mati untuk mantan Presiden Yoon Suk Yeol atas deklarasi darurat militer yang singkat pada tahun 2024. Jika dilaksanakan, itu akan menjadi eksekusi pertama Korea Selatan dalam hampir 30 tahun.

Saham AS jatuh pada hari Selasa. Indeks-indeks utama mundur dari level tertinggi, sementara saham JPMorgan turun meskipun bank tersebut melampaui perkiraan pendapatan. Pasar Asia-Pasifik diperdagangkan beragam pada hari Rabu. Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 1% dan melampaui angka 54.000 untuk pertama kalinya.

 

 

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 12 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Geopolitik Memanas, Tapi Oversupply Bisa Ngerem Minyak

Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Tipis Jadi USD 38,07 per Barel 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak hari ini masih bertahan di zona hijau tipis, dengan Brent sekitar $63,00/barel dan WTI sekitar $58,75/barel di sesi Eropa hari Senin (12/1). Kenaikan kecil ini masih ditopang premi risiko geopolitik, terutama dari Iran.

Namun di balik volatilitas headline geopolitik, analis Goldman Sachs menilai arah besar 2026 masih berat: pasokan berlebih diperkirakan menahan reli minyak agar tidak berkelanjutan dan menjaga harga berjangka cenderung rendah tahun ini.

Goldman memperkirakan surplus pasokan global bisa mendorong minyak turun hingga titik terendah pada kuartal IV 2026, dengan proyeksi Brent ke $54/barel dan WTI ke $50/barel. Fokus mereka: penumpukan stok (inventori) yang makin terasa dampaknya ke harga.

Bank itu juga menyoroti faktor kebijakan: preferensi pembuat kebijakan AS untuk pasokan energi yang kuat dinilai bisa membatasi potensi kenaikan harga yang “awet”, apalagi menjelang dinamika politik seperti pemilu paruh waktu. Artinya, setiap lonjakan karena geopolitik berisiko cepat “diredam” oleh narasi pasokan.

Untuk 2027, Goldman melihat peluang pemulihan moderat seiring pertumbuhan pasokan non-OPEC melambat dan permintaan masih solid. Proyeksinya, rata-rata harga Brent $58 dan WTI $54 pada 2027.

Kesimpulannya: dalam jangka pendek, geopolitik bisa bikin minyak “melonjak”, tapi untuk tren tahun ini pasar masih dibayangi tema besar oversupply. Jadi, tanpa gangguan pasokan yang benar-benar nyata, ruang reli kemungkinan terbatas dan pasar cenderung kembali ke range.

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 09 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Hang Seng Rebound, China Bikin Sinyal Positif

 

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup menguat 82 poin (0,3%) ke level 26.232 pada Jumat (9/1), menghentikan tren penurunan dua hari beruntun. Kenaikan terjadi merata di berbagai sektor, dengan saham konsumen dan properti menjadi pendorong utama yang mengangkat sentimen pasar.

Dari Tiongkok daratan, indeks acuan Shanghai bertahan di area tertinggi dalam satu dekade setelah data terbaru menunjukkan inflasi konsumen menguat. Harga konsumen Desember tercatat naik dengan laju tahunan tercepat dalam hampir tiga tahun, didorong lonjakan harga pangan yang disebut sebagai yang terkuat dalam 14 bulan.

Tekanan deflasi di sektor industri juga menunjukkan tanda mereda. Harga produsen masih turun, tetapi laju penurunannya melambat ke level terendah dalam 16 bulan, mengindikasikan upaya Beijing untuk menahan perang harga dan menstabilkan margin perusahaan mulai terlihat dampaknya.

Sejumlah saham mencatat kenaikan mencolok dan turut mengangkat indeks, di antaranya Laopu Gold (+5,4%), Kuaishou Tech (+3,7%), Zhaojin Mining (+3,6%), CK Hutchison (+3,6%), dan Zijin Gold Intl (+2,6%).

Meski menguat hari ini, pasar saham Hong Kong masih mencatat penurunan sekitar 0,4% secara mingguan. Sentimen tertahan oleh ketegangan geopolitik serta sikap hati-hati investor menjelang rilis data perdagangan dan kredit Tiongkok.

Selain itu, perhatian global juga mengarah ke Amerika Serikat menjelang rilis data penting pasar tenaga kerja dan potensi putusan Mahkamah Agung terkait kebijakan tarif, yang bisa memicu volatilitas di pasar keuangan. 

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 08 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Venezuela Di-lock AS, Harga Minyak Ikut Goyah

Harga Minyak Mentah Dunia Melompat ke Level Tertinggi 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak bergerak terbatas pada Kamis (8/1) setelah dua sesi tertekan, ketika pasar mencerna langkah AS yang makin agresif untuk mengatur arus minyak Venezuela—termasuk rencana mengelola penjualan minyak mentah ke depan dan penyitaan tanker yang masuk sanksi

Brent berada di sekitar $60,20/barel dan WTI di $56,21/barel.

Washington disebut akan memulai dengan menawarkan stored crude sebelum masuk ke penjualan pasokan Venezuela, sementara otoritas energi AS menyatakan minyak tersebut sudah mulai dipasarkan.

Dari sisi korporasi, langkah ini membuka ruang perubahan besar pada peta ekspor Venezuela. Kargo yang sebelumnya banyak mengalir ke Asia berpotensi bergeser, memperbesar tema “reroute” arus minyak dalam beberapa waktu ke depan—terutama bagi pihak yang selama ini menjadi pembeli utama.

Meski ada faktor geopolitik yang menopang, pasar tetap dibayangi kekhawatiran pasokan global yang longgar. Prospek tambahan barel dari Venezuela datang di saat produksi dari OPEC+ dan produsen lain masih menjaga suplai tinggi, sehingga kenaikan harga cenderung tertahan.

Di lapangan, tekanan AS juga terlihat dari aksi penyitaan tanker terkait Venezuela sebagai bagian dari pengetatan langkah energi. Kombinasi faktor ini membuat pasar minyak rentan volatil: dorongan naik dari geopolitik, tapi tertahan oleh narasi oversupply.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 07 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Minyak Turun Lagi, Deal Venezuela Bikin Panas

Harga Minyak Turun Dipicu Rencana OPEC Naikkan Produksi : Okezone Economy 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak kembali melemah pada Rabu setelah pasar mencerna pernyataan Presiden AS Donald Trump soal kesepakatan impor minyak mentah Venezuela ke Amerika Serikat. Sentimen utamanya: pasokan berpotensi bertambah ke konsumen minyak terbesar dunia, di saat pasar sudah sensitif dengan isu kelebihan suplai.

Pada perdagangan terbaru, Brent turun sekitar 1% ke $60,09 per barel, sementara WTI melemah 1,37% ke $56,35 per barel. Penurunan ini memperpanjang pelemahan dari sesi sebelumnya, ketika pasar makin condong pada narasi “supply longgar” untuk awal 2026.

Trump menyebut Venezuela akan “menyerahkan” sekitar 30–50 juta barel minyak yang dikenai sanksi untuk dikirim ke AS dan dijual di harga pasar. Kesepakatan ini dinilai bisa mengalihkan sebagian kargo yang sebelumnya menuju China, sehingga aliran minyak Venezuela berpotensi makin terkonsentrasi ke pasar AS.

Masalahnya, pasar minyak sekarang bukan kekurangan pasokan—justru sebaliknya. Sejumlah analis melihat potensi surplus global semakin nyata di awal 2026, sehingga berita yang mengarah ke tambahan pasokan (atau berkurangnya hambatan distribusi) cenderung langsung menekan harga.

Dari sisi data, laporan API juga memberi sinyal campuran: stok minyak mentah AS turun sekitar 2,77 juta barel, tetapi stok bahan bakar meningkat—membuat pasar tetap hati-hati soal kekuatan permintaan. Investor kini menunggu data resmi persediaan dari pemerintah AS untuk konfirmasi arah berikutnya.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 06 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Emas “Pause”, Fokus Beralih ke NFP

Harga Emas, 5 Jenis Saham yang Mempengaruhinya | Agincourt 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga emas hampir bergerak datar pada perdagangan Selasa (6/1), setelah reli tajam sehari sebelumnya. Pasar mulai mengalihkan fokus dari headline Venezuela menuju agenda data ekonomi AS yang padat pekan ini. Di saat yang sama, perak masih melanjutkan penguatan dan mencatat kenaikan untuk sesi ketiga beruntun.

Emas spot bertahan di sekitar US$4.450 per ons, setelah melonjak sekitar 2,7% pada sesi sebelumnya menyusul kabar penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Ketidakpastian soal arah pemerintahan Caracas masih menjadi latar, terutama setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan rencana bahwa Washington akan ikut “mengelola” Venezuela, sementara Delcy Rodríguez ditunjuk sebagai presiden sementara.

Namun, pelaku pasar kini mulai menahan diri dan menunggu “pemicu” baru dari AS. Sorotan utama mengarah ke rangkaian data ekonomi, dengan puncaknya laporan tenaga kerja Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari juga ikut memberi sinyal bahwa suku bunga sudah mendekati level netral, sehingga data ke depan akan sangat menentukan langkah kebijakan berikutnya.

Dari sisi sentimen, dorongan safe haven akibat Venezuela dinilai kuat tapi cenderung cepat mereda jika ketegangan tidak melebar. Artinya, emas masih punya penopang, tetapi ruang kenaikan tambahan dalam jangka pendek lebih banyak bergantung pada apakah risiko geopolitik meningkat lagi atau data AS memperkuat peluang penurunan suku bunga.

Secara fundamental, emas masih berada dalam tren besar yang kuat. Tahun lalu logam mulia mencetak performa tahunan terbaik sejak 1979, didukung pembelian bank sentral, arus masuk ETF, serta rangkaian pemangkasan suku bunga The Fed—faktor yang membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas lebih menarik. Emas juga sempat mencetak rekor US$4.549,92 pada 26 Desember, dan sebagian bank besar masih melihat potensi kenaikan lanjutan sepanjang 2026.

Meski begitu, ada faktor teknikal yang mulai dipantau pasar: potensi tekanan dari rebalancing indeks komoditas. Lonjakan harga emas-perak berpotensi memaksa dana pasif menyesuaikan bobot portofolio mereka—yang bisa memunculkan aksi jual penyeimbang mulai Kamis, dan itu dapat menahan laju kenaikan untuk sementara.

Di sisi lain, perak tetap tampil lebih agresif. Harga naik hingga sekitar 3,6% pada Selasa. Dari China, LONGi Green Energy disebut mempertimbangkan langkah mengganti sebagian logam dasar dengan perak pada sel surya—sebuah sinyal bahwa permintaan industri tetap aktif meski harga logam putih melonjak dan biaya makin mahal.

Pada perdagangan Eropa, emas naik tipis ke sekitar US$4.451,96 per ons. Perak menguat ke US$77,90 per ons. Platinum naik sekitar 1% dan paladium relatif stabil. Sementara ukuran kekuatan dolar AS bergerak tipis lebih tinggi, mencerminkan pasar masih menunggu data AS sebagai penentu arah berikutnya.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 05 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Taruhan Trump di Venezuela: Risiko Geopolitik vs Harapan Pasokan Minyak

Harga Minyak Mentah Susut Usai KTT AS-Rusia 

PT Equityworld Futures Semarang – Investor global menghadapi lonjakan baru risiko geopolitik setelah Amerika Serikat (AS0 menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, sebuah langkah berani Presiden Donald Trump yang berpotensi membuka akses ke cadangan minyak besar Venezuela dalam jangka panjang, namun dalam waktu dekat justru menekan sentimen pasar.

Reaksi pasar sejauh ini relatif terbatas. Saham global cenderung menguat, harga minyak bergerak volatil, sementara emas mendapat dorongan sebagai aset lindung nilai. Pelaku pasar tampak belum sepenuhnya bereaksi terhadap dampak geopolitik Venezuela.

Trump menyatakan Amerika Serikat akan mengambil alih kendali negara penghasil minyak tersebut. 

Maduro, yang selama ini dituding Washington menjalankan “negara narkotika” dan memanipulasi pemilu, dilaporkan ditahan di New York untuk menghadapi proses hukum.

Langkah ini menjadi intervensi langsung AS di Amerika Latin yang paling signifikan sejak invasi Panama pada 1989.

“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketegangan geopolitik masih mendominasi berita utama dan menggerakkan pasar,” kata ekonom Marchel Alexandrovich dari Saltmarsh Economics, Minggu (4/1/2026).

Menurutnya, pasar kini harus menghadapi risiko berbasis berita yang jauh lebih besar dibanding era pemerintahan AS sebelumnya. 

Pasar Awali 2026 dengan Optimisme

Futures saham AS dan bursa Asia menguat pada perdagangan awal Senin (5/1/2026), sementara harga emas melonjak lebih dari 1% setelah sempat tertekan pekan lalu.

Pasar global membuka perdagangan pertama tahun 2026 dengan nada positif, seiring indeks Wall Street ditutup menguat dan dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama pada Jumat.

Saham global mengakhiri 2025 di dekat level tertinggi sepanjang masa, ditopang kenaikan dua digit di tengah tahun yang diwarnai perang tarif, kebijakan bank sentral, dan ketegangan geopolitik. 

Harga emas melonjak ke rekor tertinggi tahun lalu, mencatat kenaikan terbesar dalam 46 tahun terakhir. Emas terakhir diperdagangkan di kisaran US$4.400 per ons, didorong pemangkasan suku bunga AS dan konflik geopolitik.

Dalam konferensi pers, Trump mengatakan AS akan “menjalankan negara tersebut hingga tercipta transisi yang aman dan tepat”, meski tanpa merinci mekanismenya. Ia juga tidak menutup kemungkinan pengerahan militer AS.

Langkah ini kembali menyoroti krisis utang Venezuela, salah satu kasus gagal bayar negara terbesar di dunia yang belum terselesaikan.

Minyak Venezuela Tak Bisa Pulih Instan

Tak lama setelah penangkapan Maduro, Trump menyebut perusahaan minyak AS siap menggelontorkan investasi miliaran dolar untuk memulihkan produksi minyak Venezuela.

Jika terwujud, tambahan pasokan tersebut berpotensi menekan harga energi dan mendukung pertumbuhan ekonomi global.

Harga minyak sempat menembus US$62 per barel pada Desember, setelah AS memblokir kapal tanker yang terkena sanksi.

Namun, sejak itu harga relatif stabil di kisaran US$60–61 per barel. Kontrak Brent naik tipis ke US$60,89 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$57,43 per barel.

“Dari sudut pandang investasi, ini berpotensi membuka cadangan minyak dalam jumlah sangat besar dalam jangka panjang,” kata Brian Jacobsen, kepala strategi ekonomi Annex Wealth Management.

Menurutnya, pasar sering kali bersikap risk-off menjelang konflik, tetapi cepat beralih ke risk-on setelah konflik benar-benar terjadi.

Namun, banyak analis menilai peningkatan produksi minyak Venezuela akan memakan waktu bertahun-tahun.

Produksi telah merosot tajam akibat salah kelola, minimnya investasi, serta nasionalisasi industri minyak sejak 2000-an.

Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela.

Investor juga harus mempertimbangkan risiko keamanan, infrastruktur yang rusak, legalitas operasi AS, serta potensi ketidakstabilan politik jangka panjang. 

Perlu Stabilitas Politik dan Investasi Besar

Stephen Dover, kepala strategi pasar Franklin Templeton, menilai langkah sepihak AS menunjukkan kesediaan menggunakan kekuatan, yang bisa mendorong negara-negara lain meningkatkan belanja pertahanan.

Ia juga menilai hal ini menambah ketidakpastian terhadap peran dolar AS sebagai aset aman.

Dalam jangka panjang, Venezuela yang stabil dan produktif dapat menjadi sumber pasokan minyak penting bagi dunia.

“Namun, potensi itu hanya bisa terwujud dengan stabilitas politik dan investasi yang sangat besar,” ujarnya.

PT Equityworld Futures Semarang

Jumat, 02 Januari 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Perak Terbang ke $72,90, Lonjakan Terbesar Sejak 1979!

Harga Perak Terbaru dari Antam dan Global per 6 Desember 2023 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga perak (XAG/USD) menarik minat beli kuat hingga menembus $72,90 pada perdagangan Asia hari Jumat(2/1). Logam putih ini mencatat kenaikan lebih dari 140% sepanjang tahun 2025, menandai lonjakan paling tajam sejak 1979. Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve AS dan permintaan investor terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian geopolitik.

Ekspektasi penurunan suku bunga AS menekan Dolar AS, sehingga logam yang dihargai dalam USD seperti perak menjadi lebih menarik. Pasar saat ini memperkirakan dua penurunan suku bunga Fed sebesar seperempat poin sepanjang 2026. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang memegang perak, membuat logam ini menjadi pilihan populer bagi investor.

Selain itu, permintaan perak juga didukung oleh pembelian oleh bank sentral dan investor yang mencari perlindungan dari ketegangan global dan risiko ekonomi. "Harga emas dan perak mengalami kenaikan signifikan karena interaksi beberapa faktor ekonomi, investasi, dan geopolitik," kata Rania Gule dari platform perdagangan XS.com.

Meski demikian, potensi kenaikan perak dalam jangka pendek bisa terbatas. Investor melakukan aksi ambil untung dan penyeimbangan portofolio, sementara CME Group menaikkan margin untuk kontrak logam mulia, termasuk perak. Artinya, para trader harus menambah dana untuk mempertahankan posisi mereka, menandakan bahwa volatilitas harga perak masih bisa tinggi dalam beberapa waktu ke depan.  

PT Equityworld Futures Semarang