Senin, 30 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Minyak Naik, Brent Menuju Rekor Lonjakan Bulanan

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak menguat pada perdagangan Senin (30/3), dengan Brent bertahan jauh di atas US$100 per barel, seiring pasar kembali menilai risiko gangguan pasokan setelah konflik AS-Israel dan Iran memasuki pekan kelima. Kenaikan dipicu eskalasi keamanan regional, termasuk keterlibatan langsung Houthi yang didukung Iran dari Yaman.

Brent kontrak Mei naik sekitar 2%–3% dan sempat diperdagangkan di kisaran US$115–US$116 per barel, sementara WTI berada di atas US$100 per barel. Secara bulanan, Brent tercatat melesat sekitar 59% sepanjang Maret, menempatkannya pada jalur kenaikan bulanan terbesar dalam catatan menurut laporan Reuters.

Ketegangan bertambah setelah Trump mengatakan kepada Financial Times bahwa opsi yang ia “sukai” di Iran adalah “mengambil minyaknya,” pernyataan yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko infrastruktur dan rute energi. Reuters juga melaporkan serangan Houthi terhadap Israel memperluas medan konflik, memperkuat premi risiko di jalur Teluk dan Red Sea.

Societe Generale menilai risiko gangguan tambahan pada Bab el-Mandeb—jalur penting yang menghubungkan Teluk Aden dan Laut Merah—dapat mendorong harga lebih tinggi bila eskalasi berlanjut, karena pasar akan menambah premi risiko pada biaya pengapalan dan ketersediaan barel fisik.

Penyebab: eskalasi perang Iran dan meluasnya serangan ke rute/infrastruktur energi regional, ditambah retorika Trump soal “mengambil minyak” yang memperbesar persepsi risiko pasokan.

Dampak: premi risiko minyak bertahan tinggi, volatilitas meningkat, dan tekanan inflasi berbasis energi berpotensi menggeser ekspektasi suku bunga global ke arah lebih ketat.

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 27 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Hang Seng Naik 0,4%, Optimisme China Redam Tekanan Geopolitik

 

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Hang Seng menguat 0,4% dan ditutup di 24.952 pada Jumat (27/3), mengungguli sebagian besar bursa Asia setelah sinyal perbaikan ekonomi China membantu menopang sentimen. Kenaikan terjadi meski pasar regional masih dibayangi pelemahan Wall Street serta kekhawatiran konflik Timur Tengah yang berkepanjangan, yang mendorong harga minyak lebih tinggi dan mengangkat biaya pinjaman global.

Investor tetap berhati-hati karena ketidakpastian arah perkembangan AS–Iran, namun data pertumbuhan laba industri China yang lebih kuat memperkuat keyakinan terhadap pemulihan earnings. Ekspektasi dukungan kebijakan lanjutan—termasuk peluang pemangkasan suku bunga dan penurunan rasio cadangan wajib—ikut menambah tone positif.

Di saham, Xiaomi naik 2,0%, Kuaishou menguat 1,4%, Shenzhen Xunce Technology melonjak 24,1%, Innovent Biologics naik 7,6%, dan Akeso bertambah 1,9%.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 26 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Euro Tertahan, Pasar Waspadai Risiko Geopolitik dan Energi

 

PT Equityworld Futures Semarang – EUR/USD diperdagangkan dengan hati-hati pada sesi Eropa Kamis, bergerak di sekitar area 1,1550 setelah pelemahan pada sesi sebelumnya. Pergerakan yang cenderung terbatas ini mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah sinyal yang saling bertolak belakang terkait peluang de-eskalasi konflik Iran kembali membayangi pasar.

Dari sisi sentimen, dolar AS masih mendapat dukungan sebagai aset aman ketika pasar global bergerak defensif. Reuters melaporkan bahwa ketidakpastian soal konflik Iran, risiko di Selat Hormuz, dan lonjakan harga minyak telah menekan aset berisiko sekaligus menopang dolar, sementara harga obligasi juga tertekan karena pasar menyesuaikan ekspektasi suku bunga. Dalam kondisi seperti ini, euro menjadi sulit menguat lebih jauh karena minat terhadap aset berisiko belum benar-benar pulih.

Di sisi lain, tekanan terhadap euro juga datang dari memburuknya sentimen ekonomi kawasan euro. Konsumen di Jerman, Prancis, dan Italia dilaporkan semakin pesimistis karena perang Iran mendorong kenaikan biaya hidup dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Pada saat yang sama, ECB memperingatkan bahwa konflik ini bisa memicu stres sistemik di pasar keuangan dan menambah ketidakpastian terhadap pertumbuhan serta inflasi, sehingga prospek euro ikut tertahan.

Untuk jangka pendek, pasar akan memperhatikan apakah ketidakpastian Timur Tengah mulai mereda atau justru memburuk, karena itu akan sangat menentukan arah dolar dan euro berikutnya. Selain itu, pergerakan harga minyak, yield obligasi, dan komentar bank sentral juga akan menjadi faktor penting. Selama sentimen risk-off masih dominan dan pasar belum melihat kejelasan diplomatik, EUR/USD kemungkinan tetap bergerak terbatas dengan kecenderungan hati-hati.

Penyebab:

1. Ketidakpastian konflik Timur Tengah membuat investor menahan aksi beli di euro.

2. Dolar AS masih diburu sebagai aset aman saat pasar global cenderung defensif.

3. Kekhawatiran inflasi dan perlambatan ekonomi di kawasan euro ikut menahan ruang penguatan euro.

Hal yang harus diperhatikan:

1. Perkembangan terbaru konflik Iran dan peluang de-eskalasi.

2. Arah harga minyak dan yield obligasi, karena keduanya memengaruhi permintaan terhadap dolar.

3. Nada komentar ECB dan data ekonomi zona euro, karena itu akan menentukan daya tahan euro di tengah tekanan eksternal.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 25 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – AS Kirim “Proposal 15 Poin” ke Iran, Trump Klaim Negosiasi Berjalan

 

PT Equityworld Futures Semarang – Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa bahwa Amerika Serikat dan Iran “sedang berada dalam negosiasi” dan mengisyaratkan Teheran ingin mencapai kesepakatan damai, meski Iran tetap membantah adanya pembicaraan langsung dengan Washington. Trump menyampaikan pernyataan itu, sekaligus menjelaskan bahwa ia memutuskan mundur dari ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran “karena kami sedang bernegosiasi.”

Trump menambahkan bahwa Iran “berbicara dengan kami, dan mereka berbicara masuk akal,” saat diminta menjelaskan lebih lanjut perubahan sikapnya. Ia juga menyebut sejumlah pejabat tinggi AS terlibat dalam proses negosiasi, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menlu Marco Rubio. Sebelumnya, Trump juga menyatakan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner melakukan pembicaraan dengan pihak Iran pada Minggu malam.

Di hari yang sama, The New York Times melaporkan, mengutip dua pejabat anonim, bahwa AS telah mengirimkan rencana 15 poin untuk mengakhiri perang. Laporan tersebut menyebut rencana itu disampaikan melalui Pakistan, namun belum jelas seberapa luas dokumen itu telah beredar di kalangan pejabat Iran. Selain itu, belum ada kepastian apakah Israel—yang turut menyerang Iran bersama AS—akan mendukung rencana tersebut.

Trump sebelumnya menyatakan ada “sekitar 15 poin” kesepakatan antara AS dan Iran, dengan pencegahan Iran memiliki senjata nuklir menjadi prioritas utama. Dalam pernyataannya pada Selasa, Trump kembali menegaskan tujuan utama perang adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, bahkan mengklaim Iran telah sepakat “tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.”

Di tengah perbedaan pesan antara AS dan Iran, berbagai laporan menyebut para pemimpin regional juga bergerak dalam diplomasi jalur belakang untuk mendorong akhir perang. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan negaranya bersedia memfasilitasi pembicaraan, dan Trump membagikan tangkapan layar pernyataan tersebut di Truth Social. Namun Gedung Putih menegaskan pembahasan diplomatik bersifat sensitif dan tidak akan dinegosiasikan melalui media.

Meski narasi diplomasi menguat, operasi militer AS disebut tetap berjalan. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan Operasi “Epic Fury” terus berlangsung guna mencapai tujuan militer yang ditetapkan presiden dan Pentagon. Pemerintahan Trump juga dilaporkan belum mundur dari rencana mengajukan paket pendanaan tambahan terkait perang ke Kongres yang nilainya bisa mencapai $200 miliar.

Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan Pentagon menyiapkan rencana pengerahan sekitar 3.000 personel dari Divisi Lintas Udara 82nd Airborne ke Timur Tengah. Gedung Putih menegaskan semua pengumuman terkait pengerahan pasukan akan disampaikan oleh Departemen Perang, serta menekankan bahwa Trump “selalu memiliki seluruh opsi militer.”

Inti Newsmaker: Washington mengirim sinyal kuat bahwa jalur diplomasi sedang didorong melalui proposal 15 poin, namun di saat yang sama tetap menjaga tekanan militer dan kesiapan eskalasi. Pasar dan kawasan kini menunggu dua hal: apakah Iran merespons rencana itu secara nyata, dan apakah langkah diplomatik dapat berjalan paralel dengan operasi militer tanpa memicu eskalasi baru.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 16 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Harga Minyak Melonjak Lagi, Serangan ke Fasilitas Perbesar Risiko

 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak naik pada Senin (16/3) ketika perhatian pasar kembali tertuju pada ancaman terhadap fasilitas energi di Timur Tengah, meski Presiden AS Donald Trump menyerukan negara-negara lain untuk ikut membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi global.

Kontrak Brent naik US$2,73 atau 2,7% ke US$105,87 per barel pada 07:30 GMT, setelah ditutup menguat US$2,68 pada Jumat. Sementara itu, WTI bertambah US$1,65 atau 1,7% ke US$100,36 per barel, setelah sebelumnya juga ditutup naik hampir US$3. Kedua kontrak kini telah melonjak lebih dari 40% sepanjang bulan ini ke level tertinggi sejak 2022.

Reli masih ditopang gangguan pasokan besar setelah serangan AS-Israel terhadap Iran mendorong Teheran menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang biasanya menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak global. Dalam pandangan pasar, penutupan jalur itu tetap menjadi sumber utama premi risiko karena dampaknya langsung ke arus pasokan fisik.

ING menilai serangan AS pada akhir pekan terhadap Kharg Island menambah kekhawatiran suplai, mengingat sekitar 90% ekspor minyak Iran melewati fasilitas tersebut. Meski serangan disebut menyasar infrastruktur militer, bukan energi, pasar tetap melihat risikonya tinggi karena minyak Iran saat ini praktis menjadi satu-satunya minyak yang masih bergerak melalui Hormuz.

Risiko regional juga meningkat setelah drone Iran menghantam terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab, tak lama setelah serangan ke Kharg. Operasi pemuatan di Fujairah dilaporkan telah kembali berjalan, tetapi belum jelas apakah sudah sepenuhnya normal. Fujairah sendiri menjadi jalur ekspor sekitar 1 juta barel per hari minyak Murban UEA, setara kira-kira 1% permintaan dunia.

Di sisi kebijakan, Trump mengatakan AS menuntut negara-negara lain ikut melindungi Selat Hormuz dan menyebut Washington sedang berdiskusi dengan beberapa pihak untuk menjaga jalur itu. Ia juga menyatakan AS masih berhubungan dengan Iran, tetapi meragukan Teheran siap untuk pembicaraan serius. Sementara itu, International Energy Agency menyatakan lebih dari 400 juta barel cadangan minyak akan segera mulai dialirkan ke pasar, sebuah pelepasan stok rekor yang ditujukan untuk menahan lonjakan harga akibat perang Timur Tengah.

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 13 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Menguat terhadap Yen dan Euro di Tengah Dampak Konflik Iran

 

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar AS menguat seiring arus investor menuju aset yang dinilai lebih aman, sementara euro dan yen melemah ketika konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi. Sejumlah pergerakan mata uang terbaru menunjukkan dampak risk-off yang kembali mendominasi.

Terhadap yen, dolar bergerak relatif stabil setelah menguat dalam enam dari tujuh sesi terakhir. Di sekitar 159,4 per dolar, yen berada di jalur penutupan terlemahnya sejak Juli 2024, periode ketika pemerintah Jepang melakukan intervensi valas dalam skala besar.

Terhadap euro, dolar naik 0,5% dan mengarah mencatat hari penguatan keempat berturut-turut, sekaligus berpotensi ditutup pada level yang belum terlihat sejak musim panas tahun lalu. Pergerakan ini mencerminkan kombinasi penguatan dolar sebagai safe haven dan sensitivitas euro terhadap risiko energi.

Dolar juga menguat 0,6% terhadap poundsterling, yang tertekan setelah data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi Inggris stagnan pada Januari. Data tersebut memperlemah sentimen terhadap pound di tengah kondisi global yang rapuh.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 12 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Brent Sempat Tembus $100 saat Dampak Konflik Iran Kian Dalam

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak Brent sempat kembali menembus US$100 per barel setelah perang Iran memicu kekacauan baru pada jalur pengiriman di Timur Tengah, sementara China memperketat pembatasan ekspor bahan bakar untuk menghadapi dampak konflik. Lonjakan ini menegaskan bahwa pasar kini lebih fokus pada risiko pasokan fisik dan keselamatan pelayaran dibanding “rem” sementara dari rilis cadangan darurat.

Minyak acuan global Brent sempat melonjak hingga sekitar 10% ke US$101,59 per barel, sedangkan WTI naik mendekati US$96, sebelum memangkas sebagian kenaikan. Ketegangan meningkat setelah dua tanker diserang di perairan Irak dan Oman sempat mengosongkan kapal-kapal dari terminal ekspor utamanya di luar Selat Hormuz. Serangkaian insiden ini menyoroti ancaman pasokan yang melebar, sekaligus menutupi efek rilis cadangan rekor yang ditujukan untuk menahan harga.

International Energy Agency (IEA) pada Kamis memperingatkan bahwa gangguan pasokan saat ini adalah yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global, selaras dengan beberapa hari pergerakan harga yang sangat liar. Ayunan harga juga diperparah oleh arus transaksi finansial—mulai dari opsi hingga ETF—yang ikut memperbesar volatilitas ketika headline berubah cepat.

Tanda-tanda pengetatan juga muncul dari China. Sejumlah kilang dilaporkan mulai membatalkan pengiriman ekspor produk olahan yang sudah disepakati, termasuk bensin dan diesel. Pengolah terbesar China disebut sudah diminta pekan lalu untuk menghentikan penandatanganan kontrak baru, dan arahan terbaru ini dinilai lebih ketat dibanding pedoman sebelumnya.

Di tengah itu semua, Selat Hormuz—jalur yang biasanya membawa sekitar seperlima aliran minyak dunia—masih efektif tertutup. Kondisi ini memaksa produsen utama Teluk memangkas output, sementara harga gas alam dan produk seperti diesel ikut melonjak. Setelah Brent dan WTI sempat mendekati US$120 pada Senin lalu sebelum terkoreksi, pasar kembali mengalami “whiplash” atau ayunan tajam sepanjang pekan ini.

Goldman Sachs memperingatkan harga minyak bisa melampaui puncak 2008 jika arus melalui Hormuz tetap tertekan hingga Maret. Brent pernah mencapai sekitar US$147,50 pada 2008, didorong permintaan tinggi dan pasokan yang stagnan. Intinya, jika jalur pengiriman tak pulih, tekanan pasokan bisa memaksa harga bergerak ke rezim yang lebih tinggi.

Sejumlah analis menilai kunci penurunan harga minyak tetap ada pada normalisasi Hormuz. Neil Beveridge dari Sanford C. Bernstein menegaskan satu-satunya faktor yang benar-benar bisa menurunkan harga adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Menurutnya, laju aliran dari cadangan strategis “tidak sebanding” dengan gangguan sekitar 20 juta barel per hari akibat penutupan selat—sehingga rilis cadangan hanya menjadi penahan sementara, bukan solusi struktural.

Dari sisi operasional, Irak sempat menghentikan aktivitas terminal minyaknya setelah tanker diserang, sementara Oman mengevakuasi kapal-kapal dari Mina Al Fahal sebagai langkah pencegahan—terminal yang disebut menjadi salah satu dari sedikit pelabuhan tersisa untuk menyalurkan crude Timur Tengah ke pasar global. Operasi kemudian dilaporkan kembali normal, tetapi insiden ini menambah premi risiko pelayaran.

Pemangkasan output sudah terjadi bertahap sejak Hormuz nyaris tertutup, dimulai dari Irak dan kemudian diikuti Kuwait serta Arab Saudi. Tekanan inilah yang memaksa IEA mengumumkan rilis terkoordinasi 400 juta barel, dan AS juga menyatakan rencana melepas 172 juta barel. Namun pasar menilai dampaknya masih kalah oleh realitas perang: konsumsi crude global sedikit di atas 100 juta barel per hari, sementara produsen Teluk sejauh ini sudah memangkas sekitar 6% dari total itu—dan potensi pemangkasan lanjutan masih terbuka.

Sebagian pelaku pasar bahkan menilai rilis IEA berisiko mengirim sinyal yang keliru. Ada kekhawatiran pasar “membaca” bahwa otoritas tahu sesuatu yang lebih buruk, karena setelah pengumuman rilis, harga justru kembali naik. Sentimen ini memperkuat tema utama minggu ini: pasar tak hanya menilai pasokan, tapi juga keamanan pelayaran dan ketidakpastian durasi perang.

Di sisi diplomasi, Iran disebut menyampaikan kepada perantara regional bahwa gencatan senjata mensyaratkan AS menjamin bahwa Washington maupun Israel tidak akan menyerang Iran di masa depan—syarat yang dinilai kecil kemungkinan diterima. Presiden Donald Trump kembali mengatakan perang akan segera berakhir, namun juga mengisyaratkan AS akan bertahan selama diperlukan untuk menyelesaikan tujuannya.

Pada perdagangan terbaru di London, Brent untuk pengiriman Mei naik sekitar 6,4% ke US$97,90 per barel, sementara WTI untuk April menguat sekitar 6,1% ke US$92,60 per barel—menggambarkan bahwa pasar masih menempel ketat pada headline Hormuz dan risiko pasokan, meski rilis cadangan darurat sudah digelontorkan.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 11 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Data Inflasi Inti AS Stabil, Pasar Tunggu Arah Kebijakan Fed

 

PT Equityworld Futures Semarang – Inflasi inti Amerika Serikat menunjukkan tanda stabil pada Februari 2026. Core CPI tahunan tercatat 2,5%, tidak berubah dari bulan sebelumnya dan tetap berada di dekat level terendah sejak 2021. Sementara itu, secara bulanan core CPI naik 0,2%, lebih rendah dibandingkan kenaikan 0,3% pada Januari, menandakan tekanan harga inti masih terkendali.

Di sisi lain, inflasi utama atau headline CPI tercatat 2,4% secara tahunan, sama seperti Januari, sedangkan secara bulanan naik 0,3%. Data ini memberi sinyal bahwa inflasi AS belum kembali memanas, tetapi juga belum cukup lemah untuk mendorong perubahan besar pada ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Bagi pasar, angka ini cenderung dibaca netral: dolar AS berpotensi bergerak terbatas, sementara emas bisa mendapat sedikit ruang apabila pelaku pasar melihat tekanan inflasi inti mulai mereda.

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 10 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Nikkei Melonjak 3% Dipimpin Real Estat dan Perbankan

 

PT Equityworld Futures Semarang – Saham Jepang menguat pada penutupan perdagangan Selasa(10/3), dengan Indeks Nikkei 225 naik 3,00% seiring reli dipimpin sektor real estat, perbankan, dan tekstil. Kenaikan yang luas tercermin dari dominasi saham yang menguat di Bursa Efek Tokyo, dengan 3.318 saham naik berbanding 400 turun, sementara 99 stagnan.

Penguatan paling menonjol datang dari saham teknologi dan industri tertentu. Lasertec melesat 14,53% ke 34.770, disusul Sumitomo Electric yang naik 8,83% ke 9.931 dan Furukawa Electric yang naik 8,52% ke 27.455, menandai minat beli kuat pada saham-saham berkapitalisasi besar dan sensitif siklus.

Di sisi lain, beberapa emiten melemah meski indeks menguat. Rohm turun 5,15% ke 3.295, Shift melemah 4,13% ke 715,50, dan Nitori turun 2,96% ke 2.803, menunjukkan rotasi sektor masih terjadi di tengah reli yang tidak sepenuhnya merata.

Di balik penguatan ekuitas, ukuran risiko pasar juga meningkat. Indeks Volatilitas Nikkei naik 38,86% ke 57,00, mencetak level tertinggi baru dalam enam bulan. Kenaikan volatilitas ini mengindikasikan pelaku pasar tetap memasang premi perlindungan (hedging) meski harga saham naik, sejalan dengan kondisi global yang masih bergerak cepat.

Pasar komoditas turut menjadi latar penting sesi ini. Minyak WTI turun 6,12% ke US$88,97 per barel dan Brent turun 6,01% ke US$93,01, sementara emas naik 1,63% ke US$5.186,76 per troy ounce. Di pasar valuta, USD/JPY turun 0,13% ke 157,56 dan EUR/JPY turun 0,09% ke 183,31, dengan Indeks Dolar AS berjangka melemah 0,48% ke 98,69.

PT Equityworld Futures Semarang 

Senin, 09 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Safe Haven vs Inflasi Energi, Siapa Menang?

 

PT Equityworld Futures Semarang – Pergerakan emas cenderung “ditarik” oleh dua kekuatan yang saling bertabrakan: di satu sisi, eskalasi perang di Timur Tengah bikin permintaan safe haven tetap ada; tapi di sisi lain, lonjakan minyak yang ekstrem justru memicu kekhawatiran inflasi kembali naik, sehingga pasar menilai The Fed bisa menahan suku bunga tinggi lebih lama. Kombinasi “oil shock → fear inflasi → suku bunga lebih tinggi lebih lama” ini biasanya jadi angin lawan untuk emas, karena emas adalah aset non-yielding yang kurang menarik ketika yield naik.

Tekanan makin terasa ketika dolar AS ikut menguat. Dalam kondisi gejolak global, dolar sering jadi safe haven “saingan” emas karena sangat likuid dan jadi tempat parkir dana cepat. Jadi meskipun headline perang biasanya mendukung emas, efek turunan perang yang mengangkat dolar dan yield bisa membuat emas sulit reli. Ditambah lagi, ketika pasar saham dan aset berisiko bergejolak, emas kadang ikut dijual sebagai sumber likuiditas—bukan karena narasi safe haven hilang, tapi karena sebagian pelaku pasar butuh cash untuk menutup margin/kerugian di instrumen lain.

Secara teknikal, bias intraday emas masih rapuh selama harga tertahan di bawah area psikologis sekitar 5.100-an dan dolar/yield belum mendingin. Zona support dekat yang paling banyak dipantau berada di kisaran 5.100–5.070; kalau area ini jebol dan tekanan minyak-yield tetap kuat, emas berisiko memperpanjang koreksi ke support berikutnya yang lebih bawah. Sebaliknya, jika area tersebut bertahan, biasanya pasar akan melihatnya sebagai “lantai” untuk rebound jangka pendek, apalagi kalau muncul arus buy-on-dip.

Dari sisi resistance, pantulan pertama yang wajar biasanya mengarah ke area 5.200-an. Namun untuk menembus lebih tinggi dan mempertahankan reli, emas umumnya butuh katalis yang menurunkan tekanan makro—misalnya dolar melemah atau yield turun—bukan cuma berita perang. Setelah itu, resistance lanjutan berada di area yang lebih tinggi (sekitar 5.240–5.310), yang biasanya baru teruji kalau market masuk fase “relief” dan risk premium perang mulai stabil.

Kesimpulannya, emas hari ini sangat “headline-driven”: eskalasi perang tetap jadi penopang bawah, tetapi selama lonjakan minyak memicu ketakutan inflasi dan membuat dolar/yield menguat, ruang naik emas cenderung terbatas dan volatilitas tetap tinggi. Cara bacanya simpel: selama pasar masih menganggap konflik ini lebih “inflationary” daripada sekadar “risk-off”, emas akan bergerak rumit—bisa memantul sebagai safe haven, tapi sering tertahan oleh dolar dan yield yang lebih dominan.

PT Equityworld Futures Semarang 

Jumat, 06 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Terkoreksi Tipis Jelang NFP

 

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks dolar (DXY) turun sekitar 0,3% ke 99,02 pada Jumat (6/3) ketika harga minyak melemah dan pasar menunggu rilis nonfarm payrolls (NFP) AS. Koreksi minyak terjadi setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan langkah “stop-gap” untuk meredakan tekanan pasokan energi terkait konflik Timur Tengah, mengurangi dorongan safe-haven dolar di awal sesi.

EUR/USD bergerak sedikit menguat. Euro berada di sekitar 1,1607–1,1619 (sekitar +0,1%), meski masih berada dalam tekanan mingguan karena pasar menilai lonjakan biaya energi dapat membebani prospek Eropa, sementara data AS membuat ekspektasi penurunan suku bunga Fed lebih hati-hati.

GBP/USD menguat tipis ke sekitar 1,3364–1,3369 (sekitar +0,1%). Sterling tetap sensitif terhadap risiko inflasi energi, tetapi rebound kecil mencerminkan pelemahan dolar jelang NFP dan pemulihan risk appetite yang terbatas saat minyak koreksi.

AUD/USD ikut menguat di area 0,7038 (sekitar +0,43% dari penutupan sebelumnya 0,7008), sejalan dengan pelemahan dolar dan meredanya tekanan minyak. Namun, Aussie tetap rentan bila NFP memperkuat narasi “Fed lebih ketat lebih lama”.

USD/JPY relatif datar di sekitar 157,60 (sekitar +0,04%), menandakan yen belum mendapat dorongan kuat meski DXY melemah, karena pasar masih menimbang kombinasi yield AS, volatilitas geopolitik, dan risiko intervensi Jepang.

USD/CHF melemah tipis ke sekitar 0,7803 (sekitar -0,12%), menunjukkan franc sedikit menguat terhadap dolar saat tekanan safe-haven mereda bersama koreksi minyak. Meski begitu, dolar tetap mencatat kinerja mingguan kuat karena konflik Iran dan repricing suku bunga.

PT Equityworld Futures Semarang 

Kamis, 05 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Bursa Eropa Melemah, Geopolitik Iran dan Spanyol Tekan Sentimen

 

PT Equityworld Futures Semarang – Saham-saham Eropa kembali dibuka di zona merah pada Kamis (5/3) ketika pelaku pasar terus memantau eskalasi perang AS–Israel melawan Iran. Indeks Stoxx 600 turun 0,4% tak lama setelah pembukaan, dengan FTSE 100 melemah 0,3%, DAX turun sekitar 0,6%, dan CAC 40 terkoreksi 0,5%.

Spanyol ikut tertekan, dengan IBEX turun 0,4% di awal perdagangan. Pasar memberi perhatian khusus pada Madrid setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memutus seluruh perdagangan dengan Spanyol karena menolak mengizinkan pangkalan militernya dipakai untuk serangan terhadap Iran.

Secara sektoral, pelemahan menyebar luas. Hampir seluruh sektor utama bergerak negatif, kecuali Oil & Gas, Utilities, serta Food & Beverages yang relatif bertahan, mencerminkan preferensi defensif di tengah ketidakpastian geopolitik.

Konflik Timur Tengah tetap menjadi jangkar risiko. Israel meluncurkan serangan baru ke Teheran pada Rabu, sementara menteri pertahanannya menyatakan akan “menghancurkan” kapabilitas rezim Iran. Di saat yang sama, AS menyebut telah menghancurkan 17 kapal Iran dan hampir 2.000 target.

Di luar geopolitik, agenda pasar juga diwarnai laporan keuangan dari Merck, DHL Group, Reckitt Benckiser, Galderma Group, dan Universal Music Group, serta rilis data penjualan ritel terbaru Uni Eropa yang berpotensi memengaruhi sentimen domestik kawasan.

PT Equityworld Futures Semarang 

Rabu, 04 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Bitcoin Menguat, Trump Dorong “Crypto Agenda”

 

PT Equityworld Futures Semarang – Bitcoin kembali menguat pada Rabu (4/3), mendapat dukungan terbatas dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mendorong dukungan regulasi lebih baik bagi industri aset kripto. Meski demikian, kekhawatiran terkait konflik AS–Iran dan potensi dampaknya terhadap inflasi membuat reli kripto dinilai masih rapuh.

Pada 04:04 ET, Bitcoin naik sekitar 4% ke US$71.224. Penguatan ini datang setelah pasar sempat bergerak hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pada aset berisiko.

Trump, melalui unggahan media sosial pada Selasa malam, mengkritik bank-bank besar AS yang dinilainya berupaya melemahkan GENIUS Act—regulasi stablecoin—dengan menahan laju pengesahan CLARITY Act di Senat. Trump menilai dukungan regulasi diperlukan agar agenda kripto AS tidak “berpindah” ke negara lain jika proses legislasi tersendat, serta mendorong bank untuk membuat kesepakatan dengan industri kripto.

Dari sisi makro, pasar tetap dibayangi risiko inflasi jika konflik berujung pada gangguan pasokan minyak global. Inflasi yang lebih “lengket” berpotensi menjaga ekspektasi kebijakan moneter tetap ketat, yang biasanya menekan aset berisiko melalui kanal suku bunga riil dan kondisi likuiditas.

Koin utama lain ikut menguat namun pergerakannya tidak seragam. Ether naik 4% ke US$2.062,77 sementara XRP naik tipis ke US$1,3594. Solana dan BNB terangkat lebih dari 2%, sedangkan Cardano naik sekitar 3,4%. Di segmen meme token, Dogecoin melemah 2,6% dan $TRUMP turun 3,4%.

Pelaku pasar akan memantau perkembangan konflik AS–Israel–Iran, dinamika harga minyak yang memengaruhi ekspektasi inflasi, serta arah pembahasan regulasi kripto di AS—khususnya kelanjutan GENIUS Act dan CLARITY Act—sebagai penentu sentimen berikutnya. 

PT Equityworld Futures Semarang 

Selasa, 03 Maret 2026

PT Equityworld Futures Semarang – Dolar Menguat, Pasar Valas Masuk Mode “Risk-Off”

Will Bitcoin Strengthen or Weaken US Dollar Dominance? | The Daily Economy 

PT Equityworld Futures Semarang – Indeks dolar AS (DXY) menguat di sesi Eropa hari Selasa (3/3) seiring meningkatnya permintaan safe-haven di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. DXY tercatat di sekitar 98,97, naik sekitar +0,59% pada hari ini, mempertegas dominasi dolar saat pelaku pasar mengurangi eksposur risiko.

Tekanan paling jelas terlihat pada GBP/USD, yang melemah ke kisaran 1,3336, turun sekitar -0,54%. Pelemahan pound mencerminkan kombinasi penguatan dolar dan perubahan preferensi investor ke aset defensif, di tengah kekhawatiran energi dan inflasi global yang kembali meningkat.

Sementara itu, EUR/USD merosot menuju level terendah sejak pertengahan Januari. Di sesi Eropa, euro diperdagangkan sekitar 1,1622–1,1662, dengan penurunan harian sekitar -0,21% hingga -0,56%, seiring pasar menilai risiko guncangan energi yang dapat menekan pemulihan ekonomi kawasan dan mempersulit jalur inflasi.

Di Asia hingga berlanjut ke Eropa, USD/JPY bertahan tinggi di sekitar 157,53, menguat tipis sekitar +0,08%. Yen kembali sensitif terhadap lonjakan biaya energi (Jepang sebagai importir), sementara penguatan dolar tetap mendapat dukungan dari repricing ekspektasi suku bunga AS dan arus safe-haven.

Untuk mata uang defensif lainnya, USD/CHF menguat ke sekitar 0,7843, naik sekitar +0,64%, menandakan dolar saat ini lebih “dipilih” pasar dibanding haven tradisional. Di saat yang sama, AUD/USD bergerak relatif stabil di 0,7091, turun tipis sekitar -0,04%, karena dolar Australia tertahan oleh sentimen risk-off meski Australia diuntungkan sebagai eksportir energi. 

PT Equityworld Futures Semarang