Jumat, 28 Februari 2025

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Jatuh 2% : Terparah Dalam 3 Tahun! Ini Penjelasan Analis

IHSG Berpotensi Masih Menguat Tipis Hari Ini, Rabu (19/2)

PT Equityworld Futures Semarang –  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun ke bawah level 6400 akibat perang dagang ditambah rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menggunakan cut off closing Jumat hari ini (28/2/2025).

CNBC Indonesia memantau pada perdagangan hari ini sampai pukul 10.51 WIB, IHSG jatuh 159,48 poin atau 2,46% ke posisi 6,325.97

Jika pelemahan IHSG bertahan sampai akhir sesi, ini akan melanjutkan tren merah selama dua hari beruntun dan menandai posisi paling lebih dari tiga tahun.

 

 Barra Kukuh Mamia, Ekonom dari Bank Central Asia (BCA) melihat penyebab dari IHSG yang semakin merah ini masih disebabkan rebalancing MSCI dan sentimen risk-off terkatit tarif Trump.

"Ini masih rebalancing sepertinya ya.. kalau beberapa hari terakhir yang merah bukan cuma Indonesia, tapi global juga. Kebanyakan bursa merah kecuali Jepang dan China" ungkap Barra.

Pada hari ini tercatat akan menjadi cutt off untuk rebalancing indeks MSCI dan akan efektif per 3 Maret 2025. Diketahui, MSCI telah mengurangi bobot Indonesia dari 2,2% menjadi 1,5% selama kurun waktu lima tahun terakhir.

Sebelumnya, MSCI telah memangkas jumlah konstituen saham Indonesia secara bertahap. Dalam rebalancing terbarunya, MSCI tidak menambah saham baru di kategori large cap Indonesia, tetapi justru mengeluarkan tiga saham yakni PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). MDKA dan INKP kini masuk ke kategori small cap, sedangkan UNVR dikeluarkan sepenuhnya dari daftar konstituen MSCI. Perubahan ini mempersempit cakupan investasi asing di pasar saham domestik.

Dampak pemangkasan bobot Indonesia dalam MSCI ini juga semakin terasa dengan penurunan peringkat saham Indonesia dari equal-weight (EW) menjadi underweight (UW). Morgan Stanley mencatat bahwa tren return on equity (ROE) saham-saham Indonesia terus melemah akibat perlambatan ekonomi dan tekanan terhadap sektor siklikal. Dengan rebalancing yang makin menggerus bobot saham Indonesia, investor diharapkan mencermati aliran dana asing dan volatilitas yang berpotensi meningkat dalam waktu dekat.

Lebih lanjut Barra juga menerangkan soal risk off terkait Tarif Trump yang kabarnya akan dipercepat ke Kanada dan Meksiko, ditambah lagi ke China.

Presiden Trump kembali mempertegas tabuhan genderang perang dagangnya dengan mengumumkan tarif baru terhadap Meksiko dan Kanada sebesar 25% akan mulai berlaku pada 4 Maret, sementara China akan dikenakan tambahan tarif 10% pada tanggal yang sama. Keputusan ini memperkuat kebijakan proteksionisme ekonomi yang menjadi ciri khas pemerintahannya, sekaligus menambah ketidakpastian di pasar global.

Sebagai catatan, pada 4 Maret 2025 adalah pekan pertama di bulan Ramadhan sehingga kebijakan Trump ini diyakini berdampak besar terhadap pasar keuangan pekan tersebut.

Kebijakan tarif ini sebelumnya sempat ditangguhkan pada 3 Februari untuk jangka waktu satu bulan, yang menyebabkan kebingungan tentang apakah tarif akan kembali diberlakukan atau tidak setelah periode penundaan berakhir.

Dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Kamis(27/2/2025), Trump memastikan bahwa tarif tersebut akan berjalan sesuai jadwal.

Dalam pernyataannya, Trump mengeklaim bahwa perdagangan narkotika ilegal dari Meksiko dan Kanada ke AS masih berada pada tingkat yang sangat tinggi dan tidak dapat diterima, meskipun kedua negara telah berjanji untuk meningkatkan pengawasan di perbatasan mereka.

"Kami tidak bisa membiarkan ancaman ini terus merusak AS. Oleh karena itu, hingga masalah ini berhenti atau setidaknya sangat dibatasi, tarif yang dijadwalkan untuk diberlakukan pada 4 Maret akan tetap berlaku, seperti yang telah dijadwalkan sebelumnya," tulis Trump, sebagaimana dikutip dari CNBC International.

Di sisi lain, data ekonomi AS juga melemah dan ada spekulasi soal stagflasi. Sentimen risk off ini kemudian terlihat dari indeks dolar AS (DXY) yang menguat lagi.

CNBC Indonesia memantau dalam tiga hari ini the greenback mencatat kenaikan beruntun. Dan pada hari ini sampai pukul 10.25 terpantau berada di posisi 107,35, menguat 0,07% sejak pembukaan.

Seiring dengan menguatnya the greenback, mata uang Garuda pun merespon dengan semakin melemah. Hal tersebut terjadi lantaran aliran dana keluar asing masih deras.

Enrico Tanuwidjaja, ASEAN Economist di UOB juga melihat bahwa dampak dari DXY yang terus menguat ini juga memukul pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street.

Selain dampak eksternal, Hosianna Situmorang,Ekonom Bank Danamon mengatakan ada dampak dari penyesuaian kebijakan baru di domestik sehingga outflow tidak terhindarkan.

Hossiana mengharapkan penerapan Devisa Hasil Ekspor (DHE) nanti bisa membantu arah perbaikan bagi rupiah terhadap dolar AS.

PT Equityworld Futures Semarang

 

Kamis, 27 Februari 2025

PT Equityworld Futures Semarang – Futures gas alam lebih tinggi selama masa dagang Eropa

Potensi Sumber Energi Panas Bumi atau Gas Alam yang Sangat Besar di  Indonesia

PT Equityworld Futures Semarang – Futures gas alam lebih tinggi selama masa dagang Eropa pada Kamis.

Pada New York Mercantile Exchange, Futures gas alam untuk penyerahan April diperdagangkan pada USD3,98 per mmBTU pada waktu penulisan, meningkat 0,45%.

Instrumen ini sebelumnya diperdagangkan sesi tinggi USD per mmBTU. Gas alam kemungkinan akan mendapat support pada USD3,860 dan resistance pada USD4,444.

Indeks Dolar AS Berjangka yang memantau kinerja greenback versus keranjang enam mata uang utama lainnya, naik 0,21% dan diperdagangkan pada USD106,55.

Sementara itu di Nymex, Minyak metah untuk penyerahan April naik 0,92% dan diperdagangkan pada USD69,25 per barrel sedangkan Heating oil untuk penyerahan April naik 0,73% dan diperdagangkan pada USD2,31 per galon.

PT Equityworld Futures Semarang

Rabu, 26 Februari 2025

PT Equityworld Futures Semarang – Harga Emas Jeblok 1,2% Karena Investor Mulai Serakah: Hati-Hati!

Harga Emas Antam Melonjak Jadi Rp1,620 Juta per Gram - Suara Surabaya

PT Equityworld Futures Semarang – Usai menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa, harga emas dunia harus terjun bebas karena aksi taking profit alias ambil untung oleh sebagian investor. Kekhawatiran perang dagang yang terus berlanjut hingga ucapan sosok investor hebat dunia Warren Buffet tentang kehati-hatian dalam berinvestasi emas mendorong penurunan harga emas.

Pada perdagangan  Selasa (25/2/2025), harga emas dunia di pasar spot jatuh 1,2% di level US$2.916,59 per troy ons. Pelemahan ini menghapus catatan impresif emas yang mencetak rekor pada perdagangan Senin.

Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terendah dalam sepekan terakhir.

Pada perdagangan hari ini Rabu (26/2/2025) hingga pukul 06.28 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,% di posisi US$2.913,6 per troy ons.

 

Harga emas turun ke level terendah dalam lebih dari seminggu pada perdagangan Selasa, karena investor membukukan keuntungan setelah mencapai rekor tertinggi pada sesi sebelumnya yang didorong oleh kekhawatiran yang terus berlanjut akan ketidakstabilan seputar rencana tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Peringatan keras mengenai harga emas disampaikan Lee Baker, perencana keuangan bersertifikat. Dia mengingatkan dalam kondisi emas yang melonjak saat ini, investor mesti mengingat pepatah klasik dari ahli investasi sekaligus investor terkenal di dunia Warren Buffett. Menurutnya, investor sebaiknya mengingat aturan klasik dari Warren Buffett yakni tidak boleh tamak atau serakah.

"Takutlah saat orang lain tamak, dan tamaklah saat orang lain takut."

Lee Baker mengatakan bahwa dia tidak menerima panggilan dari klien tentang emas tahun lalu. Sekarang, dia menerima panggilan tersebut secara berulang.

"Menurut saya, semua orang mulai tamak dalam hal emas," ujar Baker, pemilik dan presiden Claris Financial Advisors, yang berkantor pusat di Atlanta, dan anggota Dewan Penasihat CNBC International.

Baker mengingatkan investor pada umumnya tidak boleh memiliki alokasi emas yang melebihi 3% dari portofolio yang terdiversifikasi.

Investor yang tergoda oleh keuntungan yang tinggi mungkin bereaksi spontan dan membeli sejumlah besar emas (secara harfiah atau kiasan), dan dalam prosesnya, melakukan kesalahan investasi umum dengan membeli saat harga tinggi dan menjual saat harga rendah.

"Jika Anda ingin menghasilkan uang dengan emas, Anda perlu membeli dan menjualnya, dan mudah-mudahan menjualnya pada waktu yang tepat. Dan jika Anda baru masuk sekarang, apakah Anda membeli saat harga sedang tinggi? Saya tidak tahu." ujar Baker.

Di sisi lain, investor dan ekonom memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) AS akan merespons dengan kuat dan sistematis terhadap perubahan inflasi dan pasar tenaga kerja, menurut penelitian yang diterbitkan pada hari Senin oleh San Francisco The Fed.

Inflasi yang lebih tinggi dapat memaksa The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi, sehingga menodai daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Investor kini menunggu rilis laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi Amerika Serikat atau pCE pada Jumat pekan ini. PCE adalah pertimbangan utama The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.

PT Equityworld Futures Semarang