PT Equityworld Futures Semarang – Sebagian besar mata uang Asia turun sedikit pada hari Rabu karena data semalam yang kuat mendorong dolar, sementara dolar Australia naik tajam karena angka inflasi yang kuat memicu ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan November.Hal ini membuat pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga ketika bank akan bertemu pada tanggal 7 November. Analis ANZ sekarang memperkirakan kenaikan 25 basis poin di bulan November, dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya untuk kenaikan di bulan Desember.
Australian dollar melonjak 0,5% karena data inflasi yang kuat memicu ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan November. Hal ini membuat pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga ketika Reserve Bank of Australia (RBA) akan bertemu pada tanggal 7 November.
Optimisme terhadap China, mitra dagang terbesar Australia, juga mendukung dolar Australia. Beijing mengumumkan penerbitan obligasi senilai 1 triliun yuan untuk mendanai pembangunan infrastruktur, yang diperkirakan akan mendorong peningkatan permintaan komoditas, terutama logam.
South Korean won turun 0,3% karena data menunjukkan kepercayaan konsumen memburuk di bulan Oktober.
Indian rupee turun 0,1%, tetapi mengalami sedikit kelegaan karena harga minyak jatuh minggu ini.
Japanese yen bergerak sedikit dan tetap berada di dekat level 150 terhadap dolar AS. Jika yen mencapai level tersebut, diperkirakan akan menarik intervensi di pasar mata uang oleh pemerintah Jepang.
Dolar AS tetap stabil di Asia setelah data menunjukkan bahwa aktivitas bisnis AS tumbuh di bulan Oktober. Federal Reserve memiliki lebih banyak ruang untuk menaikkan suku bunga karena ketahanan ekonomi yang berkelanjutan.
Jerome Powell, Ketua Federal Reserve, akan berbicara pada sebuah konferensi, setelah minggu lalu dia menegaskan bahwa suku bunga AS akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Laporan data produk domestik bruto AS akan dirilis pada hari Kamis.
Kenaikan suku bunga di Australia dan outlook positif terhadap perekonomian AS dapat memengaruhi pergerakan mata uang di wilayah Asia. Selain itu, intervensi pemerintah Jepang di pasar mata uang untuk menjinakkan yields yang tinggi dapat berdampak pada nilai yen. Pada saat yang sama, perubahan dalam hubungan dagang AS-China dan kondisi ekonomi global juga merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi mata uang Asia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar