
PT Equityworld Futures Semarang – Harga komoditas utama seperti minyak sawit mentah (CPO), kakao, dan kopi mengalami kenaikan signifikan. Hal ini dipicu oleh sejumlah faktor yang mempengaruhi pasokan dan permintaan global. Berikut ulasan lengkap mengenai dinamika harga ketiga komoditas tersebut.
Harga CPO Melonjak
Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) mencatatkan tren kenaikan. Pada Senin (23/9/2024), harga CPO di Bursa Malaysia untuk kontrak pengiriman Desember ditutup di MYR 3.977/ton, naik 0,76% dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya. Kenaikan ini menandai penguatan harga CPO selama empat hari berturut-turut dengan lonjakan sebesar 6,67% dalam sepekan terakhir.
Research and Development ICDX, Girta Yoga, memprediksi tren kenaikan harga CPO akan berlanjut pekan ini. "Ketatnya pasokan CPO di pasar global serta kebijakan ekspor dan mandatori biodiesel di Indonesia dan Malaysia menjadi pendorong utama," kata Yoga seperti dikutip Investor Daily. Ia juga menunjukkan bahwa penurunan produksi CPO di Malaysia sebesar 4% pada awal September serta proyeksi penurunan produksi di Indonesia sebesar 1 juta ton tahun ini turut mempengaruhi harga.
Penurunan bea ekspor CPO oleh pemerintah Indonesia pada awal Oktober diharapkan akan meningkatkan permintaan dari China, sementara permintaan dari India diprediksi menurun akibat kenaikan pajak impor minyak nabati dan CPO hingga 20%.
Kenaikan Harga Kakao
Harga kakao juga mengalami kenaikan, dengan harga kakao Desember ICE NY naik +128 (+1,67%) pada Senin lalu. Hal ini dipicu oleh penurunan produksi kakao di Pantai Gading, produsen terbesar di dunia. Data pemerintah menunjukkan bahwa pengiriman kakao dari petani Pantai Gading ke pelabuhan turun sebanyak 26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kakao juga mendapat dukungan dari penaikan harga yang dilakukan oleh pemerintah Ghana, meskipun besaran kenaikan tidak sesuai ekspektasi petani yang memicu potensial hoarding. Cuaca kering yang ekstrem di Afrika Barat, khususnya di Pantai Gading dan Ghana, telah mengurangi kelembaban tanah dan pertumbuhan tanaman, sehingga memperburuk prediksi produksi.
Pada sisi lain, peningkatan produksi kakao di Kamerun dan lonjakan ekspor kakao Nigeria menambah dinamika komoditas ini. Namun, ekstremnya penurunan ketersediaan stok kakao global yang dilaporkan oleh ICCO menjadi faktor bullish yang kuat.
Kopi Menguat Karena Kekhawatiran Cuaca
Harga kopi juga menunjukkan tren bullish, dengan arabica Desember naik +4,67% dan robusta November meningkat +3,97%. Kekeringan parah di Brazil, kondisi terburuk sejak 1981, telah merusak pohon kopi dan menurunkan prospek panen arabika untuk musim 2025/26. Selain itu, banjir akibat topan Yagi di Vietnam memperparah situasi, memengaruhi hasil panen robusta.
Prediksi penurunan produksi kopi robusta Vietnam sebesar 20% tahun ini dan pemotongan perkiraan produksi kopi Brazil oleh Conab juga berkontribusi pada kenaikan harga kopi.
Selain itu, meningkatnya ekspor kopi hijau Brazil dan kenaikan inventori kopi arabica di ICE menjadi faktor penyeimbang meskipun total produksi kopi global diprediksi naik oleh International Coffee Organization (ICO).
Secara keseluruhan, meski terdapat variasi dalam kondisi dan faktor pendorong tiap komoditas, kenaikan harga CPO, kakao, dan kopi secara serentak menunjukkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca ekstrem, kebijakan pemerintah, dan fluktuasi pasokan global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar